Malam IninMaurizio Sarri Harus Menang Jika Tidak Mau Dipecat
Minggu, 24 Februari 2019 - 18:42 WIB
Malam IninMaurizio Sarri Harus Menang Jika Tidak Mau Dipecat
A
A
A
LONDON - Maurizio Sarri terancam dipecat, semua hampir mengetahui itu. Banyak media Inggris memprediksi Sarri bisa diusir dari Stamford Bridge jika gagal membalas kekalahan dari Manchester City (Man City) di Liga Primer saat final Piala Liga di Stadion Wembley, nanti malam.
Susah memang menemukan sinyal positif untuk mengatakan The Blues memiliki peluang besar mendapatkan gelar, jika melihat tren Man City sejauh ini. Lagi-lagi jika mengacu media di Negeri Ratu Elizabeth, pasukan Pep Guardiola diprediksi mendapatkan empat gelar musim ini.
Mereka masih berada di jalur Liga Primer, Piala Liga, Piala FA, dan Liga Champions. Jumlah yang bahkan tidak bisa dilakukan Manchester United di era Alex Ferguson. “Gelar musim lalu penting, apalagi kami meraih double bersama Liga Primer. Di sini di Stadion Wembley, kami melawan tim papan atas Chelsea dan kami ingin memenangkan final,” kata Guardiola, dalam sesi jumpa pers, dikutip situs resmi turnamen.
Guardiola memang memiliki beberapa daftar pemain yang bermasalah dengan kebugaran seperti John Stones, Benjamin Mendy, dan Gabriel Jesus, top skor Piala Liga musim ini. Tapi, di daftar The Citizens, tiga nama tersebut sudah masuk klasifikasi pemain lapis. Jadi, seharusnya tidak ada masalah buat Guardiola. Sepanjang Sergio Aguero, Raheem Sterling, Kevin de Bruyne, David Silva, Ilkay Gundogan, dan Bernardo Silva tampil, daftar absen tersebut tidak akan ada masalah.
Toh, saat mereka menggilas Chelsea setengah lusin gol, Stones, Mendy, dan Gabriel sudah absen. Jadi, abaikan daftar pemain absen di kubu The Citizens. Tambahan lain, Man City adalah pemilik gelar terbanyak Piala Liga delapan musim terakhir. The Citizens berhasil mendulang tiga gelar dari tiga final.
“Para pemain dan manajer Chelsea juga akan fokus memenangkan pertandingan. Bagi kami, setelah menang tahun lalu, untuk berada di sana lagi adalah hal paling penting,” papar mantan pelatih Barcelona tersebut. Guardiola menegaskan, The Blues tetap bukan lawan mudah.
Menurut dia, Chelsea adalah salah satu tim terbaik di Eropa yang menuntut lawan harus konsisten dalam bertahan. Ruang untuk menyerang kecil dan pergerakan Jorginho membantu transisi mereka maju dan mundur.
“Tentu saja, mereka memiliki pemain berkualitas seperti Hazard, Willian, Pedro, dan Higuain sehingga besok kami akan fokus pada apa yang harus kami lakukan memenangkan pertandingan dan pendekatan taktis. Ini final dan para pemain tahu persis apa artinya untuk bermain di final,” tandasnya.
Sementara bagi Sarri, merasa kan gelar juara adalah hal langka bahkan tidak pernah terjadi dalam kariernya. Bermain di final memang bu kan hal baru saat menukangi Napoli, tapi gelar? Belum terdaftar di laman Wikipedia. Selain itu, Piala Liga juga kurang bersahabat dengan pelatih-pelatih asal Italia. Dari 15 arsitek tim asal Italia yang pernah bekerja di Liga Primer (terbanyak setelah Inggris, Skotlandia, dan Wales), hanya Gianluca Vialli dapat melakukannya bersama Chelsea.
Beruntung, Chelsea masih mendapat napas dengan mendapatkan kemenangan melawan Malmo tiga gol tanpa balas. “Penting memenangkan laga final. Ini penting buat kami, karena mendapatkan kepercayaan diri.
Kami berada di final di musim pertama dan satu poin dari zona Liga Champions,” kata Sarri, dikutip Skysports. Sarri juga tak mau dibanding-banding kan dengan Guardiola. Dia justru me nye but jika pelatih asal Spanyol tersebut ber un tung karena diberi waktu dari pihak klub.
“Itu menurut saya. Saat menunjuk Guar diola, semua harus menunggu karena klub ta hu jika dia butuh waktu. Sementara di posisi saya, butuh hasil, bukan yang lain,” tutur Sarri. Hasil memang menjadi kata kunci di Stamford Bridge. Banyak pelatih memberi gelar, tapi begitu dianggap tidak bisa mendapatkan kemenangan yang dibutuhkan, karier mereka dipastikan langsung terhenti. Tidak peduli nama dan gelar yang sudah diberikan.
