Kepala Mekanik Yamaha Bicara Kejatuhan Marquez dan Pujian Spies
Kamis, 13 April 2017 - 18:44 WIB
Kepala Mekanik Yamaha Bicara Kejatuhan Marquez dan Pujian Spies
A
A
A
BUENOS AIRES - Hasil sempurna yang diraih Maverick Vinales pada dua seri pembuka MotoGP 2017, yakni kemenangan di lomba Qatar dan finis terdepan di Argentina. Mau tidak mau merupakan jadi salah satu kerja hebat kepala mekaniknya di tim Yamaha Factory Racing, Ramon Forcada.
Ramon Forcada mengaku terkejut dengan kemenangan Vinales di MotoGP Qatar lalu kemudian di MotoGP Argentina. Padahal sebelumnya dia berkata: “Satu-satunya pertanyaan adalah apakah ia (Vinales) bakal mampu mengelola lomba dengan baik.”
Untuk beberapa poin, kecepatan Vinales saat lomba boleh dibilang jadi salah satu kekuatannya dan faktor kunci dari kemenangannya di Qatar dan Argentina. Namun khusus di Argentina, ada faktor lain yang ikut mengantarnya finis terdepan di sana, yaitu terjatuhnya Marc Marquez (Honda) di awal lomba.
_saat_terjatuh_pada_lomba_motogp_argentina_2017._(foto-gold_and_goose).jpg)
“Dari apa yang Maverick katakan kepada saya, Marc membuat awal yang sangat baik. Tetapi setelah bisa membuntutinya dari belakang, Vinales bisa melihat kalau ia bisa mengejarnya,” beber Forcada kepada Movistar.
“Marc mencoba menjauh dengan memacu motornya lebih cepat karena saya kira, dia tahu bahwa Maverick memiliki race pace yang sangat baik, dan untuk itu dia harus membuka sedikit celah,” imbuhnya.
Lantas apa kunci Vinales menang di Argentina? “Saya pikir itu adalah kombinasi dari keduanya. Tapi tanpa Marquez terjatuh, Maverick akan berusaha sedikit lebih keras, atau bahkan tanpa race pace yang dimiliki Vinales, Marquez tidak akan jatuh. Jadi, satu hal telah mempengaruhi hal lainnya,” kata Forcada.
Forcada yang juga berada di belakang sukses Jorge Lorenzo selama di tim Yamaha, kemudian melanjutkan penjelasannya, soal bagaimana Vinales mampu mengatasi tekanan saat memimpin balapan.
“Satu-satunya pernyataan yang kami punya di awal adalah bagaimana ia (Vinales) mampu mengelola balapan ketika berada di bawah tekanan. Dalam latihan, lebih atau kurang Anda melaju sendirian di lintasan dan tinggal menggeber motor. Tetapi sekali dalam perlombaan tidak ada kesempatan kedua. Dan kebenarannya adalah dia melakukannya dengan sangat baik,” ujar Forcada.
“Dia (Vinales) sudah menjalani dua lomba yang berbeda (situasi dan kondisinya). Di Argentina, mungkin manajemen lombanya agak lebih mudah sedikit (ketimbang di Qatar). Karena Maverick bilang ia hanya berselisih dekat. Namun yang pertama (lomba di Qatar) sangat berbeda, itu adalah balapan yang abnormal. Argentina adalah balapan yang normal, walau diwarnai banyak pembalap terjatuh, lebih kurangnya situasi berjalan normal. So, jadi yang pertama di Qatar adalah menyenangkan,” tambahnya.
Khusus untuk usianya yang baru 22 tahun dan sanggup mengatasi tekanan saat memimpin lomba, Vinales mendapat pujian dari mantan pembalap tim Yamaha Factory Racing di MotoGP, Ben 'The Elbowz' Spies yang mengirim cuitan ke Forcada.
“@maverickmack25 seakan telah melakukannya (memenangkan lomba MotoGP) sebanyak ribuan kali.”
Forcada membalas: “Itu benar, dia dewasa seperti pria yang sudah berusia 30 tahun.”
