PSMS LPIS pasrah dilebur
Kamis, 14 Maret 2013 - 16:02 WIB
PSMS LPIS pasrah dilebur
A
A
A
Sindonews.com -Tidak kunjung memperoleh kejelasan soal regulasi kompetisi, PSMS Medan versi PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) memilih pasrah. Klub pimpinan Benny Harianto Sihotang tersebut legawa jika PSSI akhirnya memutuskan penyatuan klub yang selama ini dilanda dualisme.
Apalagi, ketidakjelasan kontrak membuat tim yang saat ini dibesut asisten pelatih, Edy Syahputra sudah tidak berlatih sejak 4 Maret lalu. Wakil Ketua PSMS, Julius Raja mengatakan, PSMS menunggu hasil kongres luar biasa (KLB) PSSI untuk menentukan langkah-langkah menyusun proses penyatuan klub.
"Kami menunggu kongres yang akan melakukan penyatuan liga. Dan kami akan meminta penegasan kepada PSSI, seperti apa proses penyatuannya," ujarnya kepada HATTRICK, kemarin.
Penantian itu pula yang membuat PSMS hingga kini belum melakukan upaya konkret seperti menyodorkan kontrak kepada pemain lantaran kompetisi yang belum pasti kapan digelar.
"Kontrak itu memberi gaji. Harus ada regulasi baru kontrak kami sodorkan. Jadi kami berharap, secepatnya PSSI menentukan sikap. Kalau memang PSMS satu ya satu. Kami enggak masalah kalau nanti PSMS versi PT LI yang disahkan sebagai PSMS. Dan kalau memang PSMS yang disahkan itu yang ini, yang lain harus legowo," bebernya.
Persiapan kompetisi bahkan baru akan digelar pasca KLB PSSI 17 Maret mendatang. Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra membenarkan hal tersebut. ''Seharusnya direncanakan latihan. Jadi, habis kongres. Bukan pemain enggak mau, tapi arahan dari ketua umum (Benny Sihotang) biar jelas dulu semuanya,” jelasnya ditemui di tempat terpisah.
Namun bukan berarti pemain tanpa aktivitas. Kekhawatiran Edy jika nantinya kompetisi digelar secara tiba-tiba, sementara pihaknya tidak siap tetap mencuat. Karena itu atas inisiatifnya sendiri ia akan mengumpulkan para pemain untuk latihan bersama.
''Kalau latihan resminya habis kongres. Ini hanya latihan bersama saja. Jadi, ini di luar program PSMS. Supaya tetap terjaga kerja samanya. Mungkin dalam dua hari ini saya gelar,” jelasnya.
Edy mengaku sudah mengkomunikasikan ini dengan sejumlah pemain. ''Sudah saya informasikan. Beberapa pemain senior yang saya panggil dan mereka yang akan meneruskannya ke yang lain. Mungkin nantinya latihan bersamanya dalam bentuk uji coba,” beber mantan pemain Medan Jaya dan PSMS ini.
Kendati latihan vakum, beberapa pemain berlatih sendiri-sendiri. Seperti Donny Fernando Siregar yang memilih berlatih dengan klub lokal Putra Buana, klub yang membesarkan namanya. Novi Handriawan, saban sore terlihat berlatih sendirian di Kebun Bunga.
''Sebelum libur kemarin memang saya sudah buat pesan ke mereka bahkan menjaga kondisi adalah bagian dari sikap profesional. Saya pikir itu saja tidak cukup. Karena tidak ada pantauan jadi kurang terarah. Terutama yang saya khawatirkan yang muda-muda,”jelasnya.
Sebelumnya pemain memutuskan untuk tidak berlatih pada pekan lalu. Mereka baru bersedia latihan jika sudah ada titik terang soal kontrak. Selama ini pengurus hanya bisa memberikan uang transpor dengan kisaran Rp2-3 juta.
Sebelumnya pemain juga hanya menerima uang panjar dengan besaran rata-rata 10 persen dengan kwitansi yang jelas tidak memikat. Beberapa pemain memutuskan mundur atau hengkang seperti Markus Haris Maulana, Ahmad Junaedi, dan Anton Irawan.
Kevakuman itu bersumber dari ketidakjelasan jadwal kompetisi Divisi Utama LPIS dan juga kontrak yang urung disodorkan. Karena itu pengurus juga tak mengambil tindakan apa pun selain pasrah menunggu keputusan kongres.
''Memang tidak ada rapat. Hanya saya dipanggil ketua umum. Pada prinsipnya beliau menekankan kalau PSMS tetap mengikuti kompetisi. Memang semua itu muaranya ke kongres jadi akan jelas ke mana arahnya,” bebernya.
