Red Bull: Dominasi Mercedes di F1 Tidak Sehat

Rabu, 04 Januari 2017 - 17:05 WIB
Red Bull: Dominasi Mercedes...
Red Bull: Dominasi Mercedes di F1 Tidak Sehat
A A A
BUCKINGHAMSHIRE - Dominasi Mercedes di ajang Formula 1 ternyata sudah cukup meresahkan bagi beberapa tim pesaing. Red Bull misalnya, mereka secara lantang menilai kedigdayaan pabrikan asal Jerman tidak memberi kebaikan bagi olahraga itu sendiri.

Mercedes mendominasi Formula 1 sejak musim 2014 atau ketika era V6 Turbo dimulai. Tiga trofi juara dunia mereka raih yakni ketika Lewis Hamilton menang pada musim 2014-2015, serta Nico Rosberg tahun 2016.

Tak cuma pembalapnya, Mercedes juga berhasil keluar sebagai juara konstruktor dalam tiga musim terakhir. Mobil F1 W05 Hybrid, W06 Hybrid dan W07 Hybrid sukses mengantar mereka tak terkejar rival seperti Red Bull, Ferrari dan McLaren.

Sama halnya ketika Ferrari merajai F1 sejak 2010 hingga 2014, para pesaing jelas iri melihat dominasi Mercedes saat ini. Tak terkecuali Red Bull, rival utama dalam beberapa musim terakhir.

Tim asal Austria cuma menempati peringkat dua, empat, dan kembali jadi runner up ketika Mercedes juara. Hal itu membuat petingginya, Christian Horner angkat suara protes.

Entah bentuk luapan frustrasi atau bukan, Horner menilai dominasi Mercedes tidak masuk akal. Ia mempertanyakan fakta Mercedes bisa menangkan 59 kali balapan dari 51 seri selama tiga musim.

"Saya kira anda semua bisa melihat kebiasaan penonton, ketika mengetahui siapa yang merebut pole position dan siapa yang jadi pemenang. Mercedes meraihnya 51 kemenangan dari 59 kali balapan dalam tiga musim terakhir. Itu perbandingan yang tidak sehat. Anda tidak bisa menyalahkan penonton yang kecewa dengan hal tersebut," keluh Horner ketika diwawancara ESPN seperti dikutip Ibtimes, Rabu (4/1/2017).

"Tapi Anda bisa lihat jelang berakhirnya musim 2016 dalam balapan seperti di Meksiko dan Brazil. Jenis lomba seperti itu yang bisa merangsang gairah (penonton -red). Kami hanya butuh jenis balapan seperti itu dan itulah tujuan kita dalam 20 kali grand prix. Mudah-mudahan tahun depan hasilnya berubah dan kita bisa dapatkan dua atau tiga tim yang berpeluang menang,"

"Perubahan aturan tidak seradikal pada tahun 2008-2009, tetapi itu cukup wajar. Itu bisa mengundi siapa yang bakal jadi juara, tapi hanya waktu yang akan menjawab dan tidak mungkin untuk menentukannya sekarang. Mungkin itu berikan Mercedes lebih banyak keuntungan, mungkin juga tidak. Sampai kita lakoni tiga seri perdana di 2017, mustahil untuk mengetahuinya," tutupnya.
(bep)
Berita Terkait
Bos Mercedes Tak Menyesal...
Bos Mercedes Tak Menyesal Lepas Lewis Hamilton ke Ferrari
Kecelakaan Ferrari Warnai...
Kecelakaan Ferrari Warnai Kemenangan Perdana Lewis Hamilton
Lewis Hamilton Tak Puas...
Lewis Hamilton Tak Puas dengan Performa Mobil Mercedes di Formula 1 2024
Rosberg Dukung Verstappen...
Rosberg Dukung Verstappen Sabet Gelar Juara Dunia Formula 1 2021
Ingin Verstappen Juara...
Ingin Verstappen Juara F1 2021, Nico Rosberg Beberkan Kelemahan Lewis Hamilton
Ramalan Schumacher Soal...
Ramalan Schumacher Soal Rekornya Dikejar Lewis Hamilton
Berita Terkini
Perjalanan Prancis dan...
Perjalanan Prancis dan Spanyol: Siapa Layak ke Final Piala Dunia 2026?
29 menit yang lalu
Sejarah Wonderwall Milik...
Sejarah Wonderwall Milik Oasis Jadi Anthem Suporter Inggris di Piala Dunia 2026
1 jam yang lalu
Jersey Antonela Jadi...
Jersey Antonela Jadi Jimat Keberuntungan Argentina?
3 jam yang lalu
Superkomputer Jagokan...
Superkomputer Jagokan Prancis Juara Piala Dunia 2026, Argentina Bukan Unggulan
4 jam yang lalu
Thomas Tuchel Ngamuk...
Thomas Tuchel Ngamuk di Pinggir Lapangan, Isi Instruksinya ke Pemain Inggris Terungkap
5 jam yang lalu
Messi Adu Mulut dengan...
Messi Adu Mulut dengan Wasit Portugal: Hormati Saya, Bicaralah yang Baik!
6 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved