Wow, Indonesia bantu Yamaha boyong Rossi
Jum'at, 22 Maret 2013 - 15:13 WIB
Wow, Indonesia bantu Yamaha boyong Rossi
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia ternyata punya andil besar dalam keputusan Yamaha menarik kembali Valentino Rossi ke tim mereka. Dengan dana yang cukup besar dari penjualan motor mereka di Tanah Air, Yamaha akhirnya bisa membeli Rossi lagi.
Yamaha sempat ragu untuk memboyong Rossi kembali. Tingginya bayaran "The Doctor" membuat Yamaha berpikir berkali-kali. Namun, dengan dana tambahan dari penjualan motor mereka, Yamaha akhirnya bisa mengontrak Rossi.
"Saya pernah ke Indonesia dengan Valentino dan Jorge, dan saya tak pernah melihat yang seperti ini. Ada sekitar 3.500 dealer Yamaha dan itu sangat fenomenal. Tahun ini, Yamaha Indonesia berencana untuk menjual 2,8 juta unit. Kemudian ada Thailand, Malaysia, dan Filipina. Jadi jelas Asia Tenggara adalah kuncinya,"kata Tim Principal Yamaha FIAT, Lin Jarvis, kepada MCN.
Yamaha sebenarnya berharap bisa mendapat dana besar dari dana sponsor. Sayang, di tengah krisis ekonomi global, sulit untuk mendapatkan sponsor. Hal ini diakui oleh Jarvis.
"Saya pikir masalah utamanya adalah karena ekonomi global dan kedua adalah status MotoGP. Mereka terlalu banyak terfokus di Eropa,"ia menjelaskan.
Yamaha sempat ragu untuk memboyong Rossi kembali. Tingginya bayaran "The Doctor" membuat Yamaha berpikir berkali-kali. Namun, dengan dana tambahan dari penjualan motor mereka, Yamaha akhirnya bisa mengontrak Rossi.
"Saya pernah ke Indonesia dengan Valentino dan Jorge, dan saya tak pernah melihat yang seperti ini. Ada sekitar 3.500 dealer Yamaha dan itu sangat fenomenal. Tahun ini, Yamaha Indonesia berencana untuk menjual 2,8 juta unit. Kemudian ada Thailand, Malaysia, dan Filipina. Jadi jelas Asia Tenggara adalah kuncinya,"kata Tim Principal Yamaha FIAT, Lin Jarvis, kepada MCN.
Yamaha sebenarnya berharap bisa mendapat dana besar dari dana sponsor. Sayang, di tengah krisis ekonomi global, sulit untuk mendapatkan sponsor. Hal ini diakui oleh Jarvis.
"Saya pikir masalah utamanya adalah karena ekonomi global dan kedua adalah status MotoGP. Mereka terlalu banyak terfokus di Eropa,"ia menjelaskan.
(wir)