Tak kembali, jangan salahkan pemain
Selasa, 30 Juli 2013 - 15:14 WIB
Tak kembali, jangan salahkan pemain
A
A
A
Sindonews.com - Awak punggawa Persis Solo versi LPIS masih memilih libur. Banyak pemain dari luar kota bahkan mengancam tidak akan kembali ke Kota Bengawa jika gajinya yang tertunggak tidak dibayarkan sebelum Lebaran.
Menanggapi hal itu, Pelatih Persis LPIS Widyantoro mengaku pasrah. Dia mengatakan, dalam kondisi tim yang sedang dililit krisis finansial akut, pemian yang memilih mundur atau tidak kembali ke tim tidak bisa disalahkan. "Pemain yang enggan kembali ke Solo juga tidak bisa disalahkan mengingat kondisi finansial tim yang tidak jelas," katanya, Selasa (30/7/2013).
Pelatih yang akrab di sapa Wiwid ini mengaku, saat ini kondisi tim besutannya compang-camping. Krisis pemain terjadi di semua lini, dari belakang sampai depan. Kekurangan pemain ini karena banyak pemain yang memilih mundur atau tidak kembali memperkuat tim sebelum managemen membayar gajinya yang tertunggak. "Ya, krisis di semua lini. Belakang, tengah dan depan tidak mencukupi," imbuhnya.
Dia masih berharap para pemainnya kembali lagi ke Solo. Dia juga berharap managemen membayar gaji pemainnya dan memulai latihan rutin untuk persiapan tim mengarungi putaran kedua usai Lebaran mendatang. "Sudah dua bulan pemain tidak latihan. Ini sangat tidak baik bagi
kondisi kebugaran pemain," ungkapnya.
Sejumlah pemain yang berasal dari luar kota memang mengancam tidak akan kembali ke Solo jika gajinya yang tertunggak dibayarkan. Yogi Alfian dan Diva Tarkas adalah dua punggawa Laskar Sambernyawa yang memilih melakukan aksi tersebut. Keduanya akan kembali jika gajinya sudah dilunasi.
Sejauh ini, punggawa Persis LPIS baru menerima gaji bulan pertama (April). Sedangkan Mei, Juni dan Juli sama sekali belum ada kejelasan, termasuk janji insentif dan bonus selama seleksi pemain dan pembentukan sebelum kompetisi digelar. "Ingin kembali ke tim, tapi hak-hak kami harus dipenuhi dulu," kata Yogi Alfian.
Menantu dari eks pelatih Persis LPIS Junaidi mengaku membutuhkan biaya yang tinggi untuk kembali dan membiayai kebutuhan selama 'mengabdi' di tim yang berdiri sejak 1923 ini. Tanpa ada pemasukan, sangat berat menjalani hari-hari di Kota Bengawan. Yogi saat ini masih berada di
kampung halamannya, di Balikpapan.
Menanggapi hal itu, Pelatih Persis LPIS Widyantoro mengaku pasrah. Dia mengatakan, dalam kondisi tim yang sedang dililit krisis finansial akut, pemian yang memilih mundur atau tidak kembali ke tim tidak bisa disalahkan. "Pemain yang enggan kembali ke Solo juga tidak bisa disalahkan mengingat kondisi finansial tim yang tidak jelas," katanya, Selasa (30/7/2013).
Pelatih yang akrab di sapa Wiwid ini mengaku, saat ini kondisi tim besutannya compang-camping. Krisis pemain terjadi di semua lini, dari belakang sampai depan. Kekurangan pemain ini karena banyak pemain yang memilih mundur atau tidak kembali memperkuat tim sebelum managemen membayar gajinya yang tertunggak. "Ya, krisis di semua lini. Belakang, tengah dan depan tidak mencukupi," imbuhnya.
Dia masih berharap para pemainnya kembali lagi ke Solo. Dia juga berharap managemen membayar gaji pemainnya dan memulai latihan rutin untuk persiapan tim mengarungi putaran kedua usai Lebaran mendatang. "Sudah dua bulan pemain tidak latihan. Ini sangat tidak baik bagi
kondisi kebugaran pemain," ungkapnya.
Sejumlah pemain yang berasal dari luar kota memang mengancam tidak akan kembali ke Solo jika gajinya yang tertunggak dibayarkan. Yogi Alfian dan Diva Tarkas adalah dua punggawa Laskar Sambernyawa yang memilih melakukan aksi tersebut. Keduanya akan kembali jika gajinya sudah dilunasi.
Sejauh ini, punggawa Persis LPIS baru menerima gaji bulan pertama (April). Sedangkan Mei, Juni dan Juli sama sekali belum ada kejelasan, termasuk janji insentif dan bonus selama seleksi pemain dan pembentukan sebelum kompetisi digelar. "Ingin kembali ke tim, tapi hak-hak kami harus dipenuhi dulu," kata Yogi Alfian.
Menantu dari eks pelatih Persis LPIS Junaidi mengaku membutuhkan biaya yang tinggi untuk kembali dan membiayai kebutuhan selama 'mengabdi' di tim yang berdiri sejak 1923 ini. Tanpa ada pemasukan, sangat berat menjalani hari-hari di Kota Bengawan. Yogi saat ini masih berada di
kampung halamannya, di Balikpapan.
(wbs)