Lampard atau Solskjaer Terdepak Lebih Dulu di Musim Ini
Selasa, 24 September 2019 - 16:00 WIB
Lampard atau Solskjaer Terdepak Lebih Dulu di Musim Ini
A
A
A
MANCHESTER - Perjalanan Liga Primer musim ini memang masih sangat panjang, tetapi tuntutan besar klub-klub top membuat beberapa pelatih mulai sulit tidur nyenyak. Penyebabnya, spekulasi tentang siapa yang paling cepat didepak dari kursi pelatih sudah bermunculan.
Setidaknya ada dua nama yang kini mulai mendapati kemungkinan akan dipecat dari klubnya. Ada Frank Lampard di Chelsea dan Ole Gunnar Solskjaer. Semua disebabkan kinerja tim jauh dari memuaskan untuk tim yang selama ini identik dengan gelar dan nama besar.
Lampard misalnya. Kinerja The Blues dianggap begitu memprihatinkan terutama pada pertandingan kandang. Kekalahan 1-2 dari Liverpool, Minggu (22/9/2019), menambah panjang catatan buruk Chelsea yang belum meraih kemenangan di Stamford Bridge di semua kompetisi pada musim ini.
Dari empat pertandingan, Cesar Azpilicueta dkk hanya menorehkan dua imbang dan dua kekalahan. Secara keseluruhan performa Chelsea juga belum konsisten karena baru meraih dua kemenangan dalam tujuh pertandingan.
Akibatnya, mereka terlempar dari papan atas dan hanya menempati peringkat 11 klasemen sementara Liga Primer dengan delapan poin. Sorotan pun tertuju kepada Lampard. Minim pengalaman lantaran musim lalu hanya melatih klub Championship Derby County, kapasitasnya diragukan. Itu di luar kebiasaan sang pemilik Roman Abramovich yang kerap mendatangkan pelatih-pelatih top.
Jika tidak ada perubahan, Lampard bisa saja dilengserkan. Namun, dia sejatinya juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena Chelsea mendapatkan sanksi tidak boleh membeli pemain di bursa transfer oleh UEFA. Konsekuensinya, mereka hanya mengoptimalkan skuad yang ada dan tambahan dari akademi.
Lampard justru senang dengan keberadaan pemain muda yang diorbit kannya ke tim utama, seperti Tammy Abraham, Mason Mount, dan Fikayo Tomori. Dia optimistis semakin berkembangnya para pemain muda membuat Chelsea memiliki masa depan cerah.
“Banyak orang mengatakan sanksi transfer adalah hal buruk bagi Chelsea. Dalam jangka pendek, tentu saja, tetapi dalam jangka panjang jika kita dapat memiliki visi. Pemain-pemain, seperti Tomori, Mount, dan Abraham mempunyai potensi besar bisa berkontribusi untuk tim,” kata Lampard dilansir dailymail.
Juru taktik berusia 41 tahun tersebut bahkan menilai Chelsea telah menunjukkan peningkatan dari sisi permainan. Dia memuji performa pasukannya menghadapi Liverpool, terutama di babak kedua karena mereka mencuri gol melalui N’Golo Kante (71). Sebelumnya, sang tamu unggul oleh gol-gol Tren Alexander-Arnold (14) dan Roberto Firmino (30).
Lampard mengatakan, jika mampu menunjukkan performa yang sama, The Blues bisa meraih hasil lebih baik termasuk di pertandingan kandang. Pertandingan babak ketiga Piala Liga melawan tim divisi empat, Grimsby Town, Kamis dini hari (26/9/2019), menjadi kesempatan Chelsea mengembalikan keangkeran Stamford Bridge.
“Belum meraih kemenangan di kandang tentu ingin kami berubah, dan saya yakin kami akan melakukannya jika kami bermain seperti melawan Liverpool. Kenyataannya adalah para pemain muda telah masuk ke tim. Itu adalah sebuah modal penting Chelsea,” katanya.
Situasi Solskjaer di Manchester United (MU) lebih rumit. Kekalahan 0-2 dari West Ham United, Minggu (23/9/2019), membuatnya berada dalam tekanan. Tagar #oleout bahkan membahana di jagat media sosial. Kekecewaan fans bukan tanpa alasan.
Menggelontorkan total anggaran 159 juta poundsterling untuk mendatangkan Aaron Wan Bissaka, Daniel James, dan Harry Maguire di bursa transfer musim panas, Solskjaer tetap saja tidak mampu mengelola potensi skuad yang dimilikinya. Performa The Red Devils terus inkonsisten.
Dari tujuh pertandingan terakhir semua kompetisi, mereka baru mengemas tiga kemenangan, dua imbang, dan dua kekalahan. Imbasnya, MU tercecer di peringkat kedelapan klasemen sementara Liga Primer dengan delapan poin.
Bukan hanya miskin taktik, Solskjaer dianggap tidak memiliki intuisi bagus lantaran kerap menurunkan pemain-pemain yang sejatinya minim kontribusi, seperti Jesse Lingard, Ashley Young, hingga Nemanja Matic.
Juru taktik Norwegia itu juga dianggap terlalu lembek sehingga tidak disegani para pemain. Hal itu diperparah dengan lambannya klub mencari pengganti penyerang ber pengalaman, seperti Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez. Kehilangan keduanya meninggalkan lubang besar di lini depan MU.
Marcus Rashford mengalami cedera paha pada pertengahan babak kedua kontra West Ham. Hal itu menambah krisis MU karena Anthony Martial masih cedera, sedangkan Mason Greenwood sakit. Namun, Solskjaer berharap krisis penyerangnya tidak berlangsung lama.
Dia mengungkapkan saat melawan Rochdale di pertandingan babak ketiga Piala Liga, Kamis dini hari (26/9/2019), Martial atau Greenwood kemungkinan bisa kembali. “Kami akan ada serangkaian tes untuk mengetahui seberapa parah cedera Rashford. Saya tidak tahu berapa lama dia akan absen, karena saya bukan dokter. Tapi, dia mungkin akan keluar sebentar lagi,” ungkap Solskjaer.
Desakan fans dan hasil buruk di lapangan mungkin saja menjadi pertimbangan MU memecatnya pada akhir tahun seperti yang terjadi kepada Jose Mourinho, musim lalu. Solskjaer tentu harus bekerja lebih keras bila tidak ingin kehilangan jabatannya.
(Alimansyah)
Setidaknya ada dua nama yang kini mulai mendapati kemungkinan akan dipecat dari klubnya. Ada Frank Lampard di Chelsea dan Ole Gunnar Solskjaer. Semua disebabkan kinerja tim jauh dari memuaskan untuk tim yang selama ini identik dengan gelar dan nama besar.
Lampard misalnya. Kinerja The Blues dianggap begitu memprihatinkan terutama pada pertandingan kandang. Kekalahan 1-2 dari Liverpool, Minggu (22/9/2019), menambah panjang catatan buruk Chelsea yang belum meraih kemenangan di Stamford Bridge di semua kompetisi pada musim ini.
Dari empat pertandingan, Cesar Azpilicueta dkk hanya menorehkan dua imbang dan dua kekalahan. Secara keseluruhan performa Chelsea juga belum konsisten karena baru meraih dua kemenangan dalam tujuh pertandingan.
Akibatnya, mereka terlempar dari papan atas dan hanya menempati peringkat 11 klasemen sementara Liga Primer dengan delapan poin. Sorotan pun tertuju kepada Lampard. Minim pengalaman lantaran musim lalu hanya melatih klub Championship Derby County, kapasitasnya diragukan. Itu di luar kebiasaan sang pemilik Roman Abramovich yang kerap mendatangkan pelatih-pelatih top.
Jika tidak ada perubahan, Lampard bisa saja dilengserkan. Namun, dia sejatinya juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena Chelsea mendapatkan sanksi tidak boleh membeli pemain di bursa transfer oleh UEFA. Konsekuensinya, mereka hanya mengoptimalkan skuad yang ada dan tambahan dari akademi.