Sedangkan jurnalis motomatters, David Emmett ikutan menyanjung: “Saya pikir, kesabaran adalah teknik yang paling diremehkan dari seorang pembalap motor. Melaju melawan kekuatan alam, namun krusial.”
Balasan Forcada: “Ya, sudah berulang kali sungguh tidak mudah untuk mampu dan terus mengontrol balapan.”
Ramon Forcada mengaku terkejut dengan kemenangan Vinales di MotoGP Qatar lalu kemudian di MotoGP Argentina. Padahal sebelumnya dia berkata: “Satu-satunya pertanyaan adalah apakah ia (Vinales) bakal mampu mengelola lomba dengan baik.”
Untuk beberapa poin, kecepatan Vinales saat lomba boleh dibilang jadi salah satu kekuatannya dan faktor kunci dari kemenangannya di Qatar dan Argentina. Namun khusus di Argentina, ada faktor lain yang ikut mengantarnya finis terdepan di sana, yaitu terjatuhnya Marc Marquez (Honda) di awal lomba.
_saat_terjatuh_pada_lomba_motogp_argentina_2017._(foto-gold_and_goose).jpg)
“Dari apa yang Maverick katakan kepada saya, Marc membuat awal yang sangat baik. Tetapi setelah bisa membuntutinya dari belakang, Vinales bisa melihat kalau ia bisa mengejarnya,” beber Forcada kepada Movistar.
“Marc mencoba menjauh dengan memacu motornya lebih cepat karena saya kira, dia tahu bahwa Maverick memiliki race pace yang sangat baik, dan untuk itu dia harus membuka sedikit celah,” imbuhnya.
Lantas apa kunci Vinales menang di Argentina? “Saya pikir itu adalah kombinasi dari keduanya. Tapi tanpa Marquez terjatuh, Maverick akan berusaha sedikit lebih keras, atau bahkan tanpa race pace yang dimiliki Vinales, Marquez tidak akan jatuh. Jadi, satu hal telah mempengaruhi hal lainnya,” kata Forcada.
Forcada yang juga berada di belakang sukses Jorge Lorenzo selama di tim Yamaha, kemudian melanjutkan penjelasannya, soal bagaimana Vinales mampu mengatasi tekanan saat memimpin balapan.
“Satu-satunya pernyataan yang kami punya di awal adalah bagaimana ia (Vinales) mampu mengelola balapan ketika berada di bawah tekanan. Dalam latihan, lebih atau kurang Anda melaju sendirian di lintasan dan tinggal menggeber motor. Tetapi sekali dalam perlombaan tidak ada kesempatan kedua. Dan kebenarannya adalah dia melakukannya dengan sangat baik,” ujar Forcada.
“Dia (Vinales) sudah menjalani dua lomba yang berbeda (situasi dan kondisinya). Di Argentina, mungkin manajemen lombanya agak lebih mudah sedikit (ketimbang di Qatar). Karena Maverick bilang ia hanya berselisih dekat. Namun yang pertama (lomba di Qatar) sangat berbeda, itu adalah balapan yang abnormal. Argentina adalah balapan yang normal, walau diwarnai banyak pembalap terjatuh, lebih kurangnya situasi berjalan normal. So, jadi yang pertama di Qatar adalah menyenangkan,” tambahnya.
Khusus untuk usianya yang baru 22 tahun dan sanggup mengatasi tekanan saat memimpin lomba, Vinales mendapat pujian dari mantan pembalap tim Yamaha Factory Racing di MotoGP, Ben 'The Elbowz' Spies yang mengirim cuitan ke Forcada.
“@maverickmack25 seakan telah melakukannya (memenangkan lomba MotoGP) sebanyak ribuan kali.”
Forcada membalas: “Itu benar, dia dewasa seperti pria yang sudah berusia 30 tahun.”
Sedangkan jurnalis motomatters, David Emmett ikutan menyanjung: “Saya pikir, kesabaran adalah teknik yang paling diremehkan dari seorang pembalap motor. Melaju melawan kekuatan alam, namun krusial.”
Balasan Forcada: “Ya, sudah berulang kali sungguh tidak mudah untuk mampu dan terus mengontrol balapan.”
(sbn)