Benarkah ganja tergolong doping?
Kamis, 09 Agustus 2012 - 18:55 WIB
Benarkah ganja tergolong doping?
A
A
A
Sindonews.com - Meski secara umum ganja dianggap tidak akan memberi manfaat bagi atlet dalam olahraga berkecepatan tinggi, Namun beberapa ahli berpendapat ganja bisa membantu dalam olahraga seperti menembak atau golf yang memerlukan tangan yang stabil.
Walau masih menjadi perdebatan namun kasus dikeluarkannya atlet yudo Amerika Nick Delpopolo dari Olimpiade London 2012 pada Senin (6/8) setelah hasil tesnya positif menunjukkan ia mengkonsumsi mariyuana, hal itu mendorong para ilmuwan mempertanyakan logika di balik dimasukkannya substansi tersebut dalam daftar terlarang Badan Anti Doping Dunia (WADA).
Hanya sedikit ahli yang berpendapat bahwa mariyuana, atau ganja, baik dimakan atau dihisap, dapat meningkatkan kecepatan, kekuatan, daya atau presisi yang diinginkan para atlet Olimpiade.
Dan banyak yang berpikir apa tidak lebih baik jika waktu, usaha dan biaya yang dilakukan untuk menguji para atlet dipakai untuk mengejar mereka yang curang dengan mengkonsumsi EPO atau steroid anabolik pop untuk meningkatkan kadar testosteron dan pertumbuhan otot.
“Tidak ada bukti bahwa ganja itu dapat meningkatkan performa dalam olahraga. Dan karena penggunaannya legal di sejumlah negara, tidak ada alasan bagi WADA untuk melarangnya,” ujar David Nutt, profesor neuropsikofarmakologi di Imperial College London kepada sportvoa, Kamis (9/8/2012).
“Saya tidak bisa menemukan cabang olahraga manapun yang dapat memanfaatkan [ganja]. Sepertinya konyol jika orang bisa secara legal merokok ganja di Amsterdam pada pagi hari lalu datang ke London siangnya untuk dikeluarkan dari kompetisi.”
Disisi lain peraturan WADA menyatakan hukuman skors dua tahun bagi para atlet yang sistem tubuhnya mengandung ganja selama kompetisi.
Namun badan anti doping tersebut tidak memberikan sanksi bagi mereka yang hasil tesnya positif mengandung mariyuana di luar waktu kompetisi, saat kamp pelatihan atau selama istirahat.
Para ilmuwan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan standar ganda dan bahwa larangan ganja dari WADA lebih bersifat politis daripada ilmiah.
“Masalahnya adalah para atlet elit seharusnya dilihat sebagai panutan, jadi mereka seharusnya melarang ganja karena tidak ingin ada citra pemenang medali emas yang mengunakan mariyuana,” ujar seorang ilmuwan olahraga Inggris yang menolak disebut namanya. pungkasnya.
Walau masih menjadi perdebatan namun kasus dikeluarkannya atlet yudo Amerika Nick Delpopolo dari Olimpiade London 2012 pada Senin (6/8) setelah hasil tesnya positif menunjukkan ia mengkonsumsi mariyuana, hal itu mendorong para ilmuwan mempertanyakan logika di balik dimasukkannya substansi tersebut dalam daftar terlarang Badan Anti Doping Dunia (WADA).
Hanya sedikit ahli yang berpendapat bahwa mariyuana, atau ganja, baik dimakan atau dihisap, dapat meningkatkan kecepatan, kekuatan, daya atau presisi yang diinginkan para atlet Olimpiade.
Dan banyak yang berpikir apa tidak lebih baik jika waktu, usaha dan biaya yang dilakukan untuk menguji para atlet dipakai untuk mengejar mereka yang curang dengan mengkonsumsi EPO atau steroid anabolik pop untuk meningkatkan kadar testosteron dan pertumbuhan otot.
“Tidak ada bukti bahwa ganja itu dapat meningkatkan performa dalam olahraga. Dan karena penggunaannya legal di sejumlah negara, tidak ada alasan bagi WADA untuk melarangnya,” ujar David Nutt, profesor neuropsikofarmakologi di Imperial College London kepada sportvoa, Kamis (9/8/2012).
“Saya tidak bisa menemukan cabang olahraga manapun yang dapat memanfaatkan [ganja]. Sepertinya konyol jika orang bisa secara legal merokok ganja di Amsterdam pada pagi hari lalu datang ke London siangnya untuk dikeluarkan dari kompetisi.”
Disisi lain peraturan WADA menyatakan hukuman skors dua tahun bagi para atlet yang sistem tubuhnya mengandung ganja selama kompetisi.
Namun badan anti doping tersebut tidak memberikan sanksi bagi mereka yang hasil tesnya positif mengandung mariyuana di luar waktu kompetisi, saat kamp pelatihan atau selama istirahat.
Para ilmuwan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan standar ganda dan bahwa larangan ganja dari WADA lebih bersifat politis daripada ilmiah.
“Masalahnya adalah para atlet elit seharusnya dilihat sebagai panutan, jadi mereka seharusnya melarang ganja karena tidak ingin ada citra pemenang medali emas yang mengunakan mariyuana,” ujar seorang ilmuwan olahraga Inggris yang menolak disebut namanya. pungkasnya.
(wbs)