Sudah Tembus 500 Ribu, Petisi 'Selamatkan Rossi' Takkan Berguna

Jum'at, 30 Oktober 2015 - 20:36 WIB
Sudah Tembus 500 Ribu,...
Sudah Tembus 500 Ribu, Petisi 'Selamatkan Rossi' Takkan Berguna
A A A
MIES - Petisi yang seketika muncul dari penggemar Valentino Rossi untuk menggugurkan hukuman di Grand Prix MotoGP Malaysia kemarin akhirnya ditanggapi oleh Federation Internationale Motorcyclisme (FIM). Induk organisasi balap itu menegaskan kumpulan tanda tangan takkan bisa memengaruhi keputusan mereka.

Rossi yang sedang bersaing memerebutkan gelar juara, mendapat penalti akibat insidennya dengan Marc Marquez di Sirkuit International Sepang. The Doctor mesti start dari posisi terbuncit di Valencia yang mana kondisi demikian membuat rivalnya Jorge Lorenzo kian berpeluang merebut gelar juara.

Tak heran, kondisi tersebut memaksa fansnya atau Rossifumi sedunia bergerak untuk menyelamatkan idolanya. Alasan mereka, keputusan Race Direction MotoGP salah telah memberi Rossi hukuman sebab Marquez yang dinilai sengaja memprovokasi di lintasan. (Baca Juga: Rossi Bawa Kasus Marquez ke Pengadilan Arbitrase Olah Raga)

Petisi yang diterjemahkan dalam lima bahasa: Jepang, Indonesia, Prancis, Spanyol, dan Italia muncul dari Inggris. Nicholas Davis asal Inggris yang menggagas petisi tersebut, mengajukannya kepada Race Director MotoGP Mike Webb, FIM Official, UFIM Official, dan bos Yamaha Lin Jarvis.

Sayang, petisi yang kini sudah menembus 500 ribu lebih tanda tangan, tampaknya tak berguna. Vito Ippolito selaku Presiden FIM menegaskan pembalap yang mendapat hukuman tetap harus patuh pada keputusan yang diambil.

Berikut pernyataan FIM soal petisi Rossi:

"Setiap orang punya hak untuk mengekspresikan idenya, tapi kata-kata dan tindakan selalu punya konsekuensi. Setiap individu harus mengambil tanggung jawab sebagai konsekuensinya. Pembalap harus menyadari hal ini.

Masing-masing dari mereka punya ribuan penggemar yang mengikuti gerak-gerik mereka di lintasan dan mendengarkan apa yang mereka katakan di luar trek. Untuk itu kami melihat kepada mereka tidak dalam kejuaraan ini melainkan juga dalam semua jangkauan kami sebagai contoh bagaimana menciptakan olah raga seperti apa yang kami inginkan.

Pembalap, tim, produsen dan sponsor tidak hanya harus menghormati aturan tetapi juga mesti menerima keputusan dari pejabat apa pun hasilnya untuk mereka. Jika tidak, mereka justru membangun sikap memberontak dan merusak perkembangan olah raga ini di masa depan,"
(bbk)
Berita Terkait
Marc Marquez Cs Guncang...
Marc Marquez Cs Guncang Jakarta di Parade MotoGP
Gegar Otak, Marc Marquez...
Gegar Otak, Marc Marquez Absen di GP Algarve Akhir Pekan Ini, Isyaratkan Pensiun?
20 Pembalap MotorGP...
20 Pembalap MotorGP Ikuti Parade di Jakarta Besok, Ini Rutenya
MotoGP Finalisasi Aturan...
MotoGP Finalisasi Aturan Gaji Pembalap Minimal Rp9,9 Miliar per Musim
Tahun Depan, MotoGP...
Tahun Depan, MotoGP Siapkan Skenario Keadaan Darurat Covid-19
Pedro Acosta Rasakan...
Pedro Acosta Rasakan Tekanan Jelang Debut di MotoGP 2024
Berita Terkini
Miris, Lagu Kebangsaan...
Miris, Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026
1 jam yang lalu
Kisah Vozinha: Kiper...
Kisah Vozinha: Kiper Cape Verde yang Menulis Sejarah di Piala Dunia 2026
1 jam yang lalu
Iran Bangkit Dua Kali,...
Iran Bangkit Dua Kali, Imbangi Selandia Baru 2-2 di Piala Dunia 2026
1 jam yang lalu
Piala Dunia 2026: FIFA...
Piala Dunia 2026: FIFA Diam-Diam Ubah Ritual VAR
3 jam yang lalu
Lahirnya Hukum Olahraga...
Lahirnya Hukum Olahraga Indonesia
3 jam yang lalu
FIFA: Gestur Kontroversial...
FIFA: Gestur Kontroversial Asisten Wasit VAR Tak Langgar Aturan
3 jam yang lalu
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved