Kisah Atlet Gagal Ginjal dan Harapan Baru Lewat Terapi CAPD
Sabtu, 14 Maret 2026 - 18:56 WIB
Saat itu, ia mengaku tidak pernah mendapatkan informasi memadai mengenai pilihan terapi lain bagi pasien gagal ginjal. Baginya, hemodialisis adalah satu-satunya metode pengobatan yang ia ketahui.
Baru setelah berdiskusi dengan sesama pasien di komunitas cuci darah, Rudi mengetahui adanya metode terapi lain bernama Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).
Terapi ini memungkinkan pasien melakukan proses dialisis secara mandiri di rumah dengan kontrol rutin ke rumah sakit setiap bulan. “Kenapa tidak dari dulu saya tahu?” kata Rudi.
CAPD bekerja dengan memasukkan cairan pembersih darah melalui kateter di perut. Cairan tersebut dibiarkan beberapa jam sebelum diganti, dan proses ini biasanya dilakukan tiga hingga empat kali sehari.
Keunggulan terapi ini adalah fleksibilitas bagi pasien untuk tetap menjalani aktivitas harian, termasuk bekerja, tanpa harus sering datang ke rumah sakit.
Edukasi Pilihan Terapi Masih Minim
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengatakan banyak pasien gagal ginjal baru mengetahui alternatif terapi setelah bertahun-tahun menjalani hemodialisis.
“Di Indonesia hampir 98 persen pasien gagal ginjal langsung masuk ke hemodialisis, sementara pilihan terapi lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien,” kata Tony.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya soal metode pengobatan, tetapi juga hak pasien untuk memperoleh informasi lengkap mengenai pilihan terapi yang tersedia.
Penyakit ginjal kronik sendiri kerap dijuluki sebagai silent killer karena gejalanya sering tidak terasa pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut, yakni stadium empat atau lima.
Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien tidak menyadari kondisi ginjalnya hingga penyakit tersebut sudah parah.
Jumlah Pasien Terus Meningkat
Mengenal Terapi CAPD
Baru setelah berdiskusi dengan sesama pasien di komunitas cuci darah, Rudi mengetahui adanya metode terapi lain bernama Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).
Terapi ini memungkinkan pasien melakukan proses dialisis secara mandiri di rumah dengan kontrol rutin ke rumah sakit setiap bulan. “Kenapa tidak dari dulu saya tahu?” kata Rudi.
CAPD bekerja dengan memasukkan cairan pembersih darah melalui kateter di perut. Cairan tersebut dibiarkan beberapa jam sebelum diganti, dan proses ini biasanya dilakukan tiga hingga empat kali sehari.
Keunggulan terapi ini adalah fleksibilitas bagi pasien untuk tetap menjalani aktivitas harian, termasuk bekerja, tanpa harus sering datang ke rumah sakit.
Edukasi Pilihan Terapi Masih Minim
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengatakan banyak pasien gagal ginjal baru mengetahui alternatif terapi setelah bertahun-tahun menjalani hemodialisis.
“Di Indonesia hampir 98 persen pasien gagal ginjal langsung masuk ke hemodialisis, sementara pilihan terapi lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien,” kata Tony.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya soal metode pengobatan, tetapi juga hak pasien untuk memperoleh informasi lengkap mengenai pilihan terapi yang tersedia.
Penyakit ginjal kronik sendiri kerap dijuluki sebagai silent killer karena gejalanya sering tidak terasa pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut, yakni stadium empat atau lima.
Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien tidak menyadari kondisi ginjalnya hingga penyakit tersebut sudah parah.
Jumlah Pasien Terus Meningkat
Lihat Juga :