Israel cemas tragedi Muenchen terulang di London
Selasa, 24 Juli 2012 - 10:54 WIB
Israel cemas tragedi Muenchen terulang di London
A
A
A
Sindonews.com - Tragedi yang menimpa kontingen Israel di Olimpiade 1972, Muenchen, Jerman, masih menyisakan trauma. Insiden itu bahkan membuat sebagian besar atlet Israel cemas jelang keikutsertaan mereka di Olimpiade 2012, London, Inggris.
Kecemasan mereka wajar jika merujuk kejadian di Muenchen yang merenggut 11 nyawa duta Israel. Mereka khawatir insiden itu akan terulang saat tampil di London. Karena itu, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak menyatakan, pihaknya akan waspada saat pembukaan Olimpiade tahun ini.
Antisipasi itu sebagai langkah preventif setelah serangan bom bunuh diri yang menewaskan lima warga Israel di Bulgaria. “Pasti ada kewaspadaan dalam hal intelijen dan operasional menjelang Olimpiade,” kata Barak,dilansir Yahoosport.
“Tentu saja pembukaan Olimpiade sangat menarik, kendati tanpa penghalang beton. Kami pun harus siap dan waspada, apalagi insiden itu telah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, Komite Intelijen dan Keamanan Inggris (ISC) berada di bawah tekanan sangat besar atas keinginan Israel. Bukan hanya mengantisipasi para atlet Israel, mereka sangat diharapkan bisa menjaga keamanan selama berlangsungnya Olimpiade tahun ini. Bahkan, dinas intelijen Inggris telah mengidentifikasi tiga sumber potensi ancaman saat berlangsungnya Olimpiade.
Kemungkinan pertama akan dilakukan Al-Qaeda dan afiliasinya yang merencanakan serangan terhadap para peserta Olimpiade, terutama warga negara Amerika Serikat atau Israel. Kedua, kelompok teroris yang berbasis di Irlandia Utara menjadi perhatian utama. Kemungkinan ketiga adalah bentrokan antar kelompok yang bersaing atau etnis yang mungkin ada di London selama Olimpiade.
Alhasil, ISC menilai upaya pengamanan ini merupakan langkah luar biasa yang telah diminta staf dinas intelijen selama periode satu tahun sebelum Olimpiade. ISC mengatakan bahwa dinas keamanan telah merencanakan keamanan berdasarkan ancaman terorisme yang meningkat sebelum dimulainya Olimpiade.
Pengamanan ini mengharuskan intelijen memberikan volume yang lebih besar untuk dianalisis dan ditanggapi di tempat kejadian. Bahkan, waktu penanganan pun dibuat lebih pendek untuk menghindari risiko lebih besar. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, ISC juga mulai mengamankan Olimpiade yang dimulai dari para relawan pesta olahraga akbar sejagat tersebut.
Proses ini mengharuskan 540.000 aplikasi yang bekerja untuk Olimpiade akan diperiksa secara keseluruhan melalui database. Hal itu dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kemungkinan ancaman terhadap keamanan nasional.
Sementara Komite Olimpiade Sekretaris Jenderal Israel Efraim Zinger mengatakan, tragedi yang mencekam dunia olahraga itu harus ada penghormatan khusus saat pembukaan Olimpiade nanti. Meski sudah berselang 40 tahun, dia sangat berharap Komite Olimpiade Internasional (IOC) memberikan kesempatan kepada 11 atlet Israel mendapatkan penghormatan sebagai cara yang tepat untuk mengenangnya.
“Komite Olimpiade Internasional memiliki komitmen moral untuk memperingati 11 atlet, pelatih, dan wasit. Bukan karena mereka orang Israel, melainkan karena mereka bermain di Olimpiade dan terbunuh saat Olimpiade,” kata Zinger, dilansir Seattletimes.
Namun, harapan tersebut kemungkinan sulit dikabulkan. Sebab,Presiden IOC Jacques Rogge menegaskan bahwa upacara pembukaan Olimpiade bukanlah tempat yang tepat untuk mengingat tragedi mencekam itu, meski mendapat tekanan unsur politik dari Amerika Serikat, Israel, dan Jerman.
