76 Indonesian Downhill 2026 Hadir Lebih Ekstrem, Persaingan Rider Dipastikan Makin Panas
Kamis, 14 Mei 2026 - 05:52 WIB
“Secara teknis, 76 Indonesian Downhill Series tahun ini karakter lintasannya makin extreme dan makin menantang. Lintasan lebih panjang, minimal 1.600 meter, berbanding tahun lalu yang hanya minimal 1.250 meter. Kecuramannya juga bertambah sehingga lebih high speed dan less pedaling track. Jadi kecepatannya secara average akan lebih tinggi dibanding tahun lalu. Pasti makin seru!” kata Aditya.
Seri perdana di Bukit Hijau Bike Park juga dipilih bukan tanpa alasan. Trek di kawasan Bantul tersebut dinilai memiliki karakter unik dengan lintasan curam, obstacle alami, serta permukaan tanah kering berkerikil yang licin. Kondisi itu disebut akan menghadirkan sensasi balap berbeda dibanding seri-seri sebelumnya.
“Bukit Hijau Bike Park sebagai tempat perhelatan seri pertama 76 Indonesian Downhill 2026 di antaranya karena memiliki karakter lintasan lebih curam, obstacle lebih natural, dan tanah kering berkerikil yang licin. Di sini terdapat batuan karang purba yang membentang sepanjang garis pantai selatan Yogyakarta yang menawarkan sensasi balap berbeda. Bukit Hijau memiliki panjang lintasan sekitar 1.650 meter dari start ke finish,” jelasnya.
Tak hanya pembaruan trek, kualitas tayangan livestream juga akan ditingkatkan. Penonton nantinya bisa menikmati data rider dan informasi perlombaan secara real-time dengan tampilan visual yang lebih lengkap.
Sebanyak 10 kelas kembali dipertandingkan musim ini. Tiga kelas utama—Men Elite, Women Elite, dan Men Junior—tetap menjadi sorotan dengan status internasional UCI C1. Sementara kelas youth hingga master disiapkan untuk menjaga regenerasi atlet sekaligus mewadahi antusiasme komunitas downhill.
Perubahan konsep lintasan mendapat respons positif dari para rider. Downhiller andalan Team 76 Rider DH Squad, Mohammad Abdul Hakim, mengaku antusias menyambut seri perdana di Bukit Hijau Bike Park.
“Saya tentu sudah tidak sabar untuk tampil di seri pertama 76 Indonesian Downhill. Perubahan konsep trek yang lebih curam, ekstrem, dan minim pedaling menurut saya sangat bagus. Dengan begitu, rider Indonesia tidak terlalu jauh tertinggal dibanding rider Asia maupun dunia. Kendala terbesar rider Indonesia saat balap di Eropa umumnya kurang terbiasa dengan trek yang sangat curam dan ekstrem. Saya juga sudah melakukan semua persiapan yang dibutuhkan baik fisik maupun teknis sejak lama dan Insya Allah sudah sangat siap menghadapi seri perdana,” kata rider yang akrab disapa Jambol itu.
Seri perdana di Bukit Hijau Bike Park juga dipilih bukan tanpa alasan. Trek di kawasan Bantul tersebut dinilai memiliki karakter unik dengan lintasan curam, obstacle alami, serta permukaan tanah kering berkerikil yang licin. Kondisi itu disebut akan menghadirkan sensasi balap berbeda dibanding seri-seri sebelumnya.
“Bukit Hijau Bike Park sebagai tempat perhelatan seri pertama 76 Indonesian Downhill 2026 di antaranya karena memiliki karakter lintasan lebih curam, obstacle lebih natural, dan tanah kering berkerikil yang licin. Di sini terdapat batuan karang purba yang membentang sepanjang garis pantai selatan Yogyakarta yang menawarkan sensasi balap berbeda. Bukit Hijau memiliki panjang lintasan sekitar 1.650 meter dari start ke finish,” jelasnya.
Tak hanya pembaruan trek, kualitas tayangan livestream juga akan ditingkatkan. Penonton nantinya bisa menikmati data rider dan informasi perlombaan secara real-time dengan tampilan visual yang lebih lengkap.
Sebanyak 10 kelas kembali dipertandingkan musim ini. Tiga kelas utama—Men Elite, Women Elite, dan Men Junior—tetap menjadi sorotan dengan status internasional UCI C1. Sementara kelas youth hingga master disiapkan untuk menjaga regenerasi atlet sekaligus mewadahi antusiasme komunitas downhill.
Perubahan konsep lintasan mendapat respons positif dari para rider. Downhiller andalan Team 76 Rider DH Squad, Mohammad Abdul Hakim, mengaku antusias menyambut seri perdana di Bukit Hijau Bike Park.
“Saya tentu sudah tidak sabar untuk tampil di seri pertama 76 Indonesian Downhill. Perubahan konsep trek yang lebih curam, ekstrem, dan minim pedaling menurut saya sangat bagus. Dengan begitu, rider Indonesia tidak terlalu jauh tertinggal dibanding rider Asia maupun dunia. Kendala terbesar rider Indonesia saat balap di Eropa umumnya kurang terbiasa dengan trek yang sangat curam dan ekstrem. Saya juga sudah melakukan semua persiapan yang dibutuhkan baik fisik maupun teknis sejak lama dan Insya Allah sudah sangat siap menghadapi seri perdana,” kata rider yang akrab disapa Jambol itu.
Lihat Juga :