Faktor Skor Besar di Liga Primer
Rabu, 23 September 2020 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Tidak kalah menarik adalah bagaimana tren keberanian dari tim tamu saat mereka menjalani laga tandang. Musim ini ada 61% pertandingan yang justru dimenangkan tim tuan rumah. Selain Man City yang mengalahkan Wolverhampton melalui gol Kevin de Bruyne pada menit ke-20 melalui titik penalti, Phil Foden (32) serta Gabriel Jesus di masa injury time, ada juga kemenangan Tottenham, Leicester, Palace, bahkan Brighton di luar tim besar.
Data ini berbanding lurus dengan jumlah rata-rata gol tim tandang musim ini. Jika “tuan rumah” hanya mencatatkan rata-rata 1,4, tim tamu memiliki 2,28 gol per laga. Bandingkan di musim lalu di mana dari rata-rata 2,72 gol per laga lebih banyak berhasil diciptakan tim tuan rumah: 1,52 berbanding 1,21 per laga. (Baca juga: Kasus Corona Capai 4.000 per Hari, IDI Berikan Solusi)
Fenomena ini kemungkinan besar karena ketiadaan suporter di dalam stadion. Tanpa tekanan suporter, tim tamu bisa lebih bebas dan berani dalam bermain. Mereka tak perlu khawatir dengan teror dan intimidasi jika ada pendukung tim tuan rumah di dalam stadion.
Selain itu, tim tuan rumah juga tampil lebih berani sehingga memunculkan masalah di lini belakang. Saat ada suporter, bisa jadi tuan rumah menjadi lebih berhati-hati agar tidak kecolongan di awal dan menghindari frustrasi penonton sendiri. Minus pendukung, pemain lebih leluasa memperlihatkan gaya bermain mereka sebenarnya.
Contohnya Leeds. Seandainya mereka mendapat dukungan dari pendukung saat menghadapi Liverpool, hasil akhir bisa jadi berbeda. “Di Liga Primer, intensitas akan lebih besar dan akan memberi mereka dorongan besar. Sulit menghitung berapa nilai pendukung mereka. Tapi, saya jamin Elland Road penuh akan membuat perbedaan positif," kata Peter Crouch, mantan pemain timnas Inggris dan Liverpool.
Tanpa penonton untuk pertama kali dalam 16 tahun terakhir, sepak bola memang memunculkan banyak kerugian. Dari sisi hasil pertandingan memperlihatkan bagaimana sekarang tidak ada lagi beda antara tuan rumah dan tim tamu. Tuan rumah tidak mendapat motivasi ekstra dari pendukungnya dan tim tamu tak merasakan beban tekanan dari suporter rival. (Baca juga: Arab Saudi Siap-siap Cabut Larangan Umrah)
Data ini berbanding lurus dengan jumlah rata-rata gol tim tandang musim ini. Jika “tuan rumah” hanya mencatatkan rata-rata 1,4, tim tamu memiliki 2,28 gol per laga. Bandingkan di musim lalu di mana dari rata-rata 2,72 gol per laga lebih banyak berhasil diciptakan tim tuan rumah: 1,52 berbanding 1,21 per laga. (Baca juga: Kasus Corona Capai 4.000 per Hari, IDI Berikan Solusi)
Fenomena ini kemungkinan besar karena ketiadaan suporter di dalam stadion. Tanpa tekanan suporter, tim tamu bisa lebih bebas dan berani dalam bermain. Mereka tak perlu khawatir dengan teror dan intimidasi jika ada pendukung tim tuan rumah di dalam stadion.
Selain itu, tim tuan rumah juga tampil lebih berani sehingga memunculkan masalah di lini belakang. Saat ada suporter, bisa jadi tuan rumah menjadi lebih berhati-hati agar tidak kecolongan di awal dan menghindari frustrasi penonton sendiri. Minus pendukung, pemain lebih leluasa memperlihatkan gaya bermain mereka sebenarnya.
Contohnya Leeds. Seandainya mereka mendapat dukungan dari pendukung saat menghadapi Liverpool, hasil akhir bisa jadi berbeda. “Di Liga Primer, intensitas akan lebih besar dan akan memberi mereka dorongan besar. Sulit menghitung berapa nilai pendukung mereka. Tapi, saya jamin Elland Road penuh akan membuat perbedaan positif," kata Peter Crouch, mantan pemain timnas Inggris dan Liverpool.
Tanpa penonton untuk pertama kali dalam 16 tahun terakhir, sepak bola memang memunculkan banyak kerugian. Dari sisi hasil pertandingan memperlihatkan bagaimana sekarang tidak ada lagi beda antara tuan rumah dan tim tamu. Tuan rumah tidak mendapat motivasi ekstra dari pendukungnya dan tim tamu tak merasakan beban tekanan dari suporter rival. (Baca juga: Arab Saudi Siap-siap Cabut Larangan Umrah)
Lihat Juga :