Karateka Indonesia borong tiga emas
Sabtu, 29 September 2012 - 00:45 WIB
Karateka Indonesia borong tiga emas
A
A
A
Sindonews.com - Tim karate junior Indonesia berjaya di hari pertama Southeast Asian Championship 2012. Mereka meraih tiga emas dari nomor kumite perorangan kadet putra, kumite yunior putri, dan kadet individual kata putra pada hari pertama kejuaraan Southeast Asian Championship 1012 di Bangkok, Thailand, Jumat (28/9).
Emas pertama Indonesia disumbangkan karateka Renaldy Sutantio Pratama yang di pertandingan final mengalahkan karateka tuan rumah Kiwtakob Krawit dengan skor telak 3-0. Karateka yang akrab disapa Tio ini, sempat membuat jantung para pendukung tim Indonesia yang tinggal di Bangkok cemas. Pasalnya saat pertandingan baru dimulai, Tio mengalami kram pada kaki kanannya.
Apalagi, satu menit menjelang pertandingan berakhir Tio belum juga bisa berdiri untuk melanjutkan pertandingan. Motivasi yang diberikan pelatih dan masyarakat Indonesia di Bangkok, membuat Tio bangkit dan mampu melanjutkan pertandingan. Semangat juang tinggi itulah yang membuat peraih medali emas PON XVIII/2012 untuk kontingen Sulsel itu, mampu mengalahkan karateka tuan rumah dengan skor tlak 3-0.
''Begitu kaki saya kram, rasanya saya tidak bisa bangkit lagi. Dukungan dari tim pelatih, rekan-rekan, dan masyarakat Indonesia di Bangkok membuat saya mampu bangkit dan mengalahkan karateka tuan rumah,” ujar Tio seusai menerima ucapan selamat dari Ketua Umum PB FORKI Hendarji Supanji.
Emas kedua Indonesia disumbangkan Aprilia Vina yang pada pertandingan final mengalahkan karateka Thailand, Thongwande Shinit dengan skor 2-1. Vina yang sampat memimpin 1-0, mampu disamakan menjadi 1-1 oleh Shinit. Pada saat skor sama 1-1, pertandingan berlangsung sengit karena karateka tuan rumah memberikan perlawanan keras. Namun akhirnya Vina mampu menyudahi perlawanan Shinit setelah mendapatkan ipong dan wazari.
''Alhamdulillah, saya mampu mengalahkan karateka tuan rumah. Pertandingan tadi cukup sulit, sebab lawan tampil ngotot karena ingin menang. Tapi saya berusaha tampil tenang, dan Alhamdulillah saya mampu mememangkan pertandingan,” ujarnya.
Sedangkan emas ketiga dipersembahkan Stanley Soegianto yang mengalahkan karateka Thailand Wijitnavee Korrokot. Stanley tampil gemilang sejak awal hingga final.
Ketua Umum PB FORKI Hendarji Supanji yang baru terpilih menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara, mengatakan perjuangan para karateka Indonesia belum selesai karena pertandingan baru hari pertama. Namun begitu, Hendarji mengaku bangga atas prestasi tersebut. ''Masih ada dua hari lagi, masih terbuka kesempatan untuk menambah medali. Target kami mampu meraih lima medali emas,” tutur mantan Komandan Pusat POM TNI ini.
Sebelum pertandingan dibuka, pada Kamis (27/9) malam Hendarji terpilih menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara melalui kongkres. Dalam kongres tersebut, perwakilan negara Asia Tenggara sepakat menunjuk Hendarji menjadi presiden. Menanggapi terpilihnya dia menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara, Hendarji mengatakan, seluruh perwakilan Negara Asia Tenggara sepakat memilih dirinya karena selama ini sudah menunjukkan kinerja yang baik.
''Dulu saya terpilih sebagai Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara bukan melalui kongres, tapi pemilihan biasa. Saat itu kondisinya memang serba terjepit, makanya seluruh perwakilan Negara Asia Tenggara tetap menginginkan adanya kongres. Alhamdulillah, para perwakilan itu percaya dan semua sepakat menunjuk saya menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara,” terangnya.
Emas pertama Indonesia disumbangkan karateka Renaldy Sutantio Pratama yang di pertandingan final mengalahkan karateka tuan rumah Kiwtakob Krawit dengan skor telak 3-0. Karateka yang akrab disapa Tio ini, sempat membuat jantung para pendukung tim Indonesia yang tinggal di Bangkok cemas. Pasalnya saat pertandingan baru dimulai, Tio mengalami kram pada kaki kanannya.
Apalagi, satu menit menjelang pertandingan berakhir Tio belum juga bisa berdiri untuk melanjutkan pertandingan. Motivasi yang diberikan pelatih dan masyarakat Indonesia di Bangkok, membuat Tio bangkit dan mampu melanjutkan pertandingan. Semangat juang tinggi itulah yang membuat peraih medali emas PON XVIII/2012 untuk kontingen Sulsel itu, mampu mengalahkan karateka tuan rumah dengan skor tlak 3-0.
''Begitu kaki saya kram, rasanya saya tidak bisa bangkit lagi. Dukungan dari tim pelatih, rekan-rekan, dan masyarakat Indonesia di Bangkok membuat saya mampu bangkit dan mengalahkan karateka tuan rumah,” ujar Tio seusai menerima ucapan selamat dari Ketua Umum PB FORKI Hendarji Supanji.
Emas kedua Indonesia disumbangkan Aprilia Vina yang pada pertandingan final mengalahkan karateka Thailand, Thongwande Shinit dengan skor 2-1. Vina yang sampat memimpin 1-0, mampu disamakan menjadi 1-1 oleh Shinit. Pada saat skor sama 1-1, pertandingan berlangsung sengit karena karateka tuan rumah memberikan perlawanan keras. Namun akhirnya Vina mampu menyudahi perlawanan Shinit setelah mendapatkan ipong dan wazari.
''Alhamdulillah, saya mampu mengalahkan karateka tuan rumah. Pertandingan tadi cukup sulit, sebab lawan tampil ngotot karena ingin menang. Tapi saya berusaha tampil tenang, dan Alhamdulillah saya mampu mememangkan pertandingan,” ujarnya.
Sedangkan emas ketiga dipersembahkan Stanley Soegianto yang mengalahkan karateka Thailand Wijitnavee Korrokot. Stanley tampil gemilang sejak awal hingga final.
Ketua Umum PB FORKI Hendarji Supanji yang baru terpilih menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara, mengatakan perjuangan para karateka Indonesia belum selesai karena pertandingan baru hari pertama. Namun begitu, Hendarji mengaku bangga atas prestasi tersebut. ''Masih ada dua hari lagi, masih terbuka kesempatan untuk menambah medali. Target kami mampu meraih lima medali emas,” tutur mantan Komandan Pusat POM TNI ini.
Sebelum pertandingan dibuka, pada Kamis (27/9) malam Hendarji terpilih menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara melalui kongkres. Dalam kongres tersebut, perwakilan negara Asia Tenggara sepakat menunjuk Hendarji menjadi presiden. Menanggapi terpilihnya dia menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara, Hendarji mengatakan, seluruh perwakilan Negara Asia Tenggara sepakat memilih dirinya karena selama ini sudah menunjukkan kinerja yang baik.
''Dulu saya terpilih sebagai Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara bukan melalui kongres, tapi pemilihan biasa. Saat itu kondisinya memang serba terjepit, makanya seluruh perwakilan Negara Asia Tenggara tetap menginginkan adanya kongres. Alhamdulillah, para perwakilan itu percaya dan semua sepakat menunjuk saya menjadi Presiden Asosiasi Karate Asia Tenggara,” terangnya.
(aww)