Petaka Lini Depan Manchester City
Jum'at, 18 Desember 2020 - 17:02 WIB
loading...
A
A
A
Mengingat kurangnya kreativitas di depan gawang Manchester City terjadi lantaran absennya Sergio Aguero, dan itu tampaknya logis untuk menghubungkan keduanya. Menurut data Opta menunjukkan bahwa rekor City dengan dan tanpa penyerang Argentina sejak Agustus 2011 sangat mirip.
Ketika Aguero tampil dalam 266 di Liga Primer Inggris, City memiliki rata-rata 2,2 poin dan 2,3 gol per pertandingan, angka-angka itu tetap sama untuk 88 pertandingan yang dia lewatkan, sementara persentase kemenangan tim sebenarnya naik menjadi 69,3 dari 66,9. Tetapi data yang dikeluarkan XG, masalah yang sebenarnya terjadi adalah menciptakan peluang.
Kevin De Bruyne tentu saja tetap menjadi bintang yang bisa diandalkan, sebagaimana dibuktikan dengan 10 assistnya dalam 15 penampilan di semua kompetisi. Dia berada di jalur yang tepat untuk melampaui 22 dari 48 pertandingan musim lalu. Tapi pemain Belgia itu tampaknya memainkan peran yang berbeda. Apakah ini untuk mengkompensasi keluarnya David Silva atau untuk produktivitas pemain yang berpikiran menyerang menurun?
Ini masih belum jelas, tetapi peta panas musimnya menunjukkan De Bruyne beroperasi hampir sama di seluruh sepertiga terakhir. Pada 2019-20, dia paling berpengaruh di sayap kanan. Kreativitasnya menurun, meski ia masih memainkan 3,51 umpan kunci per 90 menit di liga (4,51 pada 2019/2020). Namun, itu di depan gawang di mana pengaruhnya paling menurun, karena De Bruyne hanya mencetak dua gol sepanjang musim, atau sekali setiap 591 menit, dan keduanya merupakan penalti.
Masalah bagi City adalah, meskipun De Bruyne terus memikul beban, pemain lain yang diharapkan bisa menciptakan di sepertiga akhir kesulitan.
Bernardo Silva (0,24 dari 2,26), Phil Foden (1,07 dari 1,82), Raheem Sterling (1,38 dari 1,62) semuanya memainkan lebih sedikit operan kunci per game daripada musim lalu, sementara pemain baru Ferran Torres (1,07). Satu-satunya pemain yang tampaknya tetap konsisten adalah Riyad Mahrez. Dia memainkan rata-rata 2,76 umpan kunci per 90 menit - itu 2,78 pada 2019-20.
Ketika Aguero tampil dalam 266 di Liga Primer Inggris, City memiliki rata-rata 2,2 poin dan 2,3 gol per pertandingan, angka-angka itu tetap sama untuk 88 pertandingan yang dia lewatkan, sementara persentase kemenangan tim sebenarnya naik menjadi 69,3 dari 66,9. Tetapi data yang dikeluarkan XG, masalah yang sebenarnya terjadi adalah menciptakan peluang.
Kevin De Bruyne tentu saja tetap menjadi bintang yang bisa diandalkan, sebagaimana dibuktikan dengan 10 assistnya dalam 15 penampilan di semua kompetisi. Dia berada di jalur yang tepat untuk melampaui 22 dari 48 pertandingan musim lalu. Tapi pemain Belgia itu tampaknya memainkan peran yang berbeda. Apakah ini untuk mengkompensasi keluarnya David Silva atau untuk produktivitas pemain yang berpikiran menyerang menurun?
Ini masih belum jelas, tetapi peta panas musimnya menunjukkan De Bruyne beroperasi hampir sama di seluruh sepertiga terakhir. Pada 2019-20, dia paling berpengaruh di sayap kanan. Kreativitasnya menurun, meski ia masih memainkan 3,51 umpan kunci per 90 menit di liga (4,51 pada 2019/2020). Namun, itu di depan gawang di mana pengaruhnya paling menurun, karena De Bruyne hanya mencetak dua gol sepanjang musim, atau sekali setiap 591 menit, dan keduanya merupakan penalti.
Masalah bagi City adalah, meskipun De Bruyne terus memikul beban, pemain lain yang diharapkan bisa menciptakan di sepertiga akhir kesulitan.
Bernardo Silva (0,24 dari 2,26), Phil Foden (1,07 dari 1,82), Raheem Sterling (1,38 dari 1,62) semuanya memainkan lebih sedikit operan kunci per game daripada musim lalu, sementara pemain baru Ferran Torres (1,07). Satu-satunya pemain yang tampaknya tetap konsisten adalah Riyad Mahrez. Dia memainkan rata-rata 2,76 umpan kunci per 90 menit - itu 2,78 pada 2019-20.
(mirz)
Lihat Juga :