Jelang Olimpiade, Inggris ingin hentikan bisnis prostitusi
Selasa, 24 Juli 2012 - 11:34 WIB
Jelang Olimpiade, Inggris ingin hentikan bisnis prostitusi
A
A
A
Sindonews.com - Bisnis prostitusi mati angin selama perhelatan Olimpiade 2012, London, Inggris. Kondisi itu tak lepas dari kebijakan pemerintah setempat yang menginginkan suasana kondusif selama berlangsungnya multievent empat tahunan tersebut.
Kebijakan itu membuat para penjaja seks tak lagi bisa bergerak leluasa. Kendati sempat menjajakan diri di kompleks venue Olimpiade, pihak keamanan setempat menyapu bersih keberadaan mereka.
“Selama dua tahun terakhir,kami melihat peningkatan nyata dalam aktivitas polisi memberantas seks komersial. Bahkan,polisi telah menutup sebagian besar rumah bordil yang ada di sekitar venue Olimpiade,”ujar Anggota Lembaga Sosial Masyarakat Inggris, Georgina Perry, dilansir Yahoosport.
Menurut Perry, suasana kondusif tanpa keberadaan wanita penghibur sangat dibutuhkan negaranya. Maklum, dia mendapat gambaran jika Inggris ingin meraup banyak keuntungan, selain sukses sebagai tuan rumah. Perdana Menteri Inggris David Cameron membenarkan bahwa Inggris ingin mewujudkan target itu, yakni mendapat laba sekitar 13 miliar pounds. Target itu bisa terealisasi, karena akan banyak tamu negara yang akan singgah di London.
Bukan saja para atlet, tapi juga para fans negara peserta. Karena itu, Cameron tak ingin target itu rusak dengan adanya perdagangan seks di seputar venue Olimpiade. Cameron menyadari jika prostitusi tak dilarang di Inggris, tapi dia meminta kegiatan itu jeda selama multievent itu berlangsung. Wali Kota London Boris Johnson mendukung keinginan sang perdana menteri.
Dia bahkan secara terbuka mendukung tindakan keras terhadap perdagangan seks jelang Olimpiade. “Kami bertekad menindak pelacuran dan perdagangan manusia dalam jangka waktu selama Olimpiade,” kata Johnson.
Namun,Johnson sedikit pesimistis terkait penangkapan pelaku seks. Sebab, keberadaan mereka seakan tak pernah habis, kendati telah melakukan penangkapan secara besar-besaran. Itu tak lepas dari keberadaan imigran gelap dari Brasil maupun Eropa Timur.
Mereka bahkan semakin antusias mendatangi London bertepatan Olimpiade tahun ini. Bahkan, penutupan rumah bordil membuat mereka berani menjajakan diri ke jalan. Mereka seakan menentang kebijakan pemerintah setempat, apalagi keberadaan mereka telah disetujui sah sebelumnya.
Catherine Stephens ,misalnya. Salah satu pelacur di seputaran venue Olimpiade itu menilai kebijakan pemerintah akan mematikan pendapatan daerah. Dia tak menepis jika pendapatan terbesar Kota London dari perdagangan seks. “Dengan adanya kebijakan itu, pendapatan kami jelas berkurang. Kondisi tersebut membuat saya berencana mengambil cuti ketimbang berurusan dengan para aparat yang terlihat bermuka dua saat menangkapi kami,” katanya.
Kebijakan itu membuat para penjaja seks tak lagi bisa bergerak leluasa. Kendati sempat menjajakan diri di kompleks venue Olimpiade, pihak keamanan setempat menyapu bersih keberadaan mereka.
“Selama dua tahun terakhir,kami melihat peningkatan nyata dalam aktivitas polisi memberantas seks komersial. Bahkan,polisi telah menutup sebagian besar rumah bordil yang ada di sekitar venue Olimpiade,”ujar Anggota Lembaga Sosial Masyarakat Inggris, Georgina Perry, dilansir Yahoosport.
Menurut Perry, suasana kondusif tanpa keberadaan wanita penghibur sangat dibutuhkan negaranya. Maklum, dia mendapat gambaran jika Inggris ingin meraup banyak keuntungan, selain sukses sebagai tuan rumah. Perdana Menteri Inggris David Cameron membenarkan bahwa Inggris ingin mewujudkan target itu, yakni mendapat laba sekitar 13 miliar pounds. Target itu bisa terealisasi, karena akan banyak tamu negara yang akan singgah di London.
Bukan saja para atlet, tapi juga para fans negara peserta. Karena itu, Cameron tak ingin target itu rusak dengan adanya perdagangan seks di seputar venue Olimpiade. Cameron menyadari jika prostitusi tak dilarang di Inggris, tapi dia meminta kegiatan itu jeda selama multievent itu berlangsung. Wali Kota London Boris Johnson mendukung keinginan sang perdana menteri.
Dia bahkan secara terbuka mendukung tindakan keras terhadap perdagangan seks jelang Olimpiade. “Kami bertekad menindak pelacuran dan perdagangan manusia dalam jangka waktu selama Olimpiade,” kata Johnson.
Namun,Johnson sedikit pesimistis terkait penangkapan pelaku seks. Sebab, keberadaan mereka seakan tak pernah habis, kendati telah melakukan penangkapan secara besar-besaran. Itu tak lepas dari keberadaan imigran gelap dari Brasil maupun Eropa Timur.
Mereka bahkan semakin antusias mendatangi London bertepatan Olimpiade tahun ini. Bahkan, penutupan rumah bordil membuat mereka berani menjajakan diri ke jalan. Mereka seakan menentang kebijakan pemerintah setempat, apalagi keberadaan mereka telah disetujui sah sebelumnya.
Catherine Stephens ,misalnya. Salah satu pelacur di seputaran venue Olimpiade itu menilai kebijakan pemerintah akan mematikan pendapatan daerah. Dia tak menepis jika pendapatan terbesar Kota London dari perdagangan seks. “Dengan adanya kebijakan itu, pendapatan kami jelas berkurang. Kondisi tersebut membuat saya berencana mengambil cuti ketimbang berurusan dengan para aparat yang terlihat bermuka dua saat menangkapi kami,” katanya.
(akr)