Kemenpora vs PSSI Sulit Berdamai, Klub Antipati Ikut Turnamen
Kamis, 02 Juli 2015 - 13:57 WIB
Kemenpora vs PSSI Sulit Berdamai, Klub Antipati Ikut Turnamen
A
A
A
LAMONGAN - Kegagalan panitia pelaksana menggelar Sunrise of Java Cup 2015 di Banyuwangi menipiskan kepercayaan klub terhadap penyelenggaraan turnamen sepak bola di Indonesia tahun ini. Para pelaku sepak bola tidak yakin berbagai event yang direncanakan saat ini bisa berjalan sesuai harapan.
Hingga Juli ini, ada dua event yang sedang digagas yakni Piala Indonesia Satu yang digawangi Mahaka Sports dan Piala Kemerdekaan milik Tim Transisi Menpora. Dua event itu pun diragukan bisa berjalan sesuai rencana.
Klub-klub di Jawa Timur tidak percaya begitu saja dengan rencana turnamen walau dipersiapkan jauh hari. "Pengalaman di Banyuwangi membuat kami krisis kepercayaan terhadap rencana adanya turnamen,"ujar Joko Susilo, asisten pelatih Arema Cronus.
Arema masih diliputi kekecewaan setelah pulang dengan tangan hampa dari Banyuwangi setelah turnamen batal digelar. Alasannya pun terbilang sedikit nyeleneh, yakni dilarang oleh ormas keagamaan setempat karena bertepatan dengan Ramadan.
Sikap serupa juga dirasakan Persela Lamongan. Hingga deadline pendaftaran Piala Indonesia Satu pada awal pekan lalu, Persela tidak juga memberikan jawaban terkait rencana keikutsertaan mereka di ajang tersebut.
Laskar Joko Tingkir, demikian Persela dijuluk, juga masih gamang dengan rencana Mahaka Sports menggelar turnamen untuk klub level atas. Sebab, hingga kini perseteruan PSSI dengan Menpora belum juga beres.
"Jujur saja kami belum sepenuhnya percaya bahwa Piala Indonesia Satu akan berjalan profesional. Sekarang ini semuanya bisa berubah secara cepat dan tak terduga. Tim yang siap main pun bisa batal bertanding,"sebut CEO Persela Debby Kurniawan.
Belum lagi, lanjutnya, kondisi PSSI dan Menpora belum menunjukkan tanda-tanda kondusif dan berupaya menunjukkan dominasinya masing-masing di sepak bola. "Itulah yang membuat Persela belum tertarik ikut," tegas Debby.
Kondisi ini sebenarnya cukup kontras dengan rencana Tim Transisi menggelar Piala Kemerdekaan. Tim calon kontestan terlihat begitu antusiasi, misalnya Persepam Madura Utama yang bakal membarui kontrak pemain dan Persibo Bojonegoro yang mulai seleksi.
Namun antusiasme di level ini tergolong wajar. Terhitung musim ini sama sekali belum ada satu pun pertandingan yang dilakoni klub Divisi Utama. Selain itu juga ada beberapa klub yang berupaya bangkit setelah bertahun-tahun disanksi PSSI.
Hingga Juli ini, ada dua event yang sedang digagas yakni Piala Indonesia Satu yang digawangi Mahaka Sports dan Piala Kemerdekaan milik Tim Transisi Menpora. Dua event itu pun diragukan bisa berjalan sesuai rencana.
Klub-klub di Jawa Timur tidak percaya begitu saja dengan rencana turnamen walau dipersiapkan jauh hari. "Pengalaman di Banyuwangi membuat kami krisis kepercayaan terhadap rencana adanya turnamen,"ujar Joko Susilo, asisten pelatih Arema Cronus.
Arema masih diliputi kekecewaan setelah pulang dengan tangan hampa dari Banyuwangi setelah turnamen batal digelar. Alasannya pun terbilang sedikit nyeleneh, yakni dilarang oleh ormas keagamaan setempat karena bertepatan dengan Ramadan.
Sikap serupa juga dirasakan Persela Lamongan. Hingga deadline pendaftaran Piala Indonesia Satu pada awal pekan lalu, Persela tidak juga memberikan jawaban terkait rencana keikutsertaan mereka di ajang tersebut.
Laskar Joko Tingkir, demikian Persela dijuluk, juga masih gamang dengan rencana Mahaka Sports menggelar turnamen untuk klub level atas. Sebab, hingga kini perseteruan PSSI dengan Menpora belum juga beres.
"Jujur saja kami belum sepenuhnya percaya bahwa Piala Indonesia Satu akan berjalan profesional. Sekarang ini semuanya bisa berubah secara cepat dan tak terduga. Tim yang siap main pun bisa batal bertanding,"sebut CEO Persela Debby Kurniawan.
Belum lagi, lanjutnya, kondisi PSSI dan Menpora belum menunjukkan tanda-tanda kondusif dan berupaya menunjukkan dominasinya masing-masing di sepak bola. "Itulah yang membuat Persela belum tertarik ikut," tegas Debby.
Kondisi ini sebenarnya cukup kontras dengan rencana Tim Transisi menggelar Piala Kemerdekaan. Tim calon kontestan terlihat begitu antusiasi, misalnya Persepam Madura Utama yang bakal membarui kontrak pemain dan Persibo Bojonegoro yang mulai seleksi.
Namun antusiasme di level ini tergolong wajar. Terhitung musim ini sama sekali belum ada satu pun pertandingan yang dilakoni klub Divisi Utama. Selain itu juga ada beberapa klub yang berupaya bangkit setelah bertahun-tahun disanksi PSSI.
(aww)