Persegres mulai kembang-kempis?
Minggu, 16 Maret 2014 - 19:34 WIB
Persegres mulai kembang-kempis?
A
A
A
Sindonews.com -- Persegres Gresik United dalam situasi terjepit. Selain menghadapi rendahnya saya saing tim di Indonesia Super League (ISL), manajemen dikabarkan tengah kesulitan keuangan. Dampaknya, gaji pemain, pelatih dan official, untuk Februari belum dibayarkan.
Kegelisahan dirasakan seluruh elemen tim akibat telatnya pembayaran gaji pemain. Salah satu sumber di internal tim Persegres mengatakan, hingga kini semua menunggu pembayaran gaji Februari. Pemain kurang begitu nyaman dengan situasi tersebut.
"(Gaji) Bulan Februari belum ada. Semua masih menunggu dan belum ada konfirmasi dari manajemen," ucap sumber tersebut. Pemain keburu tidak tenang dengan pembayaran gaji tersebut, karena sudah terjadi saat musim Indonesia Super League (ISL) 2014 masih terlalu pagi.
"ISL kan baru berjalan kira-kira sebulan. Kalau sudah ada keterlambatan gaji, jelas kami sangat tidak nyaman," tambah sumber itu. Elemem tim Laskar Joko Samudro khawatir situasi tersebut berlarut-larut dan menganggu konsentrasi tim. Apalagi masih banyak laga yang harus dilakoni.
Dikonfirmasi soal kabar tersebut, Pelatih Persegres Agus Yuwono enggan berkomentar. Alasannya masalah finansial bukan wewenangnya, melainkan manajemen. "Ke manajemen saja. Saya bukan pihak yang berwenang mengomentari itu," ujarnya singkat.
Persegres musim ini memang tidak seglamor musim lalu. Budget untuk ISL 2014 menurun drastis, dari yang sebelumnya Rp30 miliar per musim, menjadi Rp20 miliar di musim 2014. Namun tidak diketahui pasti apakah dana untuk musim ini benar-benar menyentuh Rp20 miliar.
Merosotnya keuangan Laskar Joko Samudro tak lepas dari menyusutnya sponsor atau penyandang dana. Banyak sponsor musim lalu, yakni perusahaan-perusahaan di wilayah Gresik, yang angkat tangan alias tak sanggup menyumbangkan dananya untuk Persegres.
Yang pasti tim Kota Pudak sanggup membeli pemain sekelas Otavio Dutra yang nilai kontraknya mencapai hampir Rp2 miliar. Sejumlah pemain berpengalaman pun diboyong ke Stadion Petrokimia, seperti Mahyadi Panggabean, Pape Ndiaye, Sukasto Efendi, serta Mahrus Bachtiar dan Jimmy Suparno.
Sejauh ini belum ada statemen apa pun dari manajemen Persegres. Jajaran manajemen pimpinan CEO Asroin Widiana selama ini memang irit komentar ke media. Bahkan ketika supporter mendesak pelatih mundur pun tak ada tanggapan dari manajemen.
Jika konsentrasi pemain terganggu masalah di luar lapangan, maka akan sulit bagi Persegres untuk membaik. Konsekuensinya, tim akan semakin dilupakan supporter yang belakangan sudah malas datang ke Stadion Petrokimia. Pemasukan dari tiket pun semakin tipis.
Kegelisahan dirasakan seluruh elemen tim akibat telatnya pembayaran gaji pemain. Salah satu sumber di internal tim Persegres mengatakan, hingga kini semua menunggu pembayaran gaji Februari. Pemain kurang begitu nyaman dengan situasi tersebut.
"(Gaji) Bulan Februari belum ada. Semua masih menunggu dan belum ada konfirmasi dari manajemen," ucap sumber tersebut. Pemain keburu tidak tenang dengan pembayaran gaji tersebut, karena sudah terjadi saat musim Indonesia Super League (ISL) 2014 masih terlalu pagi.
"ISL kan baru berjalan kira-kira sebulan. Kalau sudah ada keterlambatan gaji, jelas kami sangat tidak nyaman," tambah sumber itu. Elemem tim Laskar Joko Samudro khawatir situasi tersebut berlarut-larut dan menganggu konsentrasi tim. Apalagi masih banyak laga yang harus dilakoni.
Dikonfirmasi soal kabar tersebut, Pelatih Persegres Agus Yuwono enggan berkomentar. Alasannya masalah finansial bukan wewenangnya, melainkan manajemen. "Ke manajemen saja. Saya bukan pihak yang berwenang mengomentari itu," ujarnya singkat.
Persegres musim ini memang tidak seglamor musim lalu. Budget untuk ISL 2014 menurun drastis, dari yang sebelumnya Rp30 miliar per musim, menjadi Rp20 miliar di musim 2014. Namun tidak diketahui pasti apakah dana untuk musim ini benar-benar menyentuh Rp20 miliar.
Merosotnya keuangan Laskar Joko Samudro tak lepas dari menyusutnya sponsor atau penyandang dana. Banyak sponsor musim lalu, yakni perusahaan-perusahaan di wilayah Gresik, yang angkat tangan alias tak sanggup menyumbangkan dananya untuk Persegres.
Yang pasti tim Kota Pudak sanggup membeli pemain sekelas Otavio Dutra yang nilai kontraknya mencapai hampir Rp2 miliar. Sejumlah pemain berpengalaman pun diboyong ke Stadion Petrokimia, seperti Mahyadi Panggabean, Pape Ndiaye, Sukasto Efendi, serta Mahrus Bachtiar dan Jimmy Suparno.
Sejauh ini belum ada statemen apa pun dari manajemen Persegres. Jajaran manajemen pimpinan CEO Asroin Widiana selama ini memang irit komentar ke media. Bahkan ketika supporter mendesak pelatih mundur pun tak ada tanggapan dari manajemen.
Jika konsentrasi pemain terganggu masalah di luar lapangan, maka akan sulit bagi Persegres untuk membaik. Konsekuensinya, tim akan semakin dilupakan supporter yang belakangan sudah malas datang ke Stadion Petrokimia. Pemasukan dari tiket pun semakin tipis.
(wbs)