Sekarang Sepak Bola Dipolitisi

Selasa, 21 Juli 2015 - 09:00 WIB
Sekarang Sepak Bola...
Sekarang Sepak Bola Dipolitisi
A A A
Tak banyak yang bisa melupakan sosok Mursyid Effendi. Pengalaman pahit dan manis sudah pernah dirasakan pemain Persebaya era 1980 –1990-an itu.

Tragedi gol bunuh diri saat membela timnas di Piala Tiger (sekarang AFF) 1998 membuatnya seumur hidup tidak bisa aktif sebagai pemain. Lantas, seperti apa pandangan Mursyid terhadap kisruh sepak bola saat ini, termasuk soal kabar mafia sepak bola, pengaturan skor dan judi? Soal konflik Persebaya apa yang dirasakannya? Berikut petikan wawancara KORAN SINDO.

Soal kisruh sepak bola Indonesia, sudah banyak komentar dan pandangan dari berbagai kalangan. Menurut Anda?

Sepanjang karier saya di sepak bola, kondisi sepak bola Indonesia sekarang memang paling parah dan menyedihkan. Banyak konflik di masa lalu, tapi tidak pernah sampai mengorbankan kompetisi yang menjadi roh pembinaan. Sekarang, kompetisi tidak ada, semakin tidak jelas arah sepak bola.

Apa dampak dari kisruh sepak bola ini?

Jelas yang paling merasakan dampaknya adalah pelaku sepak bola. Pemain, pelatih, wasit, dan lainnya, tidak ada pemasukan lagi. Dulu, bisa pakai sepatu, sekarang pakai sandal. Beruntung saya masih punya usaha kecilkecilan. Tapi, bagi pemain yang baru lahir, kasihan. Pelatih yang tidak punya kerja sambilan, susah sekarang hidupnya. Kalau pengurus yang di atas sana, tidak kena dampak, sibuk bertikai saja.

Apa penyebab dari semua ini?

Ini akibatnya kalau politik sudah masuk sepak bola. Sepak bola hanya dijadikan panggung mereka. Kalau politik sepak bola baru oke, politik pakai ilmu sepak bola 4-4-2, nggak bisa menerobos dari kiri, coba dari kanan. Sekarang, sepak bola dipolitisasi, yang bertikai orang-orang politik semua.

Soal konflik PSSI dengan Menpora?

Semua sama, saya tidak membela mana-mana. Yang saya sesalkan, kenapa sampai turun sanksi FIFA? Kalau mau membenahi sepak bola, semestinya Kemenpora ikut dalam melakukan pengawasan terhadap Komisi Disiplin dan Komisi Wasit, cukup masuk di situ. Yang lain biar diurus PSSI. Karena, dua hal ini yang saya rasa harus dibenahi. Bukan dengan cara sekarang, membakar semuanya, akibatnya banyak yang harus dikorbankan. PSSI juga harus bisa menerima, ada yang sudah baik dan ada yang masih dibenahi. Tapi, semua sudah salah kaprah seperti ini.

Soal itu mafia judi, pengaturan skor di SEA Games. Ini benar atau hanya isu?

Saya tanya, di sepak bola di mana pun di dunia ini, mana yang tidak ada unsur judi? Yang bisa kita lakukan, bagaimana memproteksi agar perangkat dan pelaku sepak bola tidak bisa dimasuki. Kalau ada pemain yang ikut-ikut itu, pasti akan ketahuan. Ada Komisi Disiplin, klub juga akan tahu dengan sendirinya pemain seperti itu akan tersisih. Yang harus dibasmi itu, pengaturan siapa tim yang musim ini juara, musim ini tim A degradasi. Musim ini tim B promosi. Itu yang sudah ada sejak 10 tahun lalu dan harus kita hapuskan.

Soal pengaturan skor SEA Games?

Jangan asal menuduh, dampaknya akan menyakitkan buat pemain dan pelatih. Mereka punya keluarga, punya teman. Kasihan beban mental mereka berat. Ini semua karena konflik, saling serang, tidak menghiraukan dampaknya. Saya pernah merasakan sendiri di Piala Tiger. Saya sudah buka-bukaan, tapi cuma saya sebagai pelaku yang dihukum, sementara sutradara dan otaknya tidak pernah tersentuh. Saya tidak mengungkit kembali. Cuma, kalau soal itu, kasihan pemain dan pelatih.

Hampir sepanjang karier pemain bersama Persebaya menyandang ban kapten juga. Apa yang Anda rasakan soal Persebaya sekarang?

Beberapa kali berdiskusi, beberapa kali kumpul-kumpul, pandangan saya tetap sama, Persebaya butuh figur baru. Bukan dari kelompok sana atau kelompok satu lagi. Tapi, sekarang, memang belum ada figur baru itu.

Yakin, konflik ini akan berakhir dengan baik?

Itu masalahnya, di Indonesia ini mana ada orang kalah mengaku kalah? Mudah-mudahan tidak mencari menang dan kalah, tapi mencari kebaikan untuk sepak bola kita.
(ftr)
Berita Terkait
Sebanyak 12 Klub Liga...
Sebanyak 12 Klub Liga 1 Ramaikan Persaingan di Nusapay Indonesian Football e-League
INAF Gelar Audiensi...
INAF Gelar Audiensi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga
Indonesia Juara Piala...
Indonesia Juara Piala Dunia Football Manager 2024 usai Bekuk Jerman di Final
Mini Football Bangkit:...
Mini Football Bangkit: Indonesia Siap Tuan Rumah Piala Dunia 2026
Presiden Jokowi Luncurkan...
Presiden Jokowi Luncurkan Papua Football Academy
Barati Grassroot Football...
Barati Grassroot Football Fest Jaring Talenta Muda Pesepakbola
Berita Terkini
Pemain Israel Dilempari...
Pemain Israel Dilempari Sepatu Buntut Selebrasi Provokatif saat Lawan Albania
2 jam yang lalu
The Legend Continues...
The Legend Continues Bergulir di Semarang, Team RS-Telkomsel 5G Siap Hadapi Putaran 2 Kejurnas Sprint Rally 2026
3 jam yang lalu
Simpati Woman Rally...
Simpati Woman Rally Team Siap Tampil di Putaran 2 Kejurnas Sprint Rally 2026
3 jam yang lalu
Emil Audero Minta Timnas...
Emil Audero Minta Timnas Indonesia Tak Cepat Puas Usai Kalahkan Oman
4 jam yang lalu
Mathew Baker Cetak Sejarah...
Mathew Baker Cetak Sejarah Jadi Pemain Termuda di Timnas Indonesia
6 jam yang lalu
Timnas Indonesia Hancurkan...
Timnas Indonesia Hancurkan Oman 3-0
15 jam yang lalu
Infografis
10 Pelatih Sepak Bola...
10 Pelatih Sepak Bola Terkaya di Dunia, Wayne Rooney Juaranya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved