Profil Michel Sablon, Si Pencetak Generasi Emas Timnas Belgia
Senin, 04 Oktober 2021 - 21:01 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, para pemain Belgia sejak awal menggunakan kaca mata yang pragmatis sehingga hanya memikirkan kemenangan. Tujuan itu, kata Sablon, ingin dicapai tanpa dibarengi kualitas yang mumpuni untuk bertahan di sebuah turnamen elite.
Sebagai direktur teknik, Sablon merekonstruksi sistem dalam sepak bola Belgia menjadi tak lagi pragmatis. Perubahan dimulai dari fondasi berpikir hingga meningkatkan keterampilan teknik individu serta merancang organisasi permainan melalui statistik.
Sablon menunjuk profesor Werner Helsen untuk memimpin studi yang melibatkan 1.500 jam pertandingan. Ia ingin Helsen menemukan bentuk yang baik lewat data yang dihasilkan oleh angka-angka dari jumlah sentuhan, akurasi umpan, tendangan, dan penguasaan bola.
"Angka menceritakan kisah yang sebenarnya," kata Sablon.
Sablon juga berkeliling negeri mencari bakat pemain muda sambil menggelar presentasi ke sekolah sepak bola milik klub-klub di Belgia. Pemain muda yang terjaring karena dianggap potensial, langsung diberikan latihan menggiring bola dan bertanding dalam tiga format: 2v2, 5v5, dan 8v8.
Revolusi juga dilakukan Sablon dengan penghapusan sistem ranking yang awalnya dianggap krusial. Pemain yang berusia tujuh sampai delapan tahun tidak dibebani tugas untuk menjadi yang terbaik di kelompoknya.
Sebagai direktur teknik, Sablon merekonstruksi sistem dalam sepak bola Belgia menjadi tak lagi pragmatis. Perubahan dimulai dari fondasi berpikir hingga meningkatkan keterampilan teknik individu serta merancang organisasi permainan melalui statistik.
Sablon menunjuk profesor Werner Helsen untuk memimpin studi yang melibatkan 1.500 jam pertandingan. Ia ingin Helsen menemukan bentuk yang baik lewat data yang dihasilkan oleh angka-angka dari jumlah sentuhan, akurasi umpan, tendangan, dan penguasaan bola.
"Angka menceritakan kisah yang sebenarnya," kata Sablon.
Sablon juga berkeliling negeri mencari bakat pemain muda sambil menggelar presentasi ke sekolah sepak bola milik klub-klub di Belgia. Pemain muda yang terjaring karena dianggap potensial, langsung diberikan latihan menggiring bola dan bertanding dalam tiga format: 2v2, 5v5, dan 8v8.
Revolusi juga dilakukan Sablon dengan penghapusan sistem ranking yang awalnya dianggap krusial. Pemain yang berusia tujuh sampai delapan tahun tidak dibebani tugas untuk menjadi yang terbaik di kelompoknya.
Lihat Juga :