Pidato Emosional Coco Gauff, Petenis Masa Depan Amerika Serikat
Jum'at, 05 Juni 2020 - 08:01 WIB
Dalam pidatonya, ia juga meminta orang-orang dewasa untuk berhenti bertengkar, dan mulai berjalan beriringan menyambut dunia yang damai. Coco mengaku sangat prihatin karena masalah rasisme di AS seakan tidak ada habisnya.
"Saya menuntut perubahan sekarang. Menyedihkan bahwa dibutuhkan nyawa lelaki kulit hitam lain agar hal ini terjadi, tetapi kita harus memahami bahwa ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.” lanjut Coco.
Video rekaman orasi Coco Gauff yang menyentuh kemudian viral di media sosial. Petenis senior asal Denmark, Kim Clijsters, bahkan sampai mengomentari aksi tersebut. Wanita 36 tahun itu membayangkan betapa kerasnya kehidupan remaja kulit hitam di AS. (Baca juga: Kematian George Floyd Picu Kemarahan Atlet Dunia )
“Terima kasih telah menjadi gadis besar, ceritamu akan dipelajari oleh putri saya kelak,” kata Kim Clijsters.
Gelombang kemarahan dan aksi protes masih terus terjadi di AS menyusul kematian pria kulit hitam tak bersenjata, George Floyd, yang kehabisan napas usai lehernya ditekan menggunakan lutut oleh seorang polisi kulit putih. Kematian Floyd seperti membuka mata dunia bahwa krisis HAM masih menimpa warga kulit hitam di Amerika.
"Saya menuntut perubahan sekarang. Menyedihkan bahwa dibutuhkan nyawa lelaki kulit hitam lain agar hal ini terjadi, tetapi kita harus memahami bahwa ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.” lanjut Coco.
Video rekaman orasi Coco Gauff yang menyentuh kemudian viral di media sosial. Petenis senior asal Denmark, Kim Clijsters, bahkan sampai mengomentari aksi tersebut. Wanita 36 tahun itu membayangkan betapa kerasnya kehidupan remaja kulit hitam di AS. (Baca juga: Kematian George Floyd Picu Kemarahan Atlet Dunia )
“Terima kasih telah menjadi gadis besar, ceritamu akan dipelajari oleh putri saya kelak,” kata Kim Clijsters.
Gelombang kemarahan dan aksi protes masih terus terjadi di AS menyusul kematian pria kulit hitam tak bersenjata, George Floyd, yang kehabisan napas usai lehernya ditekan menggunakan lutut oleh seorang polisi kulit putih. Kematian Floyd seperti membuka mata dunia bahwa krisis HAM masih menimpa warga kulit hitam di Amerika.
(sha)
Lihat Juga :