Triyatno: Berkah dari Allah
Kamis, 02 Agustus 2012 - 10:37 WIB
Triyatno: Berkah dari Allah
A
A
A
Sindonews.com – Cabang angkat besi kembali menyumbangkan medali. Setelah Eko Yuli Irawan, kini giliran lifter Triyatno yang menorehkan prestasinya pada Olimpiade 2012 London dengan merebut medali perak kelas 69 kg di Excel London, dini hari kemarin.
Ini torehan yang luar biasa dari cabang angkat besi.Sebab,setelah Risa Rumbewas mencatatkan medali perak pada Olimpiade 2000 Sydney dan 2004 Athena,baru kali ini lagi Indonesia bisa medali meraih perak di cabang angkat besi.Terpenting,ini merupakan perak pertama angkat besi Indonesia di nomor putra Olimpiade. Triyatno,22,meraih posisi runner-up setelah meraih angkatan total 333 kg dengan angkatan snatch 145 kg serta clean & jerk 188 kg.
Dia unggul 1 kg atas lifter Rumania Martin Razvan Constantin yang meraih perunggu dengan total angkatan 332 kg.Sementara medali emas direbut lifter China Lin Qingfeng Lifter yang mencatatkan total angkatan 344 kg. Prestasi yang diraih Triyatno ini bukanlah yang pertama di Olimpiade.Pada Olimpiade 2008 Beijing,dia juga menjadi salah satu dari dua peraih medali perunggu Indonesia dari cabang angkat besi.Satu lainnya disumbangkan Eko yang juga merebut medali perunggu kelas 62 kg Olimpiade 2012 London.
”Saya bahagia bisa mempersembahkan medali perak untuk Indonesia.Ini berkah dari Allah,”kata Triyatno,lewat pesan singkat yang diterima HATTRICK. Triyatno mengatakan sebenarnya lebih percaya diri meraih medali perunggu. Bahkan,dia sudah mengamankan prestasi itu sejak sukses mengangkat beban seberat 186 kg. Namun, Pelatih Lukman mengatakan harus total pada angkatan terakhir kalau ingin mendapat lebih baik dari perunggu,yakni 188 kg.
Yang menarik,atlet asal Kalimantan Timur itu belum pernah melakukan itu sebelumnya. Bahkan,dalam latihan sekalipun.Dia pun nyaris gagal.Kakinya sempat terseok-seok menahan beban seberat itu. ”Dalam hati saya berkata,saya harus mati-matian menahan,ini kesempatan terakhir saya.Kalau perlu, mati di sini tidak apa-apa.Alhamdulillah, saya akhirnya bisa menahan barbel sampai wasit memijit bel,”kata Triyatno.
Triyatno mengaku tidak menyangka akan meraih medali perak.Apalagi, angkatan snatch-nya kurang memuaskan, yakni 145 kg.Padahal,dia pernah mencatatkan angkatan snatch terbaik, yakni 150kg. Hal senada disampaikan Lukman.Dia juga tak memperkirakan anak didiknya meraih perak pada Olimpiade London 2012 ini.Maksimal perunggu.
Ini memang hasil perjuangan keras dan panjang Triyatno.Anak keluarga petani itu mengawali olahraga angkat besi pada usia 14 tahun. “Waktu itu diajak teman ikut berlatih. Ya,sudah saya ikut saja.Pertama latihan badan sakit semua,”kata atlet yang lahir dan besar di Lampung ini. Hasil latihan kerasnya itu kini sudah berbuah.
Setelah merebut medali perunggu Olimpiade 2008 Beijing,dia juga meraih emas pada Kejuaraan Asia 2009 Kazakhstan dan perunggu di Kejuaraan Dunia 2009 dan 2010.Kini,dia melengkapi prestasinya dengan perak Olimpiade 2012 London. Yang jelas,berkat prestasi itu kehidupan Triyatno berubah total.Dari hasil bonus prestasi,dia bisa memberangkatkan orang tuanya berhaji.
Ini torehan yang luar biasa dari cabang angkat besi.Sebab,setelah Risa Rumbewas mencatatkan medali perak pada Olimpiade 2000 Sydney dan 2004 Athena,baru kali ini lagi Indonesia bisa medali meraih perak di cabang angkat besi.Terpenting,ini merupakan perak pertama angkat besi Indonesia di nomor putra Olimpiade. Triyatno,22,meraih posisi runner-up setelah meraih angkatan total 333 kg dengan angkatan snatch 145 kg serta clean & jerk 188 kg.
Dia unggul 1 kg atas lifter Rumania Martin Razvan Constantin yang meraih perunggu dengan total angkatan 332 kg.Sementara medali emas direbut lifter China Lin Qingfeng Lifter yang mencatatkan total angkatan 344 kg. Prestasi yang diraih Triyatno ini bukanlah yang pertama di Olimpiade.Pada Olimpiade 2008 Beijing,dia juga menjadi salah satu dari dua peraih medali perunggu Indonesia dari cabang angkat besi.Satu lainnya disumbangkan Eko yang juga merebut medali perunggu kelas 62 kg Olimpiade 2012 London.
”Saya bahagia bisa mempersembahkan medali perak untuk Indonesia.Ini berkah dari Allah,”kata Triyatno,lewat pesan singkat yang diterima HATTRICK. Triyatno mengatakan sebenarnya lebih percaya diri meraih medali perunggu. Bahkan,dia sudah mengamankan prestasi itu sejak sukses mengangkat beban seberat 186 kg. Namun, Pelatih Lukman mengatakan harus total pada angkatan terakhir kalau ingin mendapat lebih baik dari perunggu,yakni 188 kg.
Yang menarik,atlet asal Kalimantan Timur itu belum pernah melakukan itu sebelumnya. Bahkan,dalam latihan sekalipun.Dia pun nyaris gagal.Kakinya sempat terseok-seok menahan beban seberat itu. ”Dalam hati saya berkata,saya harus mati-matian menahan,ini kesempatan terakhir saya.Kalau perlu, mati di sini tidak apa-apa.Alhamdulillah, saya akhirnya bisa menahan barbel sampai wasit memijit bel,”kata Triyatno.
Triyatno mengaku tidak menyangka akan meraih medali perak.Apalagi, angkatan snatch-nya kurang memuaskan, yakni 145 kg.Padahal,dia pernah mencatatkan angkatan snatch terbaik, yakni 150kg. Hal senada disampaikan Lukman.Dia juga tak memperkirakan anak didiknya meraih perak pada Olimpiade London 2012 ini.Maksimal perunggu.
Ini memang hasil perjuangan keras dan panjang Triyatno.Anak keluarga petani itu mengawali olahraga angkat besi pada usia 14 tahun. “Waktu itu diajak teman ikut berlatih. Ya,sudah saya ikut saja.Pertama latihan badan sakit semua,”kata atlet yang lahir dan besar di Lampung ini. Hasil latihan kerasnya itu kini sudah berbuah.
Setelah merebut medali perunggu Olimpiade 2008 Beijing,dia juga meraih emas pada Kejuaraan Asia 2009 Kazakhstan dan perunggu di Kejuaraan Dunia 2009 dan 2010.Kini,dia melengkapi prestasinya dengan perak Olimpiade 2012 London. Yang jelas,berkat prestasi itu kehidupan Triyatno berubah total.Dari hasil bonus prestasi,dia bisa memberangkatkan orang tuanya berhaji.
(wbs)