Kompetisi Mati Picu 1.050 Wasit di Jateng Menganggur!
Jum'at, 18 Desember 2015 - 15:50 WIB
Kompetisi Mati Picu 1.050 Wasit di Jateng Menganggur!
A
A
A
SEMARANG - Miris! Sekitar 1.050 wasit yang ada di Jawa Tengah terpaksa menganggur dalam setahun terakhir lantaran tidak ada kompetisi resmi.
Mereka terdiri dari wasit berlisensi nasional (C1) sekitar 200 orang. Sisanya adalah wasit berlisensi C2 dan C3, yang hanya bisa memimpin dalam pertandingan amatir, baik itu kelompok umur (KU), liga remaja, dan tingkat Pengcab PSSI kota/kabupaten.
Ada juga dua wasit yang berlisensi FIFA, yakni Dwi Purba (Kudus) dan Hendri Kristanto (Semarang). Wasit C1 saat kompetisi masih berjalan normal, mereka ditugaskan memimpin pertandingan Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama (DU) dan Liga Nusantara.
Praktis, setelah tidak ada kompetisi yang digulirkan oleh PT Liga Indonesia, mereka kehilangan mata pencaharian sebagai pengadil lapangan hijau.
”Kasihan mereka, karena tidak ada kompetisi sehingga menganggur. Mereka hanya latihan saja, dan setiap tiga bulan sekali Asprov PSSI Jateng tetap melakukan penyegaran program,”ungkap Komite Wasit Asprov PSSI Jateng Supriyanto.
Akibat tidak ada kompetisi, mereka kini hanya bergantung pada penyelenggaran turnamen-turnamen insidentil. Setidaknya, dengan turnamen tersebut, ada sedikit pendapatan yang masuk, setelah kompetisi berhenti total lantaran ada konflik antara PSSI dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.
Supriyanto menjelaskan, dalam Piala Polda Jateng beberapa waktu lalu, mayoritas juga menggunakan tenaga wasit Jateng. Di antaranya Dwi Purba asal Kudus.
“Kami berharap Piala Gubernur Jateng 2016 bisa digelar Maret, sehingga wasit bisa bekerja kembali,” ujarnya.
Tidak semua wasit di Jateng, memiliki pekerjaan tetap. Beberapa di antaranya hanya mengandalkan pendapatan dari memimpin pertandingan.
Dia mengatakan, ada wasit yang juga berprofesi guru. Polri maupun TNI, juga ada juga menjadi wasit. ”Tapi ada yang berprofesi wasit murni,” ujarnya.
Pihaknya memastikan, wasit Jateng di bawah naungan PSSI saat ini dalam status bebas sanksi.Kendati ada kabar banyak wasit dan perangkat pertandingan yang terlibat dalam Piala Kemerdekaan mendapat sanksi Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, dirinya memastikan hal itu tidak dialami wasit dari provinsi ini.
Dalam Piala Jenderal Sudirman, ada empat wasit yang ditugaskan memimpin pertandingan, di antaranya Adi Riyanto (Kendal), Sutikno (Semarang), Maryono (Semarang) dan Hendri Kristanto (Semarang).
Namun, mereka masih bisa memimpin pertandingan turnamen.
”Saat ini yang dipertahankan dalam babak delapan besar masih dua orang, yakni Adi Riyanto dan Sutikno. Mereka memimpin laga di Solo,”kata dia.
Mereka terdiri dari wasit berlisensi nasional (C1) sekitar 200 orang. Sisanya adalah wasit berlisensi C2 dan C3, yang hanya bisa memimpin dalam pertandingan amatir, baik itu kelompok umur (KU), liga remaja, dan tingkat Pengcab PSSI kota/kabupaten.
Ada juga dua wasit yang berlisensi FIFA, yakni Dwi Purba (Kudus) dan Hendri Kristanto (Semarang). Wasit C1 saat kompetisi masih berjalan normal, mereka ditugaskan memimpin pertandingan Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama (DU) dan Liga Nusantara.
Praktis, setelah tidak ada kompetisi yang digulirkan oleh PT Liga Indonesia, mereka kehilangan mata pencaharian sebagai pengadil lapangan hijau.
”Kasihan mereka, karena tidak ada kompetisi sehingga menganggur. Mereka hanya latihan saja, dan setiap tiga bulan sekali Asprov PSSI Jateng tetap melakukan penyegaran program,”ungkap Komite Wasit Asprov PSSI Jateng Supriyanto.
Akibat tidak ada kompetisi, mereka kini hanya bergantung pada penyelenggaran turnamen-turnamen insidentil. Setidaknya, dengan turnamen tersebut, ada sedikit pendapatan yang masuk, setelah kompetisi berhenti total lantaran ada konflik antara PSSI dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.
Supriyanto menjelaskan, dalam Piala Polda Jateng beberapa waktu lalu, mayoritas juga menggunakan tenaga wasit Jateng. Di antaranya Dwi Purba asal Kudus.
“Kami berharap Piala Gubernur Jateng 2016 bisa digelar Maret, sehingga wasit bisa bekerja kembali,” ujarnya.
Tidak semua wasit di Jateng, memiliki pekerjaan tetap. Beberapa di antaranya hanya mengandalkan pendapatan dari memimpin pertandingan.
Dia mengatakan, ada wasit yang juga berprofesi guru. Polri maupun TNI, juga ada juga menjadi wasit. ”Tapi ada yang berprofesi wasit murni,” ujarnya.
Pihaknya memastikan, wasit Jateng di bawah naungan PSSI saat ini dalam status bebas sanksi.Kendati ada kabar banyak wasit dan perangkat pertandingan yang terlibat dalam Piala Kemerdekaan mendapat sanksi Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, dirinya memastikan hal itu tidak dialami wasit dari provinsi ini.
Dalam Piala Jenderal Sudirman, ada empat wasit yang ditugaskan memimpin pertandingan, di antaranya Adi Riyanto (Kendal), Sutikno (Semarang), Maryono (Semarang) dan Hendri Kristanto (Semarang).
Namun, mereka masih bisa memimpin pertandingan turnamen.
”Saat ini yang dipertahankan dalam babak delapan besar masih dua orang, yakni Adi Riyanto dan Sutikno. Mereka memimpin laga di Solo,”kata dia.
(aww)