Rogge pun mengatakan bahwa IOC akan tetap menghormati momen itu dalam momentum Olimpiade. Namun,acaranya bukan saat pembukaan, melainkan pada sebuah kesempatan Olimpiade,6 Agustus mendatang.
Kecemasan mereka wajar jika merujuk kejadian di Muenchen yang merenggut 11 nyawa duta Israel. Mereka khawatir insiden itu akan terulang saat tampil di London. Karena itu, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak menyatakan, pihaknya akan waspada saat pembukaan Olimpiade tahun ini.
Antisipasi itu sebagai langkah preventif setelah serangan bom bunuh diri yang menewaskan lima warga Israel di Bulgaria. “Pasti ada kewaspadaan dalam hal intelijen dan operasional menjelang Olimpiade,” kata Barak,dilansir Yahoosport.
“Tentu saja pembukaan Olimpiade sangat menarik, kendati tanpa penghalang beton. Kami pun harus siap dan waspada, apalagi insiden itu telah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, Komite Intelijen dan Keamanan Inggris (ISC) berada di bawah tekanan sangat besar atas keinginan Israel. Bukan hanya mengantisipasi para atlet Israel, mereka sangat diharapkan bisa menjaga keamanan selama berlangsungnya Olimpiade tahun ini. Bahkan, dinas intelijen Inggris telah mengidentifikasi tiga sumber potensi ancaman saat berlangsungnya Olimpiade.
Kemungkinan pertama akan dilakukan Al-Qaeda dan afiliasinya yang merencanakan serangan terhadap para peserta Olimpiade, terutama warga negara Amerika Serikat atau Israel. Kedua, kelompok teroris yang berbasis di Irlandia Utara menjadi perhatian utama. Kemungkinan ketiga adalah bentrokan antar kelompok yang bersaing atau etnis yang mungkin ada di London selama Olimpiade.
Alhasil, ISC menilai upaya pengamanan ini merupakan langkah luar biasa yang telah diminta staf dinas intelijen selama periode satu tahun sebelum Olimpiade. ISC mengatakan bahwa dinas keamanan telah merencanakan keamanan berdasarkan ancaman terorisme yang meningkat sebelum dimulainya Olimpiade.
Pengamanan ini mengharuskan intelijen memberikan volume yang lebih besar untuk dianalisis dan ditanggapi di tempat kejadian. Bahkan, waktu penanganan pun dibuat lebih pendek untuk menghindari risiko lebih besar. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, ISC juga mulai mengamankan Olimpiade yang dimulai dari para relawan pesta olahraga akbar sejagat tersebut.
Proses ini mengharuskan 540.000 aplikasi yang bekerja untuk Olimpiade akan diperiksa secara keseluruhan melalui database. Hal itu dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kemungkinan ancaman terhadap keamanan nasional.
Sementara Komite Olimpiade Sekretaris Jenderal Israel Efraim Zinger mengatakan, tragedi yang mencekam dunia olahraga itu harus ada penghormatan khusus saat pembukaan Olimpiade nanti. Meski sudah berselang 40 tahun, dia sangat berharap Komite Olimpiade Internasional (IOC) memberikan kesempatan kepada 11 atlet Israel mendapatkan penghormatan sebagai cara yang tepat untuk mengenangnya.
“Komite Olimpiade Internasional memiliki komitmen moral untuk memperingati 11 atlet, pelatih, dan wasit. Bukan karena mereka orang Israel, melainkan karena mereka bermain di Olimpiade dan terbunuh saat Olimpiade,” kata Zinger, dilansir Seattletimes.
Namun, harapan tersebut kemungkinan sulit dikabulkan. Sebab,Presiden IOC Jacques Rogge menegaskan bahwa upacara pembukaan Olimpiade bukanlah tempat yang tepat untuk mengingat tragedi mencekam itu, meski mendapat tekanan unsur politik dari Amerika Serikat, Israel, dan Jerman.
Rogge pun mengatakan bahwa IOC akan tetap menghormati momen itu dalam momentum Olimpiade. Namun,acaranya bukan saat pembukaan, melainkan pada sebuah kesempatan Olimpiade,6 Agustus mendatang.
(akr)