Seri A Siapkan Skenario Terburuk Jika Ada Gelombang Kedua Covid-19
Rabu, 10 Juni 2020 - 10:29 WIB
loading...
Foto/Reuters
A
A
A
MILAN - Seri A memang sudah hampir pasti bergulir. Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Gabriele Gravina menyebut keputusan tersebut sebagai kemenangan sepak bola. Tapi, skenario terburuk tetap disiapkan jika ada gelombang kedua Covid-19 .
Seri A akan dilanjutkan pada 20 Juni dan akan berakhir pada 2 Agustus mendatang setelah ditunda pada 9 Maret. Masih ada 12 pekan akan dimainkan ditambah empat laga yang ditunda pada match-week 25. Berarti, total ada 124 pertandingan harus diselesaikan dalam waktu sekitar 2,5 bulan.
Meski ada optimisme, FIGC tetap membuat kemungkinan terburuk jika kompetisi terhenti. Skenario itu tetap disiapkan, meski situasi di Italia sudah membaik, ancaman gelombang kedua pandemi corona imbas relaksasi lockdown bisa memunculkan masalah baru. Salah satunya ada kemungkinan kembali dilakukan pengetatan yang membuat sepak bola berhenti lagi. (Baca: Mengenal Tony Dunne, Legenda Man United yang Hari Ini Wafat)
Jika ini yang terjadi, FIGC dan klub Seri A serta Seri B sepakat meniadakan gelar juara. Tapi, tetap akan ada promosi dan degradasi, playout, dan playin. Playout adalah pertandingan yang digelar untuk menentukan tim yang harus turun kasta dari Seri A ke Seri B, dan Seri B ke Seri C. Sementara playin terkait dengan tim promosi Seri B ke Seri C, dan Seri C ke Seri B.
Bagaimana dengan juara? FIGC mengatakan jika kompetisi dihentikan, dipastikan tidak akan ada tim juara. Hanya, akan ada playoff untuk menentukan tiket ke zona Liga Champions dan Liga Europa. “Dalam hal terjadi pemberhentian, kami telah merencanakan format baru dengan playoff dan playout, seperti diminta UEFA. Di luar pertandingan normal, tidak ada solusi yang lebih baik dari pada playoff dan playout,” kata Gravina.
FIGC tak menutup pintu pada alternatif lain jika memang tidak bisa menggelar playoff dan playout. Jika ini terjadi, akan dibuat algoritma berdasarkan hasil kandang dan tandang untuk menghitung perkiraan total poin akhir.
Tapi, cara tersebut hanya menentukan tim mana yang lolos ke kompetisi Eropa dan degradasi. Sementara scudetto tidak akan diberikan. Klub-klub Seri A sempat menentang gagasan algoritma sebagai penentu klasifikasi akhir, tapi akhirnya menerima. (Baca juga: Kemenhub Terbitkan Surat Edaran dalam Merespons Era New Normal)
Seri A akan dilanjutkan pada 20 Juni dan akan berakhir pada 2 Agustus mendatang setelah ditunda pada 9 Maret. Masih ada 12 pekan akan dimainkan ditambah empat laga yang ditunda pada match-week 25. Berarti, total ada 124 pertandingan harus diselesaikan dalam waktu sekitar 2,5 bulan.
Meski ada optimisme, FIGC tetap membuat kemungkinan terburuk jika kompetisi terhenti. Skenario itu tetap disiapkan, meski situasi di Italia sudah membaik, ancaman gelombang kedua pandemi corona imbas relaksasi lockdown bisa memunculkan masalah baru. Salah satunya ada kemungkinan kembali dilakukan pengetatan yang membuat sepak bola berhenti lagi. (Baca: Mengenal Tony Dunne, Legenda Man United yang Hari Ini Wafat)
Jika ini yang terjadi, FIGC dan klub Seri A serta Seri B sepakat meniadakan gelar juara. Tapi, tetap akan ada promosi dan degradasi, playout, dan playin. Playout adalah pertandingan yang digelar untuk menentukan tim yang harus turun kasta dari Seri A ke Seri B, dan Seri B ke Seri C. Sementara playin terkait dengan tim promosi Seri B ke Seri C, dan Seri C ke Seri B.
Bagaimana dengan juara? FIGC mengatakan jika kompetisi dihentikan, dipastikan tidak akan ada tim juara. Hanya, akan ada playoff untuk menentukan tiket ke zona Liga Champions dan Liga Europa. “Dalam hal terjadi pemberhentian, kami telah merencanakan format baru dengan playoff dan playout, seperti diminta UEFA. Di luar pertandingan normal, tidak ada solusi yang lebih baik dari pada playoff dan playout,” kata Gravina.
FIGC tak menutup pintu pada alternatif lain jika memang tidak bisa menggelar playoff dan playout. Jika ini terjadi, akan dibuat algoritma berdasarkan hasil kandang dan tandang untuk menghitung perkiraan total poin akhir.
Tapi, cara tersebut hanya menentukan tim mana yang lolos ke kompetisi Eropa dan degradasi. Sementara scudetto tidak akan diberikan. Klub-klub Seri A sempat menentang gagasan algoritma sebagai penentu klasifikasi akhir, tapi akhirnya menerima. (Baca juga: Kemenhub Terbitkan Surat Edaran dalam Merespons Era New Normal)
Lihat Juga :