Pahang Tak Paham, Visa Pemain Asing Harusnya Dibuat di Malaysia
Senin, 25 Mei 2015 - 16:22 WIB
Pahang Tak Paham, Visa Pemain Asing Harusnya Dibuat di Malaysia
A
A
A
JAKARTA - Tidak dikeluarkannya visa untuk tiga pemain asing Pahang FA rupanya disebabkan oleh dua hal berbeda. Selain maslah waktu pengajuan yang terlalu mepet, kesalahpahaman soal ketentuan visa on arrival juga menjadi penyebab tak diberikan ijin masuk tiga pemain asing Pahang FA.
Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menyayangkan ketidaktahuan Pahang soal ketentuan visa on arrival. Seharusnya visa tersebut diurus di Malaysia. Namun, Pahang justru meminta PSSI agar membantu persoalan ini. Padahal saat kejadian, status PSSI masih dibekukan oleh Kemenpora.
Pahang mengklaim telah mengajukan permohonan aplikasi untuk empat pemain asingnya, yakni Dickson Nwakaema (Nigeria), Damian Stewart (Jamaika), Zesh Rahman (Pakistan), dan Matias Conti (Argentina). Nah, sesuai aturan visa on arrival, hanya Matias Conti yang bisa masuk lantaran ada kesepakatan Indonesia dengan Argentina.
Tapi untuk Jamaika, Nigeria, dan Pakistan, punya cara berbeda untuk mendapatkan visa. Untuk warga berpaspor Jamaika, bisa mengajukan visa langsung atas kuasa sendiri ke Kedutaan Besar RI (KBRI) di Malaysia, dan pihak KBRI di sana dapat langsung mengeluarkan ijin masuk (atau menolak) ke Indonesia. Sedangkan untuk warga negara Pakistan dan Nigeria harus lewat prosedur calling visa.
Untuk mendapatkan calling visa, Pahang harus mengajukan aplikasi ke Kedutaan Besar RI (KBRI) di Malaysia, dan akan diteruskan ke kantor imigrasi Indonesia untuk selanjutnya -jika disetujui- pihak KBRI di Malaysia yang mengeluarkan visa tersebut. Namun, prosedur itu tidak dilakukan Pahang, sehingga tiga pemain asal tiga negara tersebut tak boleh masuk Indonesia karena tidak mengantongi visa dari KBRI di Malaysia. (Baca juga: Pahang FA Ditolak Imigrasi, Persipura Terancam Sanksi AFC)
"Federasi atau PSSI-nya Malaysia tidak mengurus visa pemain asing Pahang. Sebab mereka kabarnya dapat jaminan bahwa PSSI bisa membantu mengurus visa itu. Mereka kira PSSI dapat menjemput mereka di Bandara," ucap Ketua Umum BOPI Noor Aman di Kantor Kemenpora, Senin (25/5/2015).
Untungnya kejadian ini tidak dialami Persib Bandung. Klub asal Jawa Barat itu sudah jauh-jauh hari menghubungi kedutaan besar Indonesia di Hong Kong agar membantu pemain asing Kitchee untuk mengurus visa untuk para pemainnya, baik lokal maupun asing. "Persib sudah koordinasi sejak jauh-jauh hari. Mereka sudah mengurus masalah visa dengan kedutaan Indonesia yang ada di Hong Kong," jelasnya.
Noor Aman juga menilai pihak Persipura Jayapura selaku tuan rumah pertandingan di babak 16 besar Piala AFC terlalu mepet dalam meminta surat rekomendasi pada BOPI. Dijelaskan Noor Aman, Pada Jumat (22/5/2015), Persipura meminta agar BOPI mengeluarkan surat rekomendasi pembuatan visa untuk empat pemain asing lawan. Seusai melewati sejumlah tahapan, surat tersebut akhirnya terbit pada Sabtu (23/5/2015).
BOPI kemudian mengirim surat itu di siang hari pukul 13.58 WIB. Namun, terjadi kesalahan karena yang terkirim belum ditanda tangani ketua umum BOPI, dan surat rekomendasi tersebut akhirnya dikirim ulang pukul 15.01 WIB. (Baca juga: BOPI Beri Klarifikasi Terkait Visa Pemain Pahang)
"BOPI sudah memberikan surat rekomendasi sesuai dengan email permintaan mereka per tanggal 22 Mei 2015. Lalu surat itu beres sehari kemudian karena ada beberapa hal yang harus dilalui terlebih dulu. Menurut BOPI ini terlalu mepet karena pertandingannya digelar pada 26 Mei," kata Noor Aman.
Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menyayangkan ketidaktahuan Pahang soal ketentuan visa on arrival. Seharusnya visa tersebut diurus di Malaysia. Namun, Pahang justru meminta PSSI agar membantu persoalan ini. Padahal saat kejadian, status PSSI masih dibekukan oleh Kemenpora.
Pahang mengklaim telah mengajukan permohonan aplikasi untuk empat pemain asingnya, yakni Dickson Nwakaema (Nigeria), Damian Stewart (Jamaika), Zesh Rahman (Pakistan), dan Matias Conti (Argentina). Nah, sesuai aturan visa on arrival, hanya Matias Conti yang bisa masuk lantaran ada kesepakatan Indonesia dengan Argentina.
Tapi untuk Jamaika, Nigeria, dan Pakistan, punya cara berbeda untuk mendapatkan visa. Untuk warga berpaspor Jamaika, bisa mengajukan visa langsung atas kuasa sendiri ke Kedutaan Besar RI (KBRI) di Malaysia, dan pihak KBRI di sana dapat langsung mengeluarkan ijin masuk (atau menolak) ke Indonesia. Sedangkan untuk warga negara Pakistan dan Nigeria harus lewat prosedur calling visa.
Untuk mendapatkan calling visa, Pahang harus mengajukan aplikasi ke Kedutaan Besar RI (KBRI) di Malaysia, dan akan diteruskan ke kantor imigrasi Indonesia untuk selanjutnya -jika disetujui- pihak KBRI di Malaysia yang mengeluarkan visa tersebut. Namun, prosedur itu tidak dilakukan Pahang, sehingga tiga pemain asal tiga negara tersebut tak boleh masuk Indonesia karena tidak mengantongi visa dari KBRI di Malaysia. (Baca juga: Pahang FA Ditolak Imigrasi, Persipura Terancam Sanksi AFC)
"Federasi atau PSSI-nya Malaysia tidak mengurus visa pemain asing Pahang. Sebab mereka kabarnya dapat jaminan bahwa PSSI bisa membantu mengurus visa itu. Mereka kira PSSI dapat menjemput mereka di Bandara," ucap Ketua Umum BOPI Noor Aman di Kantor Kemenpora, Senin (25/5/2015).
Untungnya kejadian ini tidak dialami Persib Bandung. Klub asal Jawa Barat itu sudah jauh-jauh hari menghubungi kedutaan besar Indonesia di Hong Kong agar membantu pemain asing Kitchee untuk mengurus visa untuk para pemainnya, baik lokal maupun asing. "Persib sudah koordinasi sejak jauh-jauh hari. Mereka sudah mengurus masalah visa dengan kedutaan Indonesia yang ada di Hong Kong," jelasnya.
Noor Aman juga menilai pihak Persipura Jayapura selaku tuan rumah pertandingan di babak 16 besar Piala AFC terlalu mepet dalam meminta surat rekomendasi pada BOPI. Dijelaskan Noor Aman, Pada Jumat (22/5/2015), Persipura meminta agar BOPI mengeluarkan surat rekomendasi pembuatan visa untuk empat pemain asing lawan. Seusai melewati sejumlah tahapan, surat tersebut akhirnya terbit pada Sabtu (23/5/2015).
BOPI kemudian mengirim surat itu di siang hari pukul 13.58 WIB. Namun, terjadi kesalahan karena yang terkirim belum ditanda tangani ketua umum BOPI, dan surat rekomendasi tersebut akhirnya dikirim ulang pukul 15.01 WIB. (Baca juga: BOPI Beri Klarifikasi Terkait Visa Pemain Pahang)
"BOPI sudah memberikan surat rekomendasi sesuai dengan email permintaan mereka per tanggal 22 Mei 2015. Lalu surat itu beres sehari kemudian karena ada beberapa hal yang harus dilalui terlebih dulu. Menurut BOPI ini terlalu mepet karena pertandingannya digelar pada 26 Mei," kata Noor Aman.
(sha)