Persib dalam masa transisi
Rabu, 12 Desember 2012 - 11:00 WIB
Persib dalam masa transisi
A
A
A
Sindonews.com - Penasihat Teknis Persib Bandung, Indra Mochamad Tohir meyakini Maung Bandung sedang dalam masa transisi dan proses untuk mengembalikan kebesaran mereka seperti di era 1980’an dan 1990’an. Pasang surut prestasi Persib hampir dua dekade terakhir, bagi Tohir adalah sebuah proses yang biasa dialami sebuah tim sepakbola.
Baginya setiap tim pasti memiliki saat-saat berada di puncak dan masa-masa sulit. Jika dianalogikan maka Maung Bandung saat ini sedang dalam proses melepaskan diri dari masa sulit. “Tidak ada tim yang sangat lengkap (sempurna). Prinsip sepak bola itu, dimana pun adalah mengatasi kelemahan sendiri. Tapi sulit menemukan tim yang tidak memiliki kelemahan. Jadi untuk bisa meminimalisir semua kelemahan itu memang butuh waktu,” terang Tohir, Rabu (12/12/2012).
Karena itu, secara tidak langsung Tohir menilai lebih baik membiarkan Persib berkembang secara alamiah tanpa banyak melakukan perubahan. Melengkapi kekurangan dengan mendatangkan pemain bintang bukan jaminan untuk mengatasi kelemahan tim.
Hal itu ditunjukkan Maung Bandung dalam kasus kegagalan mengontrak striker asal Brasil, Alberto Goncalves yang memilih berkarir di Arema Cronus. Karena gagal mendapatkan Beto, Persib kemudian mengalihkan perhatiannya untuk menggaet Herman Dzumafo Epandi.
Meski sempat diragukan karena kualitasnya diatas kertas dianggap kalah dibandingkan Beto. Namun, selama persiapan pra musim, striker asal Kamerun itu mampu membuktikan diri bisa menjadi salah satu pemain penting bukan karena ketajamannya dalam membobol gawang lawan, melainkan karena sikapnya yang jauh dari kesan egois.
Pelatih Djadjang Nurdjaman pun memuji kinerja Dzumafo sejauh ini. Menurutnya Dzumafo mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebagai striker yang bisa membuka ruang buat pemain lain. “Tipikal dan karakter bermainnya dibutuhkan untuk kolektifitas tim. Sebab Dzumafo adalah seorang striker pekerja yang mau bekerja buat tim,” tandas Djadjang.
Baginya setiap tim pasti memiliki saat-saat berada di puncak dan masa-masa sulit. Jika dianalogikan maka Maung Bandung saat ini sedang dalam proses melepaskan diri dari masa sulit. “Tidak ada tim yang sangat lengkap (sempurna). Prinsip sepak bola itu, dimana pun adalah mengatasi kelemahan sendiri. Tapi sulit menemukan tim yang tidak memiliki kelemahan. Jadi untuk bisa meminimalisir semua kelemahan itu memang butuh waktu,” terang Tohir, Rabu (12/12/2012).
Karena itu, secara tidak langsung Tohir menilai lebih baik membiarkan Persib berkembang secara alamiah tanpa banyak melakukan perubahan. Melengkapi kekurangan dengan mendatangkan pemain bintang bukan jaminan untuk mengatasi kelemahan tim.
Hal itu ditunjukkan Maung Bandung dalam kasus kegagalan mengontrak striker asal Brasil, Alberto Goncalves yang memilih berkarir di Arema Cronus. Karena gagal mendapatkan Beto, Persib kemudian mengalihkan perhatiannya untuk menggaet Herman Dzumafo Epandi.
Meski sempat diragukan karena kualitasnya diatas kertas dianggap kalah dibandingkan Beto. Namun, selama persiapan pra musim, striker asal Kamerun itu mampu membuktikan diri bisa menjadi salah satu pemain penting bukan karena ketajamannya dalam membobol gawang lawan, melainkan karena sikapnya yang jauh dari kesan egois.
Pelatih Djadjang Nurdjaman pun memuji kinerja Dzumafo sejauh ini. Menurutnya Dzumafo mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebagai striker yang bisa membuka ruang buat pemain lain. “Tipikal dan karakter bermainnya dibutuhkan untuk kolektifitas tim. Sebab Dzumafo adalah seorang striker pekerja yang mau bekerja buat tim,” tandas Djadjang.
(akr)