PSSI ngotot Nil pelatih, Riedl penasihat teknis
Selasa, 23 Oktober 2012 - 23:40 WIB
PSSI ngotot Nil pelatih, Riedl penasihat teknis
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Tim Joint Committee (JC) Todung Mulya Lubis menyayangkan mandeknya proses penyelesaian masalah tim nasional (timnas). Todung pun kembali tegas menyatakan, jika timnas di bawah PSSI yang akan berlaga di Piala AFF 2012.
Senin (22/10), anggota JC baik dari PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) kembali duduk bersama. Akan tetapi, pertemuan yang kali ini membahas soal kesiapan timnas jelang Piala AFF, tidak juga menemukan kata sepakat. Masing-masing pihak masih bersikukuh dengan keyakinannya masing-masing.
Dalam pembahasan tersebut, KPSI berkeyakinan jika Alfred Riedl adalah sosok yang paling tepat untuk menukangi timnas Garuda. Alasan itu diambil, setelah melihat kinerja pelatih asal Austria tersebut saat masih menukangi timnas di era kepemimpinan Nurdin Halid. Walau tidak mampu membawa Firman Utina dkk meraih gelar juara Piala AFF 2010, Riedl dinilai berhasil dalam mengangkat peringkat Indonesia di rangking FIFA.
"Saya belum tahu kapan pertemuan lanjutan setelah kemarin tidak terjadi kata sepakat soal timnas. Yang pasti, sejauh ini JC sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan dualisme timnas yang terjadi," ungkap Todung, saat dihubungi SINDO, kemarin.
"Mengupayakan timnas yang solid, timnas ada di bawah yuridiksi PSSI, itu adalah yang terus kami usahakan. Tapi memang sampai saat ini, semuanya belum bisa berjalan dengan semestianya. Kami tetap memberikan tempat pelatih kepala kepada Nil Maizar, sementara Riedl diposisikan sebagai penasihat timnas," sambung pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.
Todung pun menyampaikan alasannya, mengapa perwakilan JC PSSI menolak usulan KPSI yang menginginkan Riedl sebagai pelatih kepala. Bagi dirinya, jika PSSI mengamini apa yang diinginkan KPSI, malah akan merusak berbagai persiapan timnas jelang Piala AFF yang sudah semakin dekat tersebut. Timnas Garuda sendiri akan ditantang Laos pada laga perdana Piala AFF 2012, 25 November mendatang.
"KPSI ingin Riedl ada di atas, tapi kami merasa hal itu akan merusak konsentrasi timnas sendiri. Apalagi saat ini, waktu persiapan pun sudah semakin sempit. Kami tidak mau ada pergantian yang mendadak, malah merusak persiapan tim," papar Todung.
"Dalam keadaan seperti ini, timnas yang berlaga di Piala AFF nanti tetap timnas yang ada di bawah komando PSSI. Tapi saya sangat menyayangkan, jika nantinya tidak bisa memaksimalkan para pemain yang memang pantas masuk timnas," sambungnya.
Sementara itu, perwakilan JC dari pihak KPSI, Togar Manahan Nero, tetap berkeyakinan jika Riedl bisa mengangkat prestasi timnas yang semakin menurun. Togar pun seolah mempertanyakan sikpa PSSI, yang mengaku mendahulukan semuanya atas nama Merah Putih.
"Sekarang biar kami serahkan saja kepada mereka. Mereka itu selalu bilang semuanya untuk Merah Putih, tapi mereka bilang dengan adanya pergantian pelatih akan membuat Exco (Komite Eksekutif) PSSI marah. Itu apa? Apa itu yang namanya mementingkan Merah Putih?," papar Togar.
Senin (22/10), anggota JC baik dari PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) kembali duduk bersama. Akan tetapi, pertemuan yang kali ini membahas soal kesiapan timnas jelang Piala AFF, tidak juga menemukan kata sepakat. Masing-masing pihak masih bersikukuh dengan keyakinannya masing-masing.
Dalam pembahasan tersebut, KPSI berkeyakinan jika Alfred Riedl adalah sosok yang paling tepat untuk menukangi timnas Garuda. Alasan itu diambil, setelah melihat kinerja pelatih asal Austria tersebut saat masih menukangi timnas di era kepemimpinan Nurdin Halid. Walau tidak mampu membawa Firman Utina dkk meraih gelar juara Piala AFF 2010, Riedl dinilai berhasil dalam mengangkat peringkat Indonesia di rangking FIFA.
"Saya belum tahu kapan pertemuan lanjutan setelah kemarin tidak terjadi kata sepakat soal timnas. Yang pasti, sejauh ini JC sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan dualisme timnas yang terjadi," ungkap Todung, saat dihubungi SINDO, kemarin.
"Mengupayakan timnas yang solid, timnas ada di bawah yuridiksi PSSI, itu adalah yang terus kami usahakan. Tapi memang sampai saat ini, semuanya belum bisa berjalan dengan semestianya. Kami tetap memberikan tempat pelatih kepala kepada Nil Maizar, sementara Riedl diposisikan sebagai penasihat timnas," sambung pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.
Todung pun menyampaikan alasannya, mengapa perwakilan JC PSSI menolak usulan KPSI yang menginginkan Riedl sebagai pelatih kepala. Bagi dirinya, jika PSSI mengamini apa yang diinginkan KPSI, malah akan merusak berbagai persiapan timnas jelang Piala AFF yang sudah semakin dekat tersebut. Timnas Garuda sendiri akan ditantang Laos pada laga perdana Piala AFF 2012, 25 November mendatang.
"KPSI ingin Riedl ada di atas, tapi kami merasa hal itu akan merusak konsentrasi timnas sendiri. Apalagi saat ini, waktu persiapan pun sudah semakin sempit. Kami tidak mau ada pergantian yang mendadak, malah merusak persiapan tim," papar Todung.
"Dalam keadaan seperti ini, timnas yang berlaga di Piala AFF nanti tetap timnas yang ada di bawah komando PSSI. Tapi saya sangat menyayangkan, jika nantinya tidak bisa memaksimalkan para pemain yang memang pantas masuk timnas," sambungnya.
Sementara itu, perwakilan JC dari pihak KPSI, Togar Manahan Nero, tetap berkeyakinan jika Riedl bisa mengangkat prestasi timnas yang semakin menurun. Togar pun seolah mempertanyakan sikpa PSSI, yang mengaku mendahulukan semuanya atas nama Merah Putih.
"Sekarang biar kami serahkan saja kepada mereka. Mereka itu selalu bilang semuanya untuk Merah Putih, tapi mereka bilang dengan adanya pergantian pelatih akan membuat Exco (Komite Eksekutif) PSSI marah. Itu apa? Apa itu yang namanya mementingkan Merah Putih?," papar Togar.
(wbs)