Lampard justru senang dengan keberadaan pemain muda yang diorbit kannya ke tim utama, seperti Tammy Abraham, Mason Mount, dan Fikayo Tomori. Dia optimistis semakin berkembangnya para pemain muda membuat Chelsea memiliki masa depan cerah.
“Banyak orang mengatakan sanksi transfer adalah hal buruk bagi Chelsea. Dalam jangka pendek, tentu saja, tetapi dalam jangka panjang jika kita dapat memiliki visi. Pemain-pemain, seperti Tomori, Mount, dan Abraham mempunyai potensi besar bisa berkontribusi untuk tim,” kata Lampard dilansir dailymail.
Juru taktik berusia 41 tahun tersebut bahkan menilai Chelsea telah menunjukkan peningkatan dari sisi permainan. Dia memuji performa pasukannya menghadapi Liverpool, terutama di babak kedua karena mereka mencuri gol melalui N’Golo Kante (71). Sebelumnya, sang tamu unggul oleh gol-gol Tren Alexander-Arnold (14) dan Roberto Firmino (30).
Lampard mengatakan, jika mampu menunjukkan performa yang sama, The Blues bisa meraih hasil lebih baik termasuk di pertandingan kandang. Pertandingan babak ketiga Piala Liga melawan tim divisi empat, Grimsby Town, Kamis dini hari (26/9/2019), menjadi kesempatan Chelsea mengembalikan keangkeran Stamford Bridge.
“Belum meraih kemenangan di kandang tentu ingin kami berubah, dan saya yakin kami akan melakukannya jika kami bermain seperti melawan Liverpool. Kenyataannya adalah para pemain muda telah masuk ke tim. Itu adalah sebuah modal penting Chelsea,” katanya.
Situasi Solskjaer di Manchester United (MU) lebih rumit. Kekalahan 0-2 dari West Ham United, Minggu (23/9/2019), membuatnya berada dalam tekanan. Tagar #oleout bahkan membahana di jagat media sosial. Kekecewaan fans bukan tanpa alasan.
Menggelontorkan total anggaran 159 juta poundsterling untuk mendatangkan Aaron Wan Bissaka, Daniel James, dan Harry Maguire di bursa transfer musim panas, Solskjaer tetap saja tidak mampu mengelola potensi skuad yang dimilikinya. Performa The Red Devils terus inkonsisten.
Dari tujuh pertandingan terakhir semua kompetisi, mereka baru mengemas tiga kemenangan, dua imbang, dan dua kekalahan. Imbasnya, MU tercecer di peringkat kedelapan klasemen sementara Liga Primer dengan delapan poin.
Bukan hanya miskin taktik, Solskjaer dianggap tidak memiliki intuisi bagus lantaran kerap menurunkan pemain-pemain yang sejatinya minim kontribusi, seperti Jesse Lingard, Ashley Young, hingga Nemanja Matic.
Juru taktik Norwegia itu juga dianggap terlalu lembek sehingga tidak disegani para pemain. Hal itu diperparah dengan lambannya klub mencari pengganti penyerang ber pengalaman, seperti Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez. Kehilangan keduanya meninggalkan lubang besar di lini depan MU.
Marcus Rashford mengalami cedera paha pada pertengahan babak kedua kontra West Ham. Hal itu menambah krisis MU karena Anthony Martial masih cedera, sedangkan Mason Greenwood sakit. Namun, Solskjaer berharap krisis penyerangnya tidak berlangsung lama.
Dia mengungkapkan saat melawan Rochdale di pertandingan babak ketiga Piala Liga, Kamis dini hari (26/9/2019), Martial atau Greenwood kemungkinan bisa kembali. “Kami akan ada serangkaian tes untuk mengetahui seberapa parah cedera Rashford. Saya tidak tahu berapa lama dia akan absen, karena saya bukan dokter. Tapi, dia mungkin akan keluar sebentar lagi,” ungkap Solskjaer.
Desakan fans dan hasil buruk di lapangan mungkin saja menjadi pertimbangan MU memecatnya pada akhir tahun seperti yang terjadi kepada Jose Mourinho, musim lalu. Solskjaer tentu harus bekerja lebih keras bila tidak ingin kehilangan jabatannya.
(Alimansyah)
(bbk)