Persib siapkan mental hadapi Persisam
Selasa, 11 Desember 2012 - 13:37 WIB
Persib siapkan mental hadapi Persisam
A
A
A
Sindonews.com – Semifinal Inter Island Cup (IIC) 2012 dianggap jadi momentum tepat untuk mengukur kesiapan para serdadu Persib Bandung sebelum menjalani kompetisi sebenarnya Januari 2013 mendatang.
Menghadapi Persisam Samarinda, Persib tak lagi diuntungkan status sebagai tuan rumah seperti kala menguasai turnamen pra musim Celebes Championship dan fase penyisihan Grup B. Maung Bandung harus siap-siap menghadapi tekanan dari suporter lawan karena di semifinal sistem pertandingan menggunakan pola home and away.
Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman menyadari tantangan yang bakal dihadapi anak buahnya jauh lebih berbobot dibandingkan ketika menjalani tiga laga penyisihan grup yang mampu di sapu bersih pasukannya. Karena itu, Djanur mengharapkan Atep dkk untuk tidak panik terutama ketika harus menjalani laga tandang.
Sikap tenang memang dibutuhkan oleh Persib jika melihat pada statistik dalam beberapa musim terakhir yang menunjukkan buruknya mentalitas bertanding Maung Bandung saat menjalani laga tandang. Musim lalu, misalnya dari 17 kali kesempatan bermain di kandang lawan. Persib hanya mampu meraih dua kali kemenangan tandang.
Rekor tersebut tentu tidak bisa dikatakan lazim atau pantas dicatat tim yang memiliki materi pemain kelas satu. Djanur menyadari jika problem mental adalah salah satu persoalaan terbesar yang harus dibenahinya ketika menerima tawaran bekerja sebagai pelatih Persib.
“Lebih dominan faktor mental. Beban main di tandang pasti lebih berat dibandingkan main kandang dan itu pasti dirasakan semua tim. Hanya setiap tim pasti memiliki cara berbeda untuk mengatasinya. Ada yang bisa menghadapinya dengan baik dan ada juga yang tidak bisa,” terang Djanur.
“Bermain di tandang itu seringkali muncul anggapan akan banyak hal yang tidak menguntungkan. Seperti tekanan pendukung, fakor cuaca atau adaptasi, perangkat pertandingan dan lainnya, meski sebenarnya tidak semuanya seperti itu,” tambahnya.
Sejumlah upaya saat ini dilakukan Djanur bersama staf teknis lainnya termasuk Penasihat Teknis, Indra Mochamad Tohir yang selama ini dikenal jago dalam urusan membangkitkan semangat bertanding pemain. Hal itu terbukti musim lalu ketika Tohir sukses mengangkat motivasi para pemain usai menelan tiga kekalahan beruntun di awal putaran II.
“Saya ingin membenahi persoalan mental. Salah satu caranya bisa dilakukan dengan pendekatan psikologis ke pemain secara langsung sehingga tidak memunculkan kesan kaku dan membuat mereka bisa lebih enjoy baik saat di dalam maupun luar lapangan dan itu sering saya lakukan hingga saat ini,” tandas Djanur.
Hal lain yang menurut Djanur bisa membuat mental bertanding sebuah tim jauh lebih kuat adalah kebersamaan. Dengan sikap saling mendukung, seorang pemain biasanya bakal merasa lebih terlindungi dan tidak jatuh mentalnya ketika melakukan kesalahan.
“Waktu zaman saya main, karena waktu itu mental kita sudah kuat dan kebersamaannya kuat cukup lama bersama-sama di tim. Jadi tahu betul satu sama lain dan selalu saling mendukung,” ujar Djanur.
Menghadapi Persisam Samarinda, Persib tak lagi diuntungkan status sebagai tuan rumah seperti kala menguasai turnamen pra musim Celebes Championship dan fase penyisihan Grup B. Maung Bandung harus siap-siap menghadapi tekanan dari suporter lawan karena di semifinal sistem pertandingan menggunakan pola home and away.
Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman menyadari tantangan yang bakal dihadapi anak buahnya jauh lebih berbobot dibandingkan ketika menjalani tiga laga penyisihan grup yang mampu di sapu bersih pasukannya. Karena itu, Djanur mengharapkan Atep dkk untuk tidak panik terutama ketika harus menjalani laga tandang.
Sikap tenang memang dibutuhkan oleh Persib jika melihat pada statistik dalam beberapa musim terakhir yang menunjukkan buruknya mentalitas bertanding Maung Bandung saat menjalani laga tandang. Musim lalu, misalnya dari 17 kali kesempatan bermain di kandang lawan. Persib hanya mampu meraih dua kali kemenangan tandang.
Rekor tersebut tentu tidak bisa dikatakan lazim atau pantas dicatat tim yang memiliki materi pemain kelas satu. Djanur menyadari jika problem mental adalah salah satu persoalaan terbesar yang harus dibenahinya ketika menerima tawaran bekerja sebagai pelatih Persib.
“Lebih dominan faktor mental. Beban main di tandang pasti lebih berat dibandingkan main kandang dan itu pasti dirasakan semua tim. Hanya setiap tim pasti memiliki cara berbeda untuk mengatasinya. Ada yang bisa menghadapinya dengan baik dan ada juga yang tidak bisa,” terang Djanur.
“Bermain di tandang itu seringkali muncul anggapan akan banyak hal yang tidak menguntungkan. Seperti tekanan pendukung, fakor cuaca atau adaptasi, perangkat pertandingan dan lainnya, meski sebenarnya tidak semuanya seperti itu,” tambahnya.
Sejumlah upaya saat ini dilakukan Djanur bersama staf teknis lainnya termasuk Penasihat Teknis, Indra Mochamad Tohir yang selama ini dikenal jago dalam urusan membangkitkan semangat bertanding pemain. Hal itu terbukti musim lalu ketika Tohir sukses mengangkat motivasi para pemain usai menelan tiga kekalahan beruntun di awal putaran II.
“Saya ingin membenahi persoalan mental. Salah satu caranya bisa dilakukan dengan pendekatan psikologis ke pemain secara langsung sehingga tidak memunculkan kesan kaku dan membuat mereka bisa lebih enjoy baik saat di dalam maupun luar lapangan dan itu sering saya lakukan hingga saat ini,” tandas Djanur.
Hal lain yang menurut Djanur bisa membuat mental bertanding sebuah tim jauh lebih kuat adalah kebersamaan. Dengan sikap saling mendukung, seorang pemain biasanya bakal merasa lebih terlindungi dan tidak jatuh mentalnya ketika melakukan kesalahan.
“Waktu zaman saya main, karena waktu itu mental kita sudah kuat dan kebersamaannya kuat cukup lama bersama-sama di tim. Jadi tahu betul satu sama lain dan selalu saling mendukung,” ujar Djanur.
(wbs)