Tapi, Sarri juga tak mau jika dikatakan timnya menjadi sekelas Arsenal. Menurut dia, Chelsea melakukan lebih baik dibandingkan The Gunners. “Arsenal musim ini bagus. Tapi, kami sedikit lebih baik karena berada di final. Apakah musim ini kami buru? Saya tidak paham,” tandasnya.
Susah memang menemukan sinyal positif untuk mengatakan The Blues memiliki peluang besar mendapatkan gelar, jika melihat tren Man City sejauh ini. Lagi-lagi jika mengacu media di Negeri Ratu Elizabeth, pasukan Pep Guardiola diprediksi mendapatkan empat gelar musim ini.
Mereka masih berada di jalur Liga Primer, Piala Liga, Piala FA, dan Liga Champions. Jumlah yang bahkan tidak bisa dilakukan Manchester United di era Alex Ferguson. “Gelar musim lalu penting, apalagi kami meraih double bersama Liga Primer. Di sini di Stadion Wembley, kami melawan tim papan atas Chelsea dan kami ingin memenangkan final,” kata Guardiola, dalam sesi jumpa pers, dikutip situs resmi turnamen.
Guardiola memang memiliki beberapa daftar pemain yang bermasalah dengan kebugaran seperti John Stones, Benjamin Mendy, dan Gabriel Jesus, top skor Piala Liga musim ini. Tapi, di daftar The Citizens, tiga nama tersebut sudah masuk klasifikasi pemain lapis. Jadi, seharusnya tidak ada masalah buat Guardiola. Sepanjang Sergio Aguero, Raheem Sterling, Kevin de Bruyne, David Silva, Ilkay Gundogan, dan Bernardo Silva tampil, daftar absen tersebut tidak akan ada masalah.
Toh, saat mereka menggilas Chelsea setengah lusin gol, Stones, Mendy, dan Gabriel sudah absen. Jadi, abaikan daftar pemain absen di kubu The Citizens. Tambahan lain, Man City adalah pemilik gelar terbanyak Piala Liga delapan musim terakhir. The Citizens berhasil mendulang tiga gelar dari tiga final.
“Para pemain dan manajer Chelsea juga akan fokus memenangkan pertandingan. Bagi kami, setelah menang tahun lalu, untuk berada di sana lagi adalah hal paling penting,” papar mantan pelatih Barcelona tersebut. Guardiola menegaskan, The Blues tetap bukan lawan mudah.
Menurut dia, Chelsea adalah salah satu tim terbaik di Eropa yang menuntut lawan harus konsisten dalam bertahan. Ruang untuk menyerang kecil dan pergerakan Jorginho membantu transisi mereka maju dan mundur.
“Tentu saja, mereka memiliki pemain berkualitas seperti Hazard, Willian, Pedro, dan Higuain sehingga besok kami akan fokus pada apa yang harus kami lakukan memenangkan pertandingan dan pendekatan taktis. Ini final dan para pemain tahu persis apa artinya untuk bermain di final,” tandasnya.
Sementara bagi Sarri, merasa kan gelar juara adalah hal langka bahkan tidak pernah terjadi dalam kariernya. Bermain di final memang bu kan hal baru saat menukangi Napoli, tapi gelar? Belum terdaftar di laman Wikipedia. Selain itu, Piala Liga juga kurang bersahabat dengan pelatih-pelatih asal Italia. Dari 15 arsitek tim asal Italia yang pernah bekerja di Liga Primer (terbanyak setelah Inggris, Skotlandia, dan Wales), hanya Gianluca Vialli dapat melakukannya bersama Chelsea.
Beruntung, Chelsea masih mendapat napas dengan mendapatkan kemenangan melawan Malmo tiga gol tanpa balas. “Penting memenangkan laga final. Ini penting buat kami, karena mendapatkan kepercayaan diri.
Kami berada di final di musim pertama dan satu poin dari zona Liga Champions,” kata Sarri, dikutip Skysports. Sarri juga tak mau dibanding-banding kan dengan Guardiola. Dia justru me nye but jika pelatih asal Spanyol tersebut ber un tung karena diberi waktu dari pihak klub.
“Itu menurut saya. Saat menunjuk Guar diola, semua harus menunggu karena klub ta hu jika dia butuh waktu. Sementara di posisi saya, butuh hasil, bukan yang lain,” tutur Sarri. Hasil memang menjadi kata kunci di Stamford Bridge. Banyak pelatih memberi gelar, tapi begitu dianggap tidak bisa mendapatkan kemenangan yang dibutuhkan, karier mereka dipastikan langsung terhenti. Tidak peduli nama dan gelar yang sudah diberikan.
Tapi, Sarri juga tak mau jika dikatakan timnya menjadi sekelas Arsenal. Menurut dia, Chelsea melakukan lebih baik dibandingkan The Gunners. “Arsenal musim ini bagus. Tapi, kami sedikit lebih baik karena berada di final. Apakah musim ini kami buru? Saya tidak paham,” tandasnya.
(don)