Selalu Apes, Mou Coba Melawan Kutukan Klopp
Rabu, 16 Desember 2020 - 11:34 WIB
loading...
A
A
A
Petaka kemudian terjadi di musim 2018/2019. Mourinho gagal menyelesaikan kontrak tiga tahun bersama MU, karena diberhentikan di tengah jalan pada 18 Desember 2018 setelah hanya mendapatkan tujuh kemenangan dari 17 pertandingan. Klopp kemudian memberikan gelar Liga Champions pada pengujung musim. Setelah itu, pada 2019/2020, mantan pelatih Borussia Dortmund itu menghadirkan trofi Liga Primer yang sudah dinantikan dalam 30 tahun terakhir.
Entah ada hubungannya atau tidak, Mourinho seperti selalu menyindir Klopp. Menurut dia, tim-tim harus meniru apa yang dilakukan Liverpool dengan Klopp. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan Klopp dan Liverpool? Empat tahun, empat musim. Membeli salah satu penjaga gawang terbaik di dunia, membeli salah satu bek tengah terbaik di dunia, dan seterusnya, dan seterusnya,” kata Mourinho, pada Juli 2020 saat sudah ditunjuk menjadi pelatih Tottenham Hotspur.
Dia mengatakan, fokusnya adalah bagaimana menjalani tiga musim kontraknya dan bagaimana bisa memenangkan trofi dalam durasi tersebut. Bicara gelar, The Lilywhites terakhir kali mengangkat trofi Piala Liga musim 2007/2008. Sementara Liga Primer terjadi pada musim 1960/1961. "Saya fokus pada kontrak tiga tahun saya. Saya yakin dalam kontrak tiga tahun saya, kami bisa memenangkan trofi," tandasnya. (Baca juga: Masker Wajah Mirip Power Ranger Cegah Infeksi Covid-19)
Musim ini, Mourinho memperlihatkan harapan tersebut. Sampai matchday 12, Harry Kane dkk berada di puncak klasemen unggul agregat gol dari Liverpool. Laga dini hari nanti di Stadion Anfield menjadi momen Mourinho menghilangkan kutukan dan bayangan Klopp.
Mungkin, inilah salah satu pertemuan ideal untuk Mourinho melawan skuad Klopp. Selain head to head langsung dalam perebutan gelar juara, situasi kedua tim juga hampir mirip. Sama-sama memiliki tujuh kemenangan, empat imbang, dan menelan sekali kekalahan. Liverpool lebih baik dari sisi produktivitas gol, sedangkan Tottenham didukung lini pertahanan yang rapat. Keduanya juga sama-sama menelan hasil imbang di pekan ke-12.
Liverpool bermain imbang 1-1 melawan Fulham, pun dengan Tottenham yang berbagi angka 1-1 menghadapi Crystal Palace. "Kami tidak senang dengan hasil 1-1, tapi tidak apa-apa, itu memberi kami bahan bakar untuk Rabu dan kami siap bermain lagi," ungkap pemain tengah Tottenham Pierre-Emile Hojbjerg. (Baca juga: Guardiola: Arsenal Harus Percaya Pada Arteta)
Entah ada hubungannya atau tidak, Mourinho seperti selalu menyindir Klopp. Menurut dia, tim-tim harus meniru apa yang dilakukan Liverpool dengan Klopp. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan Klopp dan Liverpool? Empat tahun, empat musim. Membeli salah satu penjaga gawang terbaik di dunia, membeli salah satu bek tengah terbaik di dunia, dan seterusnya, dan seterusnya,” kata Mourinho, pada Juli 2020 saat sudah ditunjuk menjadi pelatih Tottenham Hotspur.
Dia mengatakan, fokusnya adalah bagaimana menjalani tiga musim kontraknya dan bagaimana bisa memenangkan trofi dalam durasi tersebut. Bicara gelar, The Lilywhites terakhir kali mengangkat trofi Piala Liga musim 2007/2008. Sementara Liga Primer terjadi pada musim 1960/1961. "Saya fokus pada kontrak tiga tahun saya. Saya yakin dalam kontrak tiga tahun saya, kami bisa memenangkan trofi," tandasnya. (Baca juga: Masker Wajah Mirip Power Ranger Cegah Infeksi Covid-19)
Musim ini, Mourinho memperlihatkan harapan tersebut. Sampai matchday 12, Harry Kane dkk berada di puncak klasemen unggul agregat gol dari Liverpool. Laga dini hari nanti di Stadion Anfield menjadi momen Mourinho menghilangkan kutukan dan bayangan Klopp.
Mungkin, inilah salah satu pertemuan ideal untuk Mourinho melawan skuad Klopp. Selain head to head langsung dalam perebutan gelar juara, situasi kedua tim juga hampir mirip. Sama-sama memiliki tujuh kemenangan, empat imbang, dan menelan sekali kekalahan. Liverpool lebih baik dari sisi produktivitas gol, sedangkan Tottenham didukung lini pertahanan yang rapat. Keduanya juga sama-sama menelan hasil imbang di pekan ke-12.
Liverpool bermain imbang 1-1 melawan Fulham, pun dengan Tottenham yang berbagi angka 1-1 menghadapi Crystal Palace. "Kami tidak senang dengan hasil 1-1, tapi tidak apa-apa, itu memberi kami bahan bakar untuk Rabu dan kami siap bermain lagi," ungkap pemain tengah Tottenham Pierre-Emile Hojbjerg. (Baca juga: Guardiola: Arsenal Harus Percaya Pada Arteta)
Lihat Juga :