Benny serius realisasikan PSMS bersatu
Selasa, 23 Oktober 2012 - 23:14 WIB
Benny serius realisasikan PSMS bersatu
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Umum (Ketum) PSMS versi pengurus harian, Benny Sihotang mengatakan, akan membuka babak baru rekonsiliasi dengan kepengurusan PSMS yang sebelumnya terbentuk diketuai Indra Sakti Harahap. Dirut PD Pasar Kota Medan itu yakin, PSMS bisa kembali bersatu.
Pada sesi wawancara dengan media usai terpilih sebagai ketum PSMS di Hotel Santika Dyandra, Minggu (21/10) lalu, Benny mengatakan, dirinya ingin PSMS Medan hanya satu. "Kalau saya ditanya, maunya satu, PSMS satu. Jika PSMS bersatu nantinya, Medan bakal menjadi contoh baik bagi sepakb ola nasional, seperti juga kekisruhan antara PSSI dan KPSI yang kami juga harapkan bisa berdamai," ujarnya.
Namun, seperti apa bentuk penyatuannya, Benny tidak merinci. Dia mengatakan, pihaknya tetap akan merangkul kubu Indra Sakti dkk. "Namanya PSMS itu milik seluruh masyarakat Kota Medan. Apalagi saat ini, masyarakat mendambakan prestasi. Saya optimistis bisa merangkul semua pihak untuk menjadikan PSMS ini satu. Dan kalau tidak optimistis, saya tidak mau jadi ketum," ungkapnya.
Kehadiran Benny Sihotang diperkirakan sedikit membuka peluang penyatuan PSMS lebih terbuka. Pasalnya, Freddy Hutabarat yang di awal sangat gigih ingin memegang tampuk kepemimpinan PSMS Medan, mundur jelang pemilihan dengan alasan, keinginannya agar PSMS berkompetisi di ranah PSSI tidak mendapat jawaban pasti.
"Target saya sejak awal PSMS harus bermain di kompetisi PSSI. Tapi Benny Tomasoa, Julius Raja dan lainnya tak bisa memberi jawaban. Saya hanya mau yang legal, yaitu kompetisi PSSI. Itu kenapa saya mundur," kata Freddy.
Freddy, tetap menginginkan Indra Sakti Harahap ikut jalur pemilihan yang diklain resmi, yakni RALB versi pengurus harian, dan siapa pemenangnya, akan menjadi ketum PSMS mutlak. Hal tersebut tegas ditolak Indra yang sejak awal "kekeuh" dengan pendiriannya. Lantas, apa jawaban Indra terkait peluang penyatuan PSMS yang menjadi optimisme Benny Sihotang?
"Yang perlu dipertanyakan itu adalah orang-orang yang mengaku pemegang hak suara 25 klub yang mendukung RALB mereka. Dari pantauan kami, paling hanya ada 10-11 klub yang betul, sebagiannya entah dari mana saja," ujar Indra.
Indra mengatakan, RALB tersebut merupakan bentuk penolakan tidak langsung terhadap kepengurusan PSMS yang dipimpinnya. "Kalau mau rekonsiliasi, seharusnya tidak dengan menggelar rapat seperti kemarin. Rapat yang mereka buat itu malah menjadikan jarak pemisah yang lebih lebar," katanya lagi
Indra mengaku kecewa dengan keadaan yang terjadi saat ini. Menurutnya, harapan PSMS untuk bisa berprestasi telah digagalkan sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab. Dualisme dikatakannya akan membuat sponsor tidak akan mau mendekat kepada PSMS.
"Atmosfer positif yang sudah kita bangun sekarang dirusak olehh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi bagaimanapun juga, kalau kondisinya sudah seperti sekarang, lebih baik jalan sendiri-sendiri," tegasnya.
Penyatuan PSMS Medan tetap saja bisa terjadi, jika pihak Benny Sihotang bisa lebih mengalah dengan kondisi ini. Apalagi, prosek kerja kedua kubu saat ini, ibarat bumi dan langit. Di saat tim besutan Suimin Diharja hampir terbentuk, kubu Benny Sihotang baru akan menyusun struktur kepengurusan, sedangkan pembentukan tim juga belum dilakukan.
Pada sesi wawancara dengan media usai terpilih sebagai ketum PSMS di Hotel Santika Dyandra, Minggu (21/10) lalu, Benny mengatakan, dirinya ingin PSMS Medan hanya satu. "Kalau saya ditanya, maunya satu, PSMS satu. Jika PSMS bersatu nantinya, Medan bakal menjadi contoh baik bagi sepakb ola nasional, seperti juga kekisruhan antara PSSI dan KPSI yang kami juga harapkan bisa berdamai," ujarnya.
Namun, seperti apa bentuk penyatuannya, Benny tidak merinci. Dia mengatakan, pihaknya tetap akan merangkul kubu Indra Sakti dkk. "Namanya PSMS itu milik seluruh masyarakat Kota Medan. Apalagi saat ini, masyarakat mendambakan prestasi. Saya optimistis bisa merangkul semua pihak untuk menjadikan PSMS ini satu. Dan kalau tidak optimistis, saya tidak mau jadi ketum," ungkapnya.
Kehadiran Benny Sihotang diperkirakan sedikit membuka peluang penyatuan PSMS lebih terbuka. Pasalnya, Freddy Hutabarat yang di awal sangat gigih ingin memegang tampuk kepemimpinan PSMS Medan, mundur jelang pemilihan dengan alasan, keinginannya agar PSMS berkompetisi di ranah PSSI tidak mendapat jawaban pasti.
"Target saya sejak awal PSMS harus bermain di kompetisi PSSI. Tapi Benny Tomasoa, Julius Raja dan lainnya tak bisa memberi jawaban. Saya hanya mau yang legal, yaitu kompetisi PSSI. Itu kenapa saya mundur," kata Freddy.
Freddy, tetap menginginkan Indra Sakti Harahap ikut jalur pemilihan yang diklain resmi, yakni RALB versi pengurus harian, dan siapa pemenangnya, akan menjadi ketum PSMS mutlak. Hal tersebut tegas ditolak Indra yang sejak awal "kekeuh" dengan pendiriannya. Lantas, apa jawaban Indra terkait peluang penyatuan PSMS yang menjadi optimisme Benny Sihotang?
"Yang perlu dipertanyakan itu adalah orang-orang yang mengaku pemegang hak suara 25 klub yang mendukung RALB mereka. Dari pantauan kami, paling hanya ada 10-11 klub yang betul, sebagiannya entah dari mana saja," ujar Indra.
Indra mengatakan, RALB tersebut merupakan bentuk penolakan tidak langsung terhadap kepengurusan PSMS yang dipimpinnya. "Kalau mau rekonsiliasi, seharusnya tidak dengan menggelar rapat seperti kemarin. Rapat yang mereka buat itu malah menjadikan jarak pemisah yang lebih lebar," katanya lagi
Indra mengaku kecewa dengan keadaan yang terjadi saat ini. Menurutnya, harapan PSMS untuk bisa berprestasi telah digagalkan sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab. Dualisme dikatakannya akan membuat sponsor tidak akan mau mendekat kepada PSMS.
"Atmosfer positif yang sudah kita bangun sekarang dirusak olehh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi bagaimanapun juga, kalau kondisinya sudah seperti sekarang, lebih baik jalan sendiri-sendiri," tegasnya.
Penyatuan PSMS Medan tetap saja bisa terjadi, jika pihak Benny Sihotang bisa lebih mengalah dengan kondisi ini. Apalagi, prosek kerja kedua kubu saat ini, ibarat bumi dan langit. Di saat tim besutan Suimin Diharja hampir terbentuk, kubu Benny Sihotang baru akan menyusun struktur kepengurusan, sedangkan pembentukan tim juga belum dilakukan.
(aww)