Badai hengkang yang melanda PSMS LPIS tetap dikhawatirkan Edy. Namun, walau tidak ingin menahan pemain, dia hanya meminta pemain menjalin komunikasi dengannya. ''Kalau khawatir jelas ada. Tapi kalaupun memang mau keluar saya pikir minimal komunikasikanlah dengan saya. Tidak ada maksud menahan,” pungkasnya.
Apalagi, ketidakjelasan kontrak membuat tim yang saat ini dibesut asisten pelatih, Edy Syahputra sudah tidak berlatih sejak 4 Maret lalu. Wakil Ketua PSMS, Julius Raja mengatakan, PSMS menunggu hasil kongres luar biasa (KLB) PSSI untuk menentukan langkah-langkah menyusun proses penyatuan klub.
"Kami menunggu kongres yang akan melakukan penyatuan liga. Dan kami akan meminta penegasan kepada PSSI, seperti apa proses penyatuannya," ujarnya kepada HATTRICK, kemarin.
Penantian itu pula yang membuat PSMS hingga kini belum melakukan upaya konkret seperti menyodorkan kontrak kepada pemain lantaran kompetisi yang belum pasti kapan digelar.
"Kontrak itu memberi gaji. Harus ada regulasi baru kontrak kami sodorkan. Jadi kami berharap, secepatnya PSSI menentukan sikap. Kalau memang PSMS satu ya satu. Kami enggak masalah kalau nanti PSMS versi PT LI yang disahkan sebagai PSMS. Dan kalau memang PSMS yang disahkan itu yang ini, yang lain harus legowo," bebernya.
Persiapan kompetisi bahkan baru akan digelar pasca KLB PSSI 17 Maret mendatang. Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra membenarkan hal tersebut. ''Seharusnya direncanakan latihan. Jadi, habis kongres. Bukan pemain enggak mau, tapi arahan dari ketua umum (Benny Sihotang) biar jelas dulu semuanya,” jelasnya ditemui di tempat terpisah.
Namun bukan berarti pemain tanpa aktivitas. Kekhawatiran Edy jika nantinya kompetisi digelar secara tiba-tiba, sementara pihaknya tidak siap tetap mencuat. Karena itu atas inisiatifnya sendiri ia akan mengumpulkan para pemain untuk latihan bersama.
''Kalau latihan resminya habis kongres. Ini hanya latihan bersama saja. Jadi, ini di luar program PSMS. Supaya tetap terjaga kerja samanya. Mungkin dalam dua hari ini saya gelar,” jelasnya.
Edy mengaku sudah mengkomunikasikan ini dengan sejumlah pemain. ''Sudah saya informasikan. Beberapa pemain senior yang saya panggil dan mereka yang akan meneruskannya ke yang lain. Mungkin nantinya latihan bersamanya dalam bentuk uji coba,” beber mantan pemain Medan Jaya dan PSMS ini.
Kendati latihan vakum, beberapa pemain berlatih sendiri-sendiri. Seperti Donny Fernando Siregar yang memilih berlatih dengan klub lokal Putra Buana, klub yang membesarkan namanya. Novi Handriawan, saban sore terlihat berlatih sendirian di Kebun Bunga.
''Sebelum libur kemarin memang saya sudah buat pesan ke mereka bahkan menjaga kondisi adalah bagian dari sikap profesional. Saya pikir itu saja tidak cukup. Karena tidak ada pantauan jadi kurang terarah. Terutama yang saya khawatirkan yang muda-muda,”jelasnya.
Sebelumnya pemain memutuskan untuk tidak berlatih pada pekan lalu. Mereka baru bersedia latihan jika sudah ada titik terang soal kontrak. Selama ini pengurus hanya bisa memberikan uang transpor dengan kisaran Rp2-3 juta.
Sebelumnya pemain juga hanya menerima uang panjar dengan besaran rata-rata 10 persen dengan kwitansi yang jelas tidak memikat. Beberapa pemain memutuskan mundur atau hengkang seperti Markus Haris Maulana, Ahmad Junaedi, dan Anton Irawan.
Kevakuman itu bersumber dari ketidakjelasan jadwal kompetisi Divisi Utama LPIS dan juga kontrak yang urung disodorkan. Karena itu pengurus juga tak mengambil tindakan apa pun selain pasrah menunggu keputusan kongres.
''Memang tidak ada rapat. Hanya saya dipanggil ketua umum. Pada prinsipnya beliau menekankan kalau PSMS tetap mengikuti kompetisi. Memang semua itu muaranya ke kongres jadi akan jelas ke mana arahnya,” bebernya.
Badai hengkang yang melanda PSMS LPIS tetap dikhawatirkan Edy. Namun, walau tidak ingin menahan pemain, dia hanya meminta pemain menjalin komunikasi dengannya. ''Kalau khawatir jelas ada. Tapi kalaupun memang mau keluar saya pikir minimal komunikasikanlah dengan saya. Tidak ada maksud menahan,” pungkasnya.
(aww)