Thrilla in Manila: Duel Tinju Paling Brutal yang Nyaris Merenggut Nyawa Muhammad Ali
Senin, 03 Maret 2025 - 01:30 WIB
loading...
A
A
A
Namun, di dalam ring, segalanya berubah. Bel pertandingan berbunyi, dan duel segera berubah menjadi pertempuran tanpa ampun. Ali mencoba mengontrol jarak dengan jab panjangnya, sementara Frazier terus merangsek maju, menghantam tubuh Ali dengan pukulan yang mengguncang.
Biasanya dikenal dengan gaya bertinjunya yang lincah, kali ini Ali justru lebih banyak bertahan dan memilih bertukar pukulan langsung dengan Frazier. Ritme pertandingan begitu cepat dan intens. Setiap pukulan yang mendarat tidak hanya mengguncang tubuh, tetapi juga menguras tenaga mereka sedikit demi sedikit.
Di tengah panas ekstrem dan kelelahan yang semakin parah, keduanya tetap bertahan. Tak ada yang mau menyerah. Ali sesekali bersandar ke tali, mencoba meredam serangan Frazier, tetapi sang lawan tak memberi ruang untuk bernapas. Ronde demi ronde berlalu, dan keduanya mulai menunjukkan tanda-tanda keletihan yang luar biasa.
Pada ronde ke-14, wajah Frazier sudah tak bisa dikenali. Matanya membengkak hingga nyaris tertutup sepenuhnya. Kondisinya yang semakin buruk membuat pelatihnya, Eddie Futch, mengambil keputusan sulit: menghentikan pertandingan. Frazier bersikeras ingin melanjutkan, tetapi Futch menegaskan, "Tak ada yang akan melupakan malam ini. Tapi aku juga tak akan membiarkanmu mati di ring."
Di sudut lainnya, Ali juga tak jauh lebih baik. Begitu kemenangan diumumkan, ia langsung roboh di lantai ring karena kelelahan. Dalam wawancara setelah laga, Ali mengakui, "Rasanya seperti mati. Ini pengalaman paling dekat dengan kematian yang pernah saya rasakan."
![Thrilla in Manila: Duel Tinju Paling Brutal yang Nyaris Merenggut Nyawa Muhammad Ali]()
Ali memang mempertahankan gelar juara dunia kelas berat, tetapi harga yang harus dibayarnya sangat mahal. Pertarungan ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah bertarung enam tahun lagi hingga 1981, Ali akhirnya pensiun. Namun, dampak dari duel brutal ini tak bisa dihindari—hanya tiga tahun setelah gantung sarung tinju, ia didiagnosis menderita Parkinson, penyakit yang banyak diyakini dipicu oleh pukulan bertubi-tubi yang diterimanya selama bertahun-tahun.
Biasanya dikenal dengan gaya bertinjunya yang lincah, kali ini Ali justru lebih banyak bertahan dan memilih bertukar pukulan langsung dengan Frazier. Ritme pertandingan begitu cepat dan intens. Setiap pukