Widyantoro ogah jadi 'kambing hitam' kegagalan PSS
Selasa, 18 September 2012 - 18:13 WIB
Widyantoro ogah jadi 'kambing hitam' kegagalan PSS
A
A
A
Sindonews.com – Pelatih PSS Sleman musim lalu, Widyantoro menolak dikambing hitamkan manajemen. Dia menampik kegagalan Elang Jawa, julukan PSS finish di papan atas karena kesalahan dirinya. Sebaliknya, dia meminta manajemen mengevaluasi semua lini agar tahu penyebabnya.
Wiwid, sapaan Widyantoro mengatakan, sebagai pelatih dirinya sudah berupaya maksimal mengangkat tim kebanggaan BCS dan Slemania. Dia berusaha memaksimalkan talenta muda Elang Jawa agar bisa bersaing dengan tim lain yang diguni pemain berkualitas, semacam Persik Kediri dan PSIS Semarang.
“Saya sudah bekerja maksimal. Materi yang ada dalam tim, talenta muda tim ini sudah saya eksplorasi. Saya ingin mereka berkembang dan bisa bersaing dengan tim lain yang materinya lebih baik. Nyatanya mereka mampu,” kata Wiwid, Selasa (18/9/2012).
Dia menjelaskan, membentuk tim berkualitas tidak dapat dilakukan secara instan. Terlebih, materi skuad Elang Jawa terbilang cukup muda dan minim pengalaman. Tapi dengan talenta yang dimilikinya, plus tambahan jam terbang cukup hasil manis baru dapat dilihat dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
“Ini bukan proyek instan. Kalau memang mau langsung melihat hasil akhir, maka bukan pemain muda yang digunakan tetap pemain yang benar-benar sudah matang. Untuk pemain muda, butuh dua sampai tiga tahun agar benar-benar siap. Karena mereka butuh proses berkembang,” jelas dia.
Dia mengatakan, hasil akhir finish di papan tengah yang diraih Elang Jawa sebenarnya sudah cukup baik. Secara teknis, tidak ada persoalan mendasar dalam tim ini. Hanya saja dia mengakui, memenangkan pertandingan bukan melulu soal teknis. Ada faktor lain yang juga harus diperhatikan.
“Secara teknis kita bagus. Tidak ada masalah. Tapi di luar itu, kita tidak bisa berbuat banyak. Berapa kali kita kehilangan poin karena dikerjai. Hal-hal seperti itu kan seharusnya juga jadi pertimbangan,” terang dia.
“Bagi saya, tidak masalah ketika manajemen mengevaluasi. Cuma, saya meminta agar evaluasi itu dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya satu sisi saja. Sehingga hasilnya benar-benar fair dan tidak menghakimi satu pihak. Tim ini bukan hanya saya sebagai pelatih, tapi juga ada pemain dan manajemen,” imbuhnya.
Pustopo, Sekretaris Umum PSS sebelumnya mengatakan kegagalan tim tembus papan atas bakal dievaluasi manajemen. Kinerja Widyantoro selaku pelatih turut dievaluasi. “Kita akan lihat apa masalahnya. Semuanya akan kita evaluasi. Yang pasti target papan atas gagal tercapai,” kata dia.
Wiwid, sapaan Widyantoro mengatakan, sebagai pelatih dirinya sudah berupaya maksimal mengangkat tim kebanggaan BCS dan Slemania. Dia berusaha memaksimalkan talenta muda Elang Jawa agar bisa bersaing dengan tim lain yang diguni pemain berkualitas, semacam Persik Kediri dan PSIS Semarang.
“Saya sudah bekerja maksimal. Materi yang ada dalam tim, talenta muda tim ini sudah saya eksplorasi. Saya ingin mereka berkembang dan bisa bersaing dengan tim lain yang materinya lebih baik. Nyatanya mereka mampu,” kata Wiwid, Selasa (18/9/2012).
Dia menjelaskan, membentuk tim berkualitas tidak dapat dilakukan secara instan. Terlebih, materi skuad Elang Jawa terbilang cukup muda dan minim pengalaman. Tapi dengan talenta yang dimilikinya, plus tambahan jam terbang cukup hasil manis baru dapat dilihat dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
“Ini bukan proyek instan. Kalau memang mau langsung melihat hasil akhir, maka bukan pemain muda yang digunakan tetap pemain yang benar-benar sudah matang. Untuk pemain muda, butuh dua sampai tiga tahun agar benar-benar siap. Karena mereka butuh proses berkembang,” jelas dia.
Dia mengatakan, hasil akhir finish di papan tengah yang diraih Elang Jawa sebenarnya sudah cukup baik. Secara teknis, tidak ada persoalan mendasar dalam tim ini. Hanya saja dia mengakui, memenangkan pertandingan bukan melulu soal teknis. Ada faktor lain yang juga harus diperhatikan.
“Secara teknis kita bagus. Tidak ada masalah. Tapi di luar itu, kita tidak bisa berbuat banyak. Berapa kali kita kehilangan poin karena dikerjai. Hal-hal seperti itu kan seharusnya juga jadi pertimbangan,” terang dia.
“Bagi saya, tidak masalah ketika manajemen mengevaluasi. Cuma, saya meminta agar evaluasi itu dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya satu sisi saja. Sehingga hasilnya benar-benar fair dan tidak menghakimi satu pihak. Tim ini bukan hanya saya sebagai pelatih, tapi juga ada pemain dan manajemen,” imbuhnya.
Pustopo, Sekretaris Umum PSS sebelumnya mengatakan kegagalan tim tembus papan atas bakal dievaluasi manajemen. Kinerja Widyantoro selaku pelatih turut dievaluasi. “Kita akan lihat apa masalahnya. Semuanya akan kita evaluasi. Yang pasti target papan atas gagal tercapai,” kata dia.
(akr)