Kisah Diego Simeone Jebol Gawang Mantan Klub
Selasa, 23 Juni 2020 - 09:01 WIB
loading...
Diego Simeone ketika masih jadi pemain. Foto: La Liga untuk SINDOnews
A
A
A
MADRID - Sebelum menjadi pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone merupakan gelandang ganas yang menjuarai banyak trofi. Prestasinya penuh penuh emosional -termasuk ketika mencetak gol ke gawang mantan klub .
Simeone adalah gelandang box-to-box yang gesit, teknikal, serta agresif. Ia bersinar selama satu dekade di LaLiga, dimulai bersama Sevilla lalu dua periode berbeda sebagai pemain Atletico. (Baca juga: Simeone Tantang Pemain Atletico )
Setelah melewati berbagai tahapan di Velez Sarsfield di Argentina, Simeone bermain dua musim di klub Italia AC Pisa sebelum bergabung dengan Sevilla pada musim panas tahun 1992. Simeone yang saat itu berusia 22 tahun sangat kompetitif, dan dengan cepat menyesuaikan diri dengan kehidupan di Ibu Kota Andalusia itu, di mana kompatriotnya, Diego Maradona dan Monchi, Direktur Olahraga Sevilla saat ini, adalah rekan setimnya.
Pelatih legendaris Atletico, Luis Aragones, memiliki dampak besar bagi Simeone saat ia tiba di Sevilla pada tahun 1993, serta menjadi alasan Simeone pindah ke Vicente Calderon setahun kemudian, setelah mencatatkan 12 gol dalam 64 penampilan di LaLiga bersama Sevilla.
Simeone kemudian datang di Atletico yang sedang mengalami transisi, dan gaya bermainnya yang ngotot diandalkan Atletico untuk berjuang melawan degradasi, dan sebuah gol melawan mantan klubnya, Sevilla pada hari terakhir musim itu sangat krusial untuk membawa Atletico tetap berada di divisi teratas. (Lihat Grafis: Liverpool Kuasai Daftar 10 Pemain Termahal Dunia )
12 bulan kemudian, Simeone juga mencetak gol di pertandingan terakhir, tetapi dalam keadaan yang sangat berbeda. Tim Atletico yang baru, asuhan Radomir Antic, Berjaya pada musim 1995/1996, di mana mereka berhasil merebut gelar LaLiga musim itu, sebuah tim yang diisi pemain-pemain kunci seperti Jose Molina, Santi Denia, dan Kiko, yang merepresentasikan kualitas dari tradisi Rojiblanco. El Cholo menjadi jantung tim yang juga berhasil meraih gelar Copa del Rey, dengan mengalahkan Barcelona 1-0 di final berkat gol dari Milinko Pantic.
Musim panas 1997 membawa Simeone ke Italia, dimana ia bermain selama dua tahun untuk Inter Milan, dan menjuarai Piala UEFA 1997-98. Ia kemudian menghabiskan empat musim lagi di Lazio, dimana ia mengangkat empat trofi termasuk gelar Serie A 1999-2000 dalam sebuah tim yang dilatih oleh Sven Goran Eriksson.
Simeone adalah gelandang box-to-box yang gesit, teknikal, serta agresif. Ia bersinar selama satu dekade di LaLiga, dimulai bersama Sevilla lalu dua periode berbeda sebagai pemain Atletico. (Baca juga: Simeone Tantang Pemain Atletico )
Setelah melewati berbagai tahapan di Velez Sarsfield di Argentina, Simeone bermain dua musim di klub Italia AC Pisa sebelum bergabung dengan Sevilla pada musim panas tahun 1992. Simeone yang saat itu berusia 22 tahun sangat kompetitif, dan dengan cepat menyesuaikan diri dengan kehidupan di Ibu Kota Andalusia itu, di mana kompatriotnya, Diego Maradona dan Monchi, Direktur Olahraga Sevilla saat ini, adalah rekan setimnya.
Pelatih legendaris Atletico, Luis Aragones, memiliki dampak besar bagi Simeone saat ia tiba di Sevilla pada tahun 1993, serta menjadi alasan Simeone pindah ke Vicente Calderon setahun kemudian, setelah mencatatkan 12 gol dalam 64 penampilan di LaLiga bersama Sevilla.
Simeone kemudian datang di Atletico yang sedang mengalami transisi, dan gaya bermainnya yang ngotot diandalkan Atletico untuk berjuang melawan degradasi, dan sebuah gol melawan mantan klubnya, Sevilla pada hari terakhir musim itu sangat krusial untuk membawa Atletico tetap berada di divisi teratas. (Lihat Grafis: Liverpool Kuasai Daftar 10 Pemain Termahal Dunia )
12 bulan kemudian, Simeone juga mencetak gol di pertandingan terakhir, tetapi dalam keadaan yang sangat berbeda. Tim Atletico yang baru, asuhan Radomir Antic, Berjaya pada musim 1995/1996, di mana mereka berhasil merebut gelar LaLiga musim itu, sebuah tim yang diisi pemain-pemain kunci seperti Jose Molina, Santi Denia, dan Kiko, yang merepresentasikan kualitas dari tradisi Rojiblanco. El Cholo menjadi jantung tim yang juga berhasil meraih gelar Copa del Rey, dengan mengalahkan Barcelona 1-0 di final berkat gol dari Milinko Pantic.
Musim panas 1997 membawa Simeone ke Italia, dimana ia bermain selama dua tahun untuk Inter Milan, dan menjuarai Piala UEFA 1997-98. Ia kemudian menghabiskan empat musim lagi di Lazio, dimana ia mengangkat empat trofi termasuk gelar Serie A 1999-2000 dalam sebuah tim yang dilatih oleh Sven Goran Eriksson.
Lihat Juga :