Takut di-blacklist, PSMS disarankan jalan terus
Rabu, 19 Juni 2013 - 16:57 WIB
Takut di-blacklist, PSMS disarankan jalan terus
A
A
A
Sindonews.com - PSMS Medan tengah mempertimbangkan untuk melanjutkan atau berhenti sebagai peserta DIvisi Utama garapan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). Jika berhenti, kondisi tersebut diperkirakan menjadi bumerang bagi kelangsungan klub berjuluk Ayam Kinantan di masa mendatang.
Pelatih PSMS versi PT LPIS Edy Syahputra menilai, jika berhenti di tengah jalan, bisa saja PSMS Medan bakal terdegradasi ke Divisi I, atau liga amatir. Edy tidak sembarangan melontarkan pendapatnya itu. Kondisi dualisme yang terjadi di PSMS Medan menurutnya menjadi kunci kemungkinan buruk itu bakal terjadi.
''PSMS sebelah (PSMS versi PT LI) sudah di-blacklist lantaran 11 pemainnya yang mengadu ke PSSI dan menjadi sorotan media. Jadi kalau bisa menyatukan PSMS ini dan terus menjalankan kompetisi hingga akhir musim, besar kemungkinan PSMS tetap akan berada di kasta kedua (divisi utama),” ujar Edy.
Edy mengatakan kemungkinan itu lantaran informasi yang berkembang menyebutkan bahwa klub-klub LPIS melobi pihak LPIS untuk mengakomodasi tuntutan mereka agar tetap bisa berkompetisi di divisi utama musim mendatang, bahkan bisa masuk ke kasta tertinggi lantaran beberapa klub seperti PSM Makassar, Persibo, sudah didepak dari keanggotaan PSSI.
''Informasi yang saya peroleh, PT LI menyetujui dua tim IPL dan dua tim divisi utama ke ISL musim 2014. Selain itu, ada kemungkinan lain yaitu tim divisi utama LPIS ranking 1, 2 dari grup I dan II berhak mengikuti divisi utama 2014, selebihnya 16 klub degradasi ke divisi I. Jadi kalau PSMS bisa berada di posisi minimal kedua di akhir musim, kemungkinan bisa bertahan di divisi utama,” ungkapnya.
Namun, masalah dualisme seperti yang dialami PSMS menurutnya harus segera diselesaikan.
''Hari ini, pengurus PSMS sedang melakukan rapat membahas dua hal. Salah satunya membahas kelangsungan PSMS di putaran kedua, dan yang kedua, rencana mengundang 40 klub anggota PSMS untuk mencabut mandat Indra Sakti (Ketua Umum PSMS versi PT LI) dan Benny Sihotang (Ketua Umum PSMS versi LPIS) yang artinya membuat PSMS bersatu,” papar pensiunan pegawasi salah satu bank tersebut.
Dia berpendapat, PSMS selanjutnya harus membentuk tim independen untuk melaporkan hasil yang dicapai kepada PSSI sebelum keputusan tim-tim yang dinilai harus terdegradasi dikeluarkan, yang juga mengancam keberadaan PSMS. ''Harapan kami ikuti saja putaran kedua. Perkara tidak terakomodasi, itu perkara nanti. Yang kita takutkan di-blacklist,” ungkapnya.
Sebelumnya beredar kabar, pihak Indra Sakti telah mengantongi surat pengesahan dari PT LI perihal PSMS LI lah yang tetap akan mengikuti divisi utama musim mendatang. Namun menurut Edy, hal tersebut tidak benar. ''PT LI maupun PSSI tidak ada mengeluarkan surat apa pun. Lagipula, kalaupu surat itu ada, yang pasti penyelesaian dualisme yang diharapkan terjadi,” bebernya.
Sementara, salah seorang pengurus PSMS versi PT LPIS, Julius Raja yang dikonfirmasi kemarin belum bisa memberikan keterangan lantaran sedang mengglar rapat. ''Masih rapat, belum ada keputusan. Nanti akan kami sampaikan kalau sudah ada keputusannya,” ucapnya.
Pelatih PSMS versi PT LPIS Edy Syahputra menilai, jika berhenti di tengah jalan, bisa saja PSMS Medan bakal terdegradasi ke Divisi I, atau liga amatir. Edy tidak sembarangan melontarkan pendapatnya itu. Kondisi dualisme yang terjadi di PSMS Medan menurutnya menjadi kunci kemungkinan buruk itu bakal terjadi.
''PSMS sebelah (PSMS versi PT LI) sudah di-blacklist lantaran 11 pemainnya yang mengadu ke PSSI dan menjadi sorotan media. Jadi kalau bisa menyatukan PSMS ini dan terus menjalankan kompetisi hingga akhir musim, besar kemungkinan PSMS tetap akan berada di kasta kedua (divisi utama),” ujar Edy.
Edy mengatakan kemungkinan itu lantaran informasi yang berkembang menyebutkan bahwa klub-klub LPIS melobi pihak LPIS untuk mengakomodasi tuntutan mereka agar tetap bisa berkompetisi di divisi utama musim mendatang, bahkan bisa masuk ke kasta tertinggi lantaran beberapa klub seperti PSM Makassar, Persibo, sudah didepak dari keanggotaan PSSI.
''Informasi yang saya peroleh, PT LI menyetujui dua tim IPL dan dua tim divisi utama ke ISL musim 2014. Selain itu, ada kemungkinan lain yaitu tim divisi utama LPIS ranking 1, 2 dari grup I dan II berhak mengikuti divisi utama 2014, selebihnya 16 klub degradasi ke divisi I. Jadi kalau PSMS bisa berada di posisi minimal kedua di akhir musim, kemungkinan bisa bertahan di divisi utama,” ungkapnya.
Namun, masalah dualisme seperti yang dialami PSMS menurutnya harus segera diselesaikan.
''Hari ini, pengurus PSMS sedang melakukan rapat membahas dua hal. Salah satunya membahas kelangsungan PSMS di putaran kedua, dan yang kedua, rencana mengundang 40 klub anggota PSMS untuk mencabut mandat Indra Sakti (Ketua Umum PSMS versi PT LI) dan Benny Sihotang (Ketua Umum PSMS versi LPIS) yang artinya membuat PSMS bersatu,” papar pensiunan pegawasi salah satu bank tersebut.
Dia berpendapat, PSMS selanjutnya harus membentuk tim independen untuk melaporkan hasil yang dicapai kepada PSSI sebelum keputusan tim-tim yang dinilai harus terdegradasi dikeluarkan, yang juga mengancam keberadaan PSMS. ''Harapan kami ikuti saja putaran kedua. Perkara tidak terakomodasi, itu perkara nanti. Yang kita takutkan di-blacklist,” ungkapnya.
Sebelumnya beredar kabar, pihak Indra Sakti telah mengantongi surat pengesahan dari PT LI perihal PSMS LI lah yang tetap akan mengikuti divisi utama musim mendatang. Namun menurut Edy, hal tersebut tidak benar. ''PT LI maupun PSSI tidak ada mengeluarkan surat apa pun. Lagipula, kalaupu surat itu ada, yang pasti penyelesaian dualisme yang diharapkan terjadi,” bebernya.
Sementara, salah seorang pengurus PSMS versi PT LPIS, Julius Raja yang dikonfirmasi kemarin belum bisa memberikan keterangan lantaran sedang mengglar rapat. ''Masih rapat, belum ada keputusan. Nanti akan kami sampaikan kalau sudah ada keputusannya,” ucapnya.
(aww)