Kisah Mark Magsayo: Penjual Es Krim Miskin Juara Dunia Tinju Kaya Raya
Rabu, 06 Juli 2022 - 12:49 WIB
loading...
A
A
A
Tapi seperti PacMan, Magsayo dibesarkan dalam kemiskinan dan harus bekerja di jalanan Filipina untuk membantu mendatangkan penghasilan bagi keluarganya. Dia mengatakan kepada SunSport: "Saya dibesarkan dalam keluarga miskin, karena kemiskinan. Saya membantu keluarga saya dengan keuangan, makanan untuk makan. Saya menjual es krim. Itu masa kecilku,"kenang Magsayo.
Magsayo berhenti menjual es krim pada usia sepuluh tahun untuk fokus pada tinju, percaya bahwa suatu hari nanti bisa membawa keluarganya lebih banyak uang. Tapi seperti kasus yang tumbuh di Kota Tagbilaran - 800km selatan ibukota Manila di pulau Bohol - dia mengalami kesulitan.
"Saya mulai bertinju, saya bertarung tiga kali dan saya kalah tiga kali dalam tiga pertarungan pertama saya. Ayah saya berkata kepada saya, 'Mark, berhenti bertinju'. Tapi tidak, saya masih muda, saya masih anak-anak dan saya berpikir untuk tetap berdedikasi,''tutur Magsayo.
"Pada usia sepuluh tahun, saya berlatih keras, saya bangun pagi-pagi untuk berlari dan saya berlatih sepulang sekolah. Saya berdedikasi untuk bertarung dan pertarungan berikutnya saya menangkan,"lanjutnmya.
Magsayo kemudian memenangkan lebih dari 200 pertarungan di amatir sebelum menjadi profesional pada 2013.
Petinju Filipina itu menang 11 kali dalam dua tahun sebelum melakukan debutnya di AS pada Juli 2015, mengalahkan Rafael Reyes.
Namun lima tahun kemudian, hidup Magsayo berubah selamanya saat ia bergabung dengan pelatih legendaris Freddie Roach. Roach adalah Hall of Famer yang memimpin Pacquiao ke supremasi pound-for-pound.
Magsayo berhenti menjual es krim pada usia sepuluh tahun untuk fokus pada tinju, percaya bahwa suatu hari nanti bisa membawa keluarganya lebih banyak uang. Tapi seperti kasus yang tumbuh di Kota Tagbilaran - 800km selatan ibukota Manila di pulau Bohol - dia mengalami kesulitan.
"Saya mulai bertinju, saya bertarung tiga kali dan saya kalah tiga kali dalam tiga pertarungan pertama saya. Ayah saya berkata kepada saya, 'Mark, berhenti bertinju'. Tapi tidak, saya masih muda, saya masih anak-anak dan saya berpikir untuk tetap berdedikasi,''tutur Magsayo.
"Pada usia sepuluh tahun, saya berlatih keras, saya bangun pagi-pagi untuk berlari dan saya berlatih sepulang sekolah. Saya berdedikasi untuk bertarung dan pertarungan berikutnya saya menangkan,"lanjutnmya.
Magsayo kemudian memenangkan lebih dari 200 pertarungan di amatir sebelum menjadi profesional pada 2013.
Petinju Filipina itu menang 11 kali dalam dua tahun sebelum melakukan debutnya di AS pada Juli 2015, mengalahkan Rafael Reyes.
Namun lima tahun kemudian, hidup Magsayo berubah selamanya saat ia bergabung dengan pelatih legendaris Freddie Roach. Roach adalah Hall of Famer yang memimpin Pacquiao ke supremasi pound-for-pound.
Lihat Juga :