PSM Kecam Sikap Menpora Panggil Djohar sebagai Keganjilan
Rabu, 24 Juni 2015 - 10:08 WIB
PSM Kecam Sikap Menpora Panggil Djohar sebagai Keganjilan
A
A
A
MAKASSAR - Keputusan Menpora Imam Nahrawi yang memanggil mantan ketua umum PSSI Djohar Arifin Husin direspons keras oleh PSM Makassar. Manajemen Juku Eja menyesalkan sikap Menpora yang mengundang Djohar dan bukan pengurus PSSI baru yang diketuai La Nyalla Mattalitti untuk melakukan pertemuan sesuai dengan perintah Komisi X DPR-RI.
Padahal, seharusnya Menpora Imam Nahrawi mengundang pengurus PSSI baru yang terpilih lewat Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya 17 April lalu. Pasalnya, kongres tersebut diikuti oleh seluruh pemilik suara termasuk perwakilan klub tertinggi di Indonesia.
Bukan hanya itu, pemanggilan Djohar Arifin untuk membahas sepak bola nasional juga dinilai ganjil. Meski Menpora berdalih SK pembekuan PSSI pada 17 April lalu Djohar masih memimpin federasi sepak bola nasional tersebut. "Sesuatu keputusan ganjil dan tidak ngerti organisasi,"kecam Direktur Klub PSM Makassar Sumirlan saat dikonfirmasi.
Dirinya mengatakan, seharusnya kondisi saat ini harus saling menghargai sehingga tercipta suasana damai. Apalagi, masih dalam suasana Ramadan. "Yang diharapkan sebenarnya adalah solusi," ujarnya lagi.
Pada pertemuan tersebut, dua agenda khusus dibahas oleh Menpora bersama Djohar Arifin yang dianggap mewakili PSSI, yakni membahas soal kelanjutan kompetisi dan yang kedua langkah yang diambil agar sanksi FIFA untuk sepak bola nasional bisa segera ditarik.
Menanggapi persoalan ini, Presiden PSSI La Nyalla Mattalitti mengaku kecewa. Padahal, sebelumnya pihak PSSI menunggu undangan dari Menpora. "Mempora menunjukkan tidak memiliki itikad baik untuk keluar dari suasana konflik persepakbolaan saat ini,"kata dia.
Selain itu, kata dia tindakan Menpora dengan mengundang pengurus PSSI lama dan empat (4) Asprov sulit dicerna secara nalar atau logika akal sehat sebagai upaya menindaklanjuti perintah Komisi X DPR RI. "Hal ini juga bisa diartikan sebagai bentuk penghinaan terhadap intelektualitas. Baik kepada Komisi X DPR RI, kepada PSSI maupun kepada masyarakat luas,"ungkapnya.
Padahal, seharusnya Menpora Imam Nahrawi mengundang pengurus PSSI baru yang terpilih lewat Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya 17 April lalu. Pasalnya, kongres tersebut diikuti oleh seluruh pemilik suara termasuk perwakilan klub tertinggi di Indonesia.
Bukan hanya itu, pemanggilan Djohar Arifin untuk membahas sepak bola nasional juga dinilai ganjil. Meski Menpora berdalih SK pembekuan PSSI pada 17 April lalu Djohar masih memimpin federasi sepak bola nasional tersebut. "Sesuatu keputusan ganjil dan tidak ngerti organisasi,"kecam Direktur Klub PSM Makassar Sumirlan saat dikonfirmasi.
Dirinya mengatakan, seharusnya kondisi saat ini harus saling menghargai sehingga tercipta suasana damai. Apalagi, masih dalam suasana Ramadan. "Yang diharapkan sebenarnya adalah solusi," ujarnya lagi.
Pada pertemuan tersebut, dua agenda khusus dibahas oleh Menpora bersama Djohar Arifin yang dianggap mewakili PSSI, yakni membahas soal kelanjutan kompetisi dan yang kedua langkah yang diambil agar sanksi FIFA untuk sepak bola nasional bisa segera ditarik.
Menanggapi persoalan ini, Presiden PSSI La Nyalla Mattalitti mengaku kecewa. Padahal, sebelumnya pihak PSSI menunggu undangan dari Menpora. "Mempora menunjukkan tidak memiliki itikad baik untuk keluar dari suasana konflik persepakbolaan saat ini,"kata dia.
Selain itu, kata dia tindakan Menpora dengan mengundang pengurus PSSI lama dan empat (4) Asprov sulit dicerna secara nalar atau logika akal sehat sebagai upaya menindaklanjuti perintah Komisi X DPR RI. "Hal ini juga bisa diartikan sebagai bentuk penghinaan terhadap intelektualitas. Baik kepada Komisi X DPR RI, kepada PSSI maupun kepada masyarakat luas,"ungkapnya.
(aww)