Persepam lebih suka bule berkarater
Kamis, 20 Maret 2014 - 15:54 WIB
Persepam lebih suka bule berkarater
A
A
A
Sindonews.com - Bursa transfer pelatih Persepam Madura United masih sebatas tahap pertimbangan. Artinya manajemen baru mengumpulkan sejumlah nama yang tersedia di pasar transfer kemudian baru diputuskan pada pekan terakhir Maret nanti.
Melihat perkembangan yang ada, tampaknya Persepam sangat berpeluang memakai pelatih 'bule'. Alasannya realistis, stok pelatih lokal sejauh ini tak memunjukkan nama mentereng atau pernah memiliki tradisi juara dalam karir kepelatihannya.
Persepam terpaksa menyingkirkan sejumlah kandidat, seperti Nil Maizar, Widodo C Putro, Iwan Setiawan dan Kashartadi. Kecuali Nil yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, tiga nama lainnya sudah terikat kontrak kerja dengan tim lain.
Sedangkan nama yang tersedia 'hanya' sekelas Herry Kiswanto, Djoko Susilo, Yudhi Suryata dan Hanafing. Nama-nama tersebut belum memiliki prestasi menonjol di Indonesia Super League (ISL), bahkan belum menyamai Daniel Roekito yang pernah juara Liga Indonesia bersama Persik Kediri.
Melihat nama-nama tersebut, tak mengherankan publik Madura lebih melirik nama asing. Pelatih bule yang sekarang siap dilamar adalah Ivan Venkov Kolev, Arcan Iurie, dan Carlos de Mello. Ketiganya berpengalaman dalam menangani tim Indonesia.
Bagaimanapun juga, pemilihan pelatih tetap didasarkan pada misi Persepam sendiri. Jika hanya sekadar ingin selamat dari papan bawah, maka sudah cukup memakai pelatih lokal. Namun jika bermimpi timnya melejit ke papan atas, pelatih asing bisa menjadi opsi.
Cukup? Tentu saja belum. Pelatih tentunya juga harus sesuai dengan karakter pemain yang ada di tim sekarang. Bagaimanapun juga Persepam butuh pelatih yang bisa membangkitkan moral tim, yakni motivator yang canggih tanpa mengeluhkan materi pemain.
"Saya tampung masukan dari publik. Nanti tanggal 22 Maret saya pulang ke Indonesia dan langsung menggelar pertemuan dengan kandidat pelatih Persepam. Semua bagi saya punya pengalaman dan karakter masing-masing, tinggal mencari yang cocok dengan Persepam," kata Manajer Persepam Achsanul Qosasih melalui pesan pendek.
Manajer yang kini berada di Swiss, sekaligus menegaskan aspirasi dari publik hendaknya tetap berdasar pada karakter tim Persepam. Sejak bermaim di ISL, Sape Kerap menginginkan sebuah tim pekerja keras dan bisa menghadapi persaingan ketat ISL dengan komposisi tim nonbintang.
"Saya ingin suporter dan masyarakat Madura tak hanya memikirkan kualitas pelatih, tapi juga kecocokan dengan tim. Ibarat kita mencari jodoh, kadang belum tentu yang dianggap hebat itu cocok dengan karakter kota," demikian anjuran Achsanul Qosasi.
Melihat perkembangan yang ada, tampaknya Persepam sangat berpeluang memakai pelatih 'bule'. Alasannya realistis, stok pelatih lokal sejauh ini tak memunjukkan nama mentereng atau pernah memiliki tradisi juara dalam karir kepelatihannya.
Persepam terpaksa menyingkirkan sejumlah kandidat, seperti Nil Maizar, Widodo C Putro, Iwan Setiawan dan Kashartadi. Kecuali Nil yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, tiga nama lainnya sudah terikat kontrak kerja dengan tim lain.
Sedangkan nama yang tersedia 'hanya' sekelas Herry Kiswanto, Djoko Susilo, Yudhi Suryata dan Hanafing. Nama-nama tersebut belum memiliki prestasi menonjol di Indonesia Super League (ISL), bahkan belum menyamai Daniel Roekito yang pernah juara Liga Indonesia bersama Persik Kediri.
Melihat nama-nama tersebut, tak mengherankan publik Madura lebih melirik nama asing. Pelatih bule yang sekarang siap dilamar adalah Ivan Venkov Kolev, Arcan Iurie, dan Carlos de Mello. Ketiganya berpengalaman dalam menangani tim Indonesia.
Bagaimanapun juga, pemilihan pelatih tetap didasarkan pada misi Persepam sendiri. Jika hanya sekadar ingin selamat dari papan bawah, maka sudah cukup memakai pelatih lokal. Namun jika bermimpi timnya melejit ke papan atas, pelatih asing bisa menjadi opsi.
Cukup? Tentu saja belum. Pelatih tentunya juga harus sesuai dengan karakter pemain yang ada di tim sekarang. Bagaimanapun juga Persepam butuh pelatih yang bisa membangkitkan moral tim, yakni motivator yang canggih tanpa mengeluhkan materi pemain.
"Saya tampung masukan dari publik. Nanti tanggal 22 Maret saya pulang ke Indonesia dan langsung menggelar pertemuan dengan kandidat pelatih Persepam. Semua bagi saya punya pengalaman dan karakter masing-masing, tinggal mencari yang cocok dengan Persepam," kata Manajer Persepam Achsanul Qosasih melalui pesan pendek.
Manajer yang kini berada di Swiss, sekaligus menegaskan aspirasi dari publik hendaknya tetap berdasar pada karakter tim Persepam. Sejak bermaim di ISL, Sape Kerap menginginkan sebuah tim pekerja keras dan bisa menghadapi persaingan ketat ISL dengan komposisi tim nonbintang.
"Saya ingin suporter dan masyarakat Madura tak hanya memikirkan kualitas pelatih, tapi juga kecocokan dengan tim. Ibarat kita mencari jodoh, kadang belum tentu yang dianggap hebat itu cocok dengan karakter kota," demikian anjuran Achsanul Qosasi.
(aww)