Akhir Karir Andy Murray, si Singa Inggris Raya yang Terluka

Kamis, 31 Januari 2019 - 11:21 WIB
Akhir Karir Andy Murray,...
Akhir Karir Andy Murray, si Singa Inggris Raya yang Terluka
A A A
PETENIS Inggris Raya, Andy Murray, akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia tenis. Dunia yang pernah jadi tempat pelarian masalah hidup hingga membesarkan namanya ke puncak dunia.

Andy Murray tidak bisa menahan rasa sedih ketika melihat video perpisahan yang diucapkan rekan-rekannya sesama petenis ditayangkan usai dia dikalahkan oleh petenis Spanyol Roberto Bautista di ajang Australian Open 2019 pada 14 Januari lalu.

Berkali-kali mata petenis kelahiran 15 Mei 1987 itu berkaca-kaca mendengar petenis seperti Rafael Nadal, Novak Djokovic, Roger Federer, dan lain-lainnya memuji dirinya. Hisense Arena, tempat Andy Murray bertarung dengan Roberto Bautista, memang begitu berbeda untuk pertandingan penyisihan Australian Open 2019.

Namun, jauh-jauh hari keputusan Andy Murray yang mengatakan dirinya akan pensiun pada tahun ini membuat hati ribuan peng gemar tenis tergerak. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan melihat petarung yang lahir di Skotlandia itu beraksi sekali lagi.

Di pertandingan itu, Andy Murray memang bertarung bak singa yang terluka. Cedera panggul yang lama mendera membuat anak kedua dari Jude Murray itu kesulitan meladeni agresi Roberto Bautista. Hebatnya Andy Murray tidak mudah menyerah.

Setelah dua set tertinggal dari Roberto Bautista, dia berhasil mencuri dua set berikutnya melalui pertandingan yang sangat alot. Di set kelima, Andy Murray tidak bisa menyembunyikan luka yang dia rasakan.

Roberto Bautitsta dengan mudah mengambil set terakhir dari Andy Murray dan memaksa Andy Murray mengucapkan selamat tinggal dengan Australia untuk selamanya. Andy Murray terlihat emosional justru bukan karena harus berpisah dengan Australia.

Dia tersentuh setelah melihat seluruh emosi yang ada di Hisense Arena tertumpah kepadanya. Seluruh orang penting yang ada di dalam hidupnya serta lawan-lawan yang pernah main bersama mengapresiasi sepak terjangnya di dunia tenis. Perasaan inilah yang tidak pernah dirasakan Andy Murray sebelumnya.

“Andy berhak merasakan atmosfer ini. Dia seorang petenis yang tangguh. Saya sangat menghargai apa yang dia buat untuk dunia tenis melalui determinasi dan sikapnya,” ujar Roberto Bautista, yang jadi pemenang di pertandingan itu. Andy Murray memang jadi sosok yang mengagumkan di dunia tenis.

Di tengah dominasi trio Holy Trinity Federer-Nadal-Djokovic, Andy Muray mampu mencuatkan namanya dengan usaha yang sangat keras. Dia berhasil menjungkalkan Novak Djokovic, yang saat itu lagi berada di puncak performanya, dari takhta nomor satu dunia petenis pria pada 2016.

Dia bahkan jadi petenis Inggris Raya yang berhasil menjadi nomor satu dunia sejak sistem peringkat di ATP diperkenalkan pada 1973. Namun, perjalanan Andy Murray meniti karier tenis bukanlah perjalanan yang mudah.

Terlalu banyak tragedi menyelimuti perjalanan karier suami dari Kim Sears itu. Andy Murray kecil sudah menghadapi masalah besar ketika kedua orang tuanya berpisah. Sejak pengadilan memutuskan hak asuh anak jatuh kepada ayahnya, William Murray, Andy Murray hanya bertemu dengan ibunya setiap kali berlatih tenis.

“Saya selalu merasa tertuntut untuk memberikan perlakuan yang sama pada keduanya. Jika saya tinggal tiga hari dengan ayah, sesudahnya saya harus tinggal tiga hari bersama ibu saya,” kata Andy Murray suatu saat.

Psikologis Andy Murray semakin terganggu ketika tempatnya bersekolah, Dunblane Primary School di Skotlandia, mengalami peristiwa tragis saat Thomas Hamilton menembaki anak-anak kecil sekolah itu hingga tewas.

Sebanyak 16 anak kecil tewas akibat peristiwa itu. Parahnya lagi Thomas Hamilton bukanlah sosok yang asing buat Andy Murray. Pria berumur 43 tahun itu adalah ketua dari perkumpulan Boys Club tempat Andy Murray bergabung.

“Teman-teman saya tewas dan saya selalu berpikir, saya bisa jadi korban dari peristiwa itu,” ujar Andy Murray. Namun, memang tidak ada yang paling berpengaruh buruk bagi karier Andy Murray selain keretakan keluarga.

Perpisahan kedua orang tua itu membuat Andy Murray menjalani masa-masa yang lebih berat saat jatuh cinta dengan tenis. Bakatnya yang tinggi justru seolah terhambat untuk keluar. Dia juga merasa dilematis karena keadaan yang terjadi dalam hidupnya justru seakan-akan tidak mendukung dirinya untuk maju. Bayangkan ikan besar yang hidup di dalam kecil.

Selain faktor keluarga yang retak, Dunblane bukanlah kota yang ideal untuk mengasah kemampuan tenis. Semua orang yang ada di kota itu sudah dikalahkan oleh Andy Murray. Namun begitu, dia keluar dari kolam itu, Andy Murray justru melihat kesempatan yang sulit dia dapatkan.

“Saya pernah bertemu dengan Rafael Nadal. Dia bercerita sudah berlatih setiap hari dengan Carlos Moya. Saya tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Skotlandia bukan tempat yang ideal. Tidak ada banyak lapangan tenis dan lawan terberat yang saya temukan hanya kakak saya,” ujarnya.

Tekanan-tekanan inilah yang membuat Andy Murray muda menjadi sosok yang ambigu. Suatu saat dia bisa bersikap tenang dan pada saat yang lain dia berubah jadi temperamental. Namun, semua itu terjadi hanya di lapangan tenis.

Di tempat ini Andy Murray bisa mengeluarkan dengan baik seluruh kekacauan yang ada dalam pikirannya. Pada saat yang sama dia juga bisa setenang air guna berhasil memenangi pertandingan. Sikap ini bahkan terus berlanjut hingga Andy Murray masuk jalur profesional.

IBM, perusahaan peranti lunak dan data, bahkan pernah membuat sebuah riset dari 2005 hingga 2016 soal Andy Murray. Dari riset itu diketahui pria yang memegang gelar kebangsawanan dari Inggris itu berhasil menjadi juara jika dia mampu mengendalikan emosinya.

“Saya tidak bisa berpura-pura dengan apa yang tidak saya suka. Saya hanya mencoba bersikap apa yang seharusnya saya lakukan. Saya rentan tapi saya coba mengatasinya. Saya tidak sefenomenal Federer atau Fadal, tapi saya mencoba mencapainya,” ujar Andy Murray.

Sosok Andy Murray yang rentan inilah yang membuat semua orang jadi memiliki relasi dengan dirinya. Seperti Andy Murray, setiap orang akan berusaha menyalurkan kemarahan dan kekecewaannya pada satu tempat yang dirasakan tepat.

Ketidak sempurnaan inilah yang membuat Andy Murray begitu dekat dengan siapa saja. Saat dia terluka, semua yang lain juga merasakannya. Begitu juga ketika dia mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang begitu dia cintai dan membesarkan namanya, semua orang merasakan kepedihan yang sama.

Ada kegagalan dan kekesalan di sana. Namun, di balik semua itu ada rasa bahagia karena kita manusia seperti Andy Murray setidaknya harus berupaya mencoba memberikan yang terbaik dalam hidup ini. Walaupun itu hanya sekali.
(don)
Berita Terkait
Profil Steffi Graf,...
Profil Steffi Graf, Ratu Tenis yang Melegenda
Daniela Hantuchova,...
Daniela Hantuchova, Petenis Imut Nan Cantik Ini Beralih Profesi Jadi Komentator
Sejarah, Petenis Muda...
Sejarah, Petenis Muda Indonesia Rebut Dua Gelar di Singapura
Dirilis Forbes, Atlet...
Dirilis Forbes, Atlet Tenis Ternyata Paling Tajir
SEA Games 2023, Tim...
SEA Games 2023, Tim Tenis Indonesia Bertolak ke Kamboja Hari Ini
All-Final BIN Tersaji...
All-Final BIN Tersaji di Invitasi Tenis Nasional 2022, Fitriani Sabatini Rebut Gelar
Berita Terkini
AEI Golf Tournament...
AEI Golf Tournament 2026 Resmi Ditutup, Airlangga Hartarto: Ini Bagian Silaturahmi Lingkungan Pasar Modal
22 menit yang lalu
5 Momen Paling Bersejarah...
5 Momen Paling Bersejarah Rivalitas Inggris vs Argentina di Piala Dunia, Ada Gol 'Tangan Tuhan'
4 jam yang lalu
AEI Golf Tournament...
AEI Golf Tournament 2026 Berlangsung Menarik, Peserta Unjuk Kualitas
4 jam yang lalu
Desak Made dan Veddriq...
Desak Made dan Veddriq Leonardo Kawinkan Emas Indonesia di World Climbing Chamonix 2026
6 jam yang lalu
Semifinal Piala Dunia...
Semifinal Piala Dunia 2026: Prancis vs Spanyol, Inggris Tantang Argentina, Siapa Menang?
7 jam yang lalu
ArgentinaBentrok Inggris...
ArgentinaBentrok Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
7 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved