Beban Jajang maksimalkan bintang Persib
Senin, 29 Oktober 2012 - 18:35 WIB
Beban Jajang maksimalkan bintang Persib
A
A
A
Sindonews.com - Pelatih Persib Bandung Jajang Nurjaman memiliki banyak pilihan di sejumlah posisi. Dengan dukungan materi pemain yang komplet, mantan pelatih Pelita Jaya Karawang U-21 dan asisten pelatih pelatih Pelita Jaya itu, punya peluang untuk mengakhiri paceklik gelar juara Persib selama 17 tahun.
Memiliki materi pemain nomor satu di hampir semua posisi, membuat Persib berada di posisi favorit juara Indonesia Super League (ISL) musim depan. Tapi materi pemain bintang ini pula yang sebenarnya jadi tantangan bagi Jajang untuk membuktikan dirinya pantas duduk di posisi pelatih Persib.
''Di beberapa posisi kita memiliki banyak pilihan. Di sayap kanan misalnya, bisa memaksimalkan kemampuan Supardi dan M. Ridwan yang bisa bertukar posisi dengan Atep di kiri. Kita ingin optimalkan materi pemain di semua posisi, terutama di sektor sayap,” terang Jajang.
Dari semua posisi, lini belakang dan lini depan bisa dikatakan masih memerlukan tambahan pemain. Namun, dibandingkan sektor striker, barisan kebutuhan pemain di lini belakang Persib cenderung bisa secepatnya di atasi karena Persib mendapatkan banyak tawaran bek berkualitas dari sejumlah agen pemain.
Memiliki materi pemain kelas satu menumbuhkan keyakinan dalam diri pemain. Salah satunya adalah wing back kanan anyar Persib yang baru bergabung, ahad lalu, Supardi Natsir. Mantan pemain PSMS Medan dan Sriwijaya FC tersebut menegaskan keputusannya pindah ke Persib karena cukup yakin Persib punya modal meraih prestasi tinggi.
''Kalau tidak yakin kenapa saya pilih ke sini (Persib). Persib punya banyak modal, suporter, sejarahnya dan materi pemain. Saya ingin berprestasi dan bermain sebagai starter di Persib,” tegas Supardi.
Belajar dari pengalaman terdahulu, Persib sebenarnya tak pernah mendapatkan jawaban terbaik ketika menerapkan kebijakan mengontrak pemain berlabel bintang. Beberapa kasus menunjukkan jika Maung Bandung kerap gagal mempersatukan materi individu kelas satu menjadi satu kekuatan kolektif yang menjanjikan.
Di Liga Indonesia musim 1997/1998 misalnya, Persib mulai mencoba membuka peluang bagi pemain non binaan untuk masuk. Keputusan Persib mendatangkan M. Halim dan Khair Rifo, dua pemain yang kala itu namanya sedang naik daun bersama PSMS Medan. Lalu Peri Sandria yang cukup tajam bersama Bandung Raya serta sejumlah pemain lainnya, ternyata malah menimbulkan masalah disharmoni di internal tim.
Meski bermaterikan pemain bintang, namun Persib justru mencatat hasil terburuk dalam empat musim terakhir. Dari 15 pertandingan, Maung Bandung mengalami lima kekalahan. ‘Beruntung’ wajah Persib saat itu terselamatkan oleh keputusan PSSI yang menghentikan kompetisi di tengah jalan akibat krisis sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia.
Sejak itu, Persib seolah terbawa arus klub lain yang cenderung lebih mengedepankan prestasi instan ketimbang program jangka panjang seperti yang dilakukan Maung Bandung di era kompetisi Perserikatan. Terutama sejak Ligina 2007/2008, kecenderungan Persib mendatangkan pemain bintang sepertinya jadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.
Memiliki materi pemain nomor satu di hampir semua posisi, membuat Persib berada di posisi favorit juara Indonesia Super League (ISL) musim depan. Tapi materi pemain bintang ini pula yang sebenarnya jadi tantangan bagi Jajang untuk membuktikan dirinya pantas duduk di posisi pelatih Persib.
''Di beberapa posisi kita memiliki banyak pilihan. Di sayap kanan misalnya, bisa memaksimalkan kemampuan Supardi dan M. Ridwan yang bisa bertukar posisi dengan Atep di kiri. Kita ingin optimalkan materi pemain di semua posisi, terutama di sektor sayap,” terang Jajang.
Dari semua posisi, lini belakang dan lini depan bisa dikatakan masih memerlukan tambahan pemain. Namun, dibandingkan sektor striker, barisan kebutuhan pemain di lini belakang Persib cenderung bisa secepatnya di atasi karena Persib mendapatkan banyak tawaran bek berkualitas dari sejumlah agen pemain.
Memiliki materi pemain kelas satu menumbuhkan keyakinan dalam diri pemain. Salah satunya adalah wing back kanan anyar Persib yang baru bergabung, ahad lalu, Supardi Natsir. Mantan pemain PSMS Medan dan Sriwijaya FC tersebut menegaskan keputusannya pindah ke Persib karena cukup yakin Persib punya modal meraih prestasi tinggi.
''Kalau tidak yakin kenapa saya pilih ke sini (Persib). Persib punya banyak modal, suporter, sejarahnya dan materi pemain. Saya ingin berprestasi dan bermain sebagai starter di Persib,” tegas Supardi.
Belajar dari pengalaman terdahulu, Persib sebenarnya tak pernah mendapatkan jawaban terbaik ketika menerapkan kebijakan mengontrak pemain berlabel bintang. Beberapa kasus menunjukkan jika Maung Bandung kerap gagal mempersatukan materi individu kelas satu menjadi satu kekuatan kolektif yang menjanjikan.
Di Liga Indonesia musim 1997/1998 misalnya, Persib mulai mencoba membuka peluang bagi pemain non binaan untuk masuk. Keputusan Persib mendatangkan M. Halim dan Khair Rifo, dua pemain yang kala itu namanya sedang naik daun bersama PSMS Medan. Lalu Peri Sandria yang cukup tajam bersama Bandung Raya serta sejumlah pemain lainnya, ternyata malah menimbulkan masalah disharmoni di internal tim.
Meski bermaterikan pemain bintang, namun Persib justru mencatat hasil terburuk dalam empat musim terakhir. Dari 15 pertandingan, Maung Bandung mengalami lima kekalahan. ‘Beruntung’ wajah Persib saat itu terselamatkan oleh keputusan PSSI yang menghentikan kompetisi di tengah jalan akibat krisis sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia.
Sejak itu, Persib seolah terbawa arus klub lain yang cenderung lebih mengedepankan prestasi instan ketimbang program jangka panjang seperti yang dilakukan Maung Bandung di era kompetisi Perserikatan. Terutama sejak Ligina 2007/2008, kecenderungan Persib mendatangkan pemain bintang sepertinya jadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.
(aww)