Kontingen Indonesia kurang dukungan di Olimpiade London
Selasa, 24 Juli 2012 - 14:44 WIB
Kontingen Indonesia kurang dukungan di Olimpiade London
A
A
A
Sindonews.com - Kontingen Indonesia di Olimpiade London mereka menyatakan sudah siap berlaga di pesta olahraga se-dunia itu, yang digelar selama 27 Juli-12 Agustus 2012. Namun mereka kurang mendapatkan dukungan baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Anggota Komisi 10 DPR, Renny Marlina Wati mengatakan persiapan atlet menjelang Olimpiade London kurang mendapatkan respon yang positif dari masyarakat. Hal ini di karenakan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah.
"Saya melihat sosialisasi yang dilakukan pemerintah sangat kurang. Ini disebabkan karena banyaknya kasus yang sedang dihadapi Indonesia, salah satunya Hambalang," jelas Renny ketika dihubungi, Selasa (24/7/2012).
Diakuinya, kasus tersebut sangat menyorot perhatian masyarakat serta pemerintah sehingga masalah Olimpiade London tertutup oleh kasus besar tersebut. Jadi dapat dikatakan para atlet hanya mendapatkan support dari keluarga, lembaga serta kementerian terkait untuk membawa harum nama Indonesia.
Renny menambahkan selain kurangnya support dari pemerintah, Olimpiade London tahun ini ada hal yang menarik dimana jumlah atlet lebih sedikit dibandingkan official yang mendampingi para atlet tersebut.
Karenanya, anggota dari fraksi PPP ini menilai hal tersebut sangat tidak efektif jika para official lebih banyak dibandingkan atletnya itu sendiri.
"Saya menilai sangat tidak pantas dilakukan, sebab pemerintah sudah mengeluarkan 26,5 Milliar untuk keperluan para atlet serta pelatih selama berjuang disana," katanya.
"Tapi kenyataannya malah berbeda ada sejumlah oficial yang membawa istri serta keluarga ke London," tambahnya.
Mengenai prestasi yang didapat para atlet atau bonus, pemerintah sudah menetapkan standarnya yaitu 1 Milliar untuk raihan satu emas dan untuk satu atlet. Namun, Ketika ditanya apakah pelatih juga mendapatkan bonus yang sama, Renny mengatakan pasti ada, tetapi dirinya enggan menyebutkan nominalnya.
Anggota Komisi 10 DPR, Renny Marlina Wati mengatakan persiapan atlet menjelang Olimpiade London kurang mendapatkan respon yang positif dari masyarakat. Hal ini di karenakan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah.
"Saya melihat sosialisasi yang dilakukan pemerintah sangat kurang. Ini disebabkan karena banyaknya kasus yang sedang dihadapi Indonesia, salah satunya Hambalang," jelas Renny ketika dihubungi, Selasa (24/7/2012).
Diakuinya, kasus tersebut sangat menyorot perhatian masyarakat serta pemerintah sehingga masalah Olimpiade London tertutup oleh kasus besar tersebut. Jadi dapat dikatakan para atlet hanya mendapatkan support dari keluarga, lembaga serta kementerian terkait untuk membawa harum nama Indonesia.
Renny menambahkan selain kurangnya support dari pemerintah, Olimpiade London tahun ini ada hal yang menarik dimana jumlah atlet lebih sedikit dibandingkan official yang mendampingi para atlet tersebut.
Karenanya, anggota dari fraksi PPP ini menilai hal tersebut sangat tidak efektif jika para official lebih banyak dibandingkan atletnya itu sendiri.
"Saya menilai sangat tidak pantas dilakukan, sebab pemerintah sudah mengeluarkan 26,5 Milliar untuk keperluan para atlet serta pelatih selama berjuang disana," katanya.
"Tapi kenyataannya malah berbeda ada sejumlah oficial yang membawa istri serta keluarga ke London," tambahnya.
Mengenai prestasi yang didapat para atlet atau bonus, pemerintah sudah menetapkan standarnya yaitu 1 Milliar untuk raihan satu emas dan untuk satu atlet. Namun, Ketika ditanya apakah pelatih juga mendapatkan bonus yang sama, Renny mengatakan pasti ada, tetapi dirinya enggan menyebutkan nominalnya.
(wbs)