Teknologi garis gawang ditolak klub Bundesliga
Selasa, 25 Maret 2014 - 17:16 WIB
Teknologi garis gawang ditolak klub Bundesliga
A
A
A
Sindonews.com - Bundesliga Jerman sepertinya tidak akan menerapkan teknologi garis gawang setelah mayoritas tim divisi dua mereka menolak untuk memakainya. Dengan hanya tiga dari 18 tim pada divisi dua yang mendukung penggunaan teknologi baru dalam sepak bola itu, maka sulit untuk Bundesliga untuk menggunakannya.
Sementara itu pada kompetisi lainnya yakni Liga Premier Inggris teknologi tersebut telah diperkenalkan pada musim ini dan rencananya bakal digunakan pada perhelatan Piala Dunia 2014, mendatang. "Masalah ini masih menjadi perundingan untuk sekarang," jelas Presiden Liga Jerman, Reinhard Rauball seperti dilansir BBC, Selasa (25/3).
Isu penggunaan teknologi garis gawang kembali mencuat pada Oktober lalu di Bundesliga ketika Stefan Kiessling mencetak gol untuk membantu Bayer Leverkusen menang 2-1 atas Hoffenheim, meski beberapa pihak menilai bola belum melewati garis gawang. Sementara itu teknologi garis gawang dinilai masih terlalu mahal.
Guna memakai teknologi itu selama lima tahun dikatakannya dibutuhkan dana sebesar 54 juta euro. Harga tersebut terlalu mahal untuk sebuah mengatasi sebuah kesalahan yang mungkin terjadi sekali setiap 40 tahun. Hingga kini perdebatan mengenai teknologi ini terus berlanjut meski Brasil bakal menjadi ajang perkenalan, musim panas nanti.
Sementara itu pada kompetisi lainnya yakni Liga Premier Inggris teknologi tersebut telah diperkenalkan pada musim ini dan rencananya bakal digunakan pada perhelatan Piala Dunia 2014, mendatang. "Masalah ini masih menjadi perundingan untuk sekarang," jelas Presiden Liga Jerman, Reinhard Rauball seperti dilansir BBC, Selasa (25/3).
Isu penggunaan teknologi garis gawang kembali mencuat pada Oktober lalu di Bundesliga ketika Stefan Kiessling mencetak gol untuk membantu Bayer Leverkusen menang 2-1 atas Hoffenheim, meski beberapa pihak menilai bola belum melewati garis gawang. Sementara itu teknologi garis gawang dinilai masih terlalu mahal.
Guna memakai teknologi itu selama lima tahun dikatakannya dibutuhkan dana sebesar 54 juta euro. Harga tersebut terlalu mahal untuk sebuah mengatasi sebuah kesalahan yang mungkin terjadi sekali setiap 40 tahun. Hingga kini perdebatan mengenai teknologi ini terus berlanjut meski Brasil bakal menjadi ajang perkenalan, musim panas nanti.
(akr)