Pemain berhak memilih klub
Rabu, 10 Oktober 2012 - 20:48 WIB
Pemain berhak memilih klub
A
A
A
Sindonews.com - Penggawa Juku Eja diminta konsisten memperjuangkan nasibnya dalam tim untuk kompetisi Indonesian Premier League (IPL) musim mendatang. Eks palang pintu PSM Makassar era Liga Indonesia (LI) Ali Baba mengatakan, dalam era sepak bola modern sudah waktunya pemain, menentukan nasibnya sendiri, dalam memilih klub.
Menurut dia, jika hanya berharap pada satu klub, pemain akan sulit berkembang. Termasuk ada kemungkinan nasibnya bakal menggantung saat kontrak. ''Ini yang saya lihat pada pemain-pemain PSM saat ini,” jelasnya.
Pria yang pernah menjadi asisten pelatih Rudi Minkovski di PSM LI tahun 2008 lalu mengatakan, jika merasa diri profesional, tidak tabu menerima tawaran klub lain. ''Banyak klub yang membutuhkan pemain berkualitas, kalau dapat tawaran silakan ambil,” katanya.
Apalagi saat ini, peluang untuk bermain di klub lain sangat terbuka dengan adanya dualisme kompetisi liga.''Banyak peluang di luar yang memungkinkan mereka bisa diterima,” ucapnya.
Namun untuk wajah-wajah muda atau pemain junior menurut Ali, harus berhitung dengan matang dalam menentukan nasibnya. ''Pemain muda harus buktikan dulu kemampuan baru bisa meminta perlakukan khusus,” tegasnya.
Sebab, menurut dia, bisa saja klub dengan mudah melepas pemain muda, tanpa mempertimbangkan nasib selanjutnya. “Itulah dinamika sepakbola profesional dan harus dipahami oleh pemain,” tuturnya.
Diminta tanggapannya soal tidak jelasnya kompetisi musim ini, Ali mengatakan, persoalan tersebut membuat gamang pemain. ''Bagaimana mau berprestasi kalau semuanya serba tidak pasti,” ucapnya.
Dia berharap, PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) selaku penanggung jawab Liga Premier Indonesia (LPI), memberikan kepastian jadwal kompetisi. ''Saya khawatir, LPI musim depan masih jalan atau tidak,” jelasnya.
Karena jika berkaca dari kompetisi saingannya yanki Liga Super Indonesia (LSI), segala infrastrukturnya sudah siap. ''Bahkan saya dengar, sponsornya sudah siap,” pungkasnya.
Menurut dia, jika hanya berharap pada satu klub, pemain akan sulit berkembang. Termasuk ada kemungkinan nasibnya bakal menggantung saat kontrak. ''Ini yang saya lihat pada pemain-pemain PSM saat ini,” jelasnya.
Pria yang pernah menjadi asisten pelatih Rudi Minkovski di PSM LI tahun 2008 lalu mengatakan, jika merasa diri profesional, tidak tabu menerima tawaran klub lain. ''Banyak klub yang membutuhkan pemain berkualitas, kalau dapat tawaran silakan ambil,” katanya.
Apalagi saat ini, peluang untuk bermain di klub lain sangat terbuka dengan adanya dualisme kompetisi liga.''Banyak peluang di luar yang memungkinkan mereka bisa diterima,” ucapnya.
Namun untuk wajah-wajah muda atau pemain junior menurut Ali, harus berhitung dengan matang dalam menentukan nasibnya. ''Pemain muda harus buktikan dulu kemampuan baru bisa meminta perlakukan khusus,” tegasnya.
Sebab, menurut dia, bisa saja klub dengan mudah melepas pemain muda, tanpa mempertimbangkan nasib selanjutnya. “Itulah dinamika sepakbola profesional dan harus dipahami oleh pemain,” tuturnya.
Diminta tanggapannya soal tidak jelasnya kompetisi musim ini, Ali mengatakan, persoalan tersebut membuat gamang pemain. ''Bagaimana mau berprestasi kalau semuanya serba tidak pasti,” ucapnya.
Dia berharap, PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) selaku penanggung jawab Liga Premier Indonesia (LPI), memberikan kepastian jadwal kompetisi. ''Saya khawatir, LPI musim depan masih jalan atau tidak,” jelasnya.
Karena jika berkaca dari kompetisi saingannya yanki Liga Super Indonesia (LSI), segala infrastrukturnya sudah siap. ''Bahkan saya dengar, sponsornya sudah siap,” pungkasnya.
(aww)