Tinju Tidak Lagi Sama Sejak Mayweather Jr vs Conor McGregor
Rabu, 05 Maret 2025 - 01:31 WIB
Duel ini seharusnya berlangsung pada Juni 2024, tetapi harus ditunda setelah Tyson mengalami kolaps di pesawat dan batuk darah. Mantan juara dunia itu bahkan mengungkapkan bahwa dirinya hampir meninggal, kehilangan setengah dari darahnya, dan harus menjalani delapan transfusi darah. Namun, Tyson tetap bersikeras naik ring di usia hampir 60 tahun.
Setelah pertarungan, Tyson mengaku tetap bangga. "Saya hampir mati pada Juni lalu, tetapi saya bangkit dan bertarung. Bisa menyelesaikan 8 ronde melawan petarung berbakat yang setengah usia saya, di hadapan stadion yang penuh, adalah pengalaman luar biasa," tulisnya di media sosial.
Duel ini kembali menimbulkan pertanyaan: Apakah dunia tinju lebih mengutamakan tontonan daripada keselamatan petinju?
Dari segi bisnis, tren ini memberikan keuntungan besar bagi promotor dan petinju itu sendiri. Bayaran yang diterima jauh lebih tinggi dibanding pertarungan biasa, terutama dengan adanya penjualan PPV, sponsor, dan platform streaming seperti Netflix yang mulai masuk ke industri ini.
Pertanyaannya: apakah olahraga ini akan terus mempertahankan esensinya sebagai ajang kompetitif antar petinju profesional? Ataukah tren "crossover fights" akan semakin mendominasi, menjadikan tinju sebagai ajang hiburan berbasis figur ternama?
Beberapa organisasi tinju mulai mengambil langkah untuk menjaga kredibilitas olahraga ini. WBC (World Boxing Council) telah menyatakan tidak akan mengakui pertarungan influencer sebagai bagian dari peringkat resmi mereka. Namun, dengan meningkatnya keuntungan dari pertarungan semacam ini, sulit untuk menahan gelombang hiburan berbasis tinju yang terus berkembang.
Apapun yang terjadi, satu hal sudah pasti: tinju tidak lagi sama sejak Mayweather vs McGregor. Apa yang dulu dianggap sebagai olahraga dengan aturan ketat dan tradisi panjang kini telah berubah menjadi panggung hiburan global, di mana popularitas bisa lebih menentukan daripada keterampilan di dalam ring.
Setelah pertarungan, Tyson mengaku tetap bangga. "Saya hampir mati pada Juni lalu, tetapi saya bangkit dan bertarung. Bisa menyelesaikan 8 ronde melawan petarung berbakat yang setengah usia saya, di hadapan stadion yang penuh, adalah pengalaman luar biasa," tulisnya di media sosial.
Duel ini kembali menimbulkan pertanyaan: Apakah dunia tinju lebih mengutamakan tontonan daripada keselamatan petinju?
Dari segi bisnis, tren ini memberikan keuntungan besar bagi promotor dan petinju itu sendiri. Bayaran yang diterima jauh lebih tinggi dibanding pertarungan biasa, terutama dengan adanya penjualan PPV, sponsor, dan platform streaming seperti Netflix yang mulai masuk ke industri ini.
Pertanyaannya: apakah olahraga ini akan terus mempertahankan esensinya sebagai ajang kompetitif antar petinju profesional? Ataukah tren "crossover fights" akan semakin mendominasi, menjadikan tinju sebagai ajang hiburan berbasis figur ternama?
Beberapa organisasi tinju mulai mengambil langkah untuk menjaga kredibilitas olahraga ini. WBC (World Boxing Council) telah menyatakan tidak akan mengakui pertarungan influencer sebagai bagian dari peringkat resmi mereka. Namun, dengan meningkatnya keuntungan dari pertarungan semacam ini, sulit untuk menahan gelombang hiburan berbasis tinju yang terus berkembang.
Apapun yang terjadi, satu hal sudah pasti: tinju tidak lagi sama sejak Mayweather vs McGregor. Apa yang dulu dianggap sebagai olahraga dengan aturan ketat dan tradisi panjang kini telah berubah menjadi panggung hiburan global, di mana popularitas bisa lebih menentukan daripada keterampilan di dalam ring.
(sto)
Lihat Juga :