Kisah Bakhodir Jalolov: Usia 12 Tahun Ditipu Ayah Berlatih Tinju, Kini Petinju Raja KO
Jum'at, 09 Desember 2022 - 09:08 WIB
loading...
A
A
A
Saat masa kanak-kanak, Jalolov adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Jalolov lahir dan besar di kota kecil Sariosiyo, hampir empat jam berkendara ke selatan ibu kota Uzbekistan, Tashkent. ''Saya tumbuh dalam keluarga biasa,'' katanya.
Jalolov boleh dibilang bongsor dengan tubuhnya yang tinggi bila dibandingkan anak seusianya ketika itu. Namun, fisiknya dianggap lemah sehingga dia memilih bermain sepak bola. ''Menjadi anak yang tinggi dan lemah, saya bermain sepak bola. Sebenarnya, saya cukup pandai dalam hal itu. Saya bermain untuk tim kota dan di liga remaja,''ungkapnya.
Di tahun-tahun awalnya, Jalolov tidak pernah tertarik dengan olahraga pertarungan tetapi ayahnya, seorang pegulat dan pria tangguh, yang bekerja sebagai polisi, ingin menguatkan putra satu-satunya. Selain tinju, dia suka bermain sepak bola, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan bermain di PlayStation.
''Dia (ayah) ingin saya menjadi petarung, tetapi di kota kami hanya ada dua bagian olahraga: gulat gaya bebas dan sepak bola. Dan saya memilih sepak bola, karena saya (pikir) saya bagus dalam hal itu,''kata petinju muslim tersebut.
Jalolov kemudian mengisahkan awal mula sehingga dia menjadi petinju yang kelak diramal menjadi juara kelas berat. ''Pada usia 12 tahun, ayah saya memberi tahu saya bahwa dia akan mengirim saya ke sekolah olahraga bermain sepak bola. Tetapi dia menipu saya dan mengirim saya ke kelas tinju, dan berjanji kepada saya bahwa jika ada lowongan di kelas sepak bola, dia akan bawa aku ke sana,''tutur Jalolov mengenang.
Jalolov boleh dibilang bongsor dengan tubuhnya yang tinggi bila dibandingkan anak seusianya ketika itu. Namun, fisiknya dianggap lemah sehingga dia memilih bermain sepak bola. ''Menjadi anak yang tinggi dan lemah, saya bermain sepak bola. Sebenarnya, saya cukup pandai dalam hal itu. Saya bermain untuk tim kota dan di liga remaja,''ungkapnya.
Di tahun-tahun awalnya, Jalolov tidak pernah tertarik dengan olahraga pertarungan tetapi ayahnya, seorang pegulat dan pria tangguh, yang bekerja sebagai polisi, ingin menguatkan putra satu-satunya. Selain tinju, dia suka bermain sepak bola, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan bermain di PlayStation.
''Dia (ayah) ingin saya menjadi petarung, tetapi di kota kami hanya ada dua bagian olahraga: gulat gaya bebas dan sepak bola. Dan saya memilih sepak bola, karena saya (pikir) saya bagus dalam hal itu,''kata petinju muslim tersebut.
Jalolov kemudian mengisahkan awal mula sehingga dia menjadi petinju yang kelak diramal menjadi juara kelas berat. ''Pada usia 12 tahun, ayah saya memberi tahu saya bahwa dia akan mengirim saya ke sekolah olahraga bermain sepak bola. Tetapi dia menipu saya dan mengirim saya ke kelas tinju, dan berjanji kepada saya bahwa jika ada lowongan di kelas sepak bola, dia akan bawa aku ke sana,''tutur Jalolov mengenang.
Lihat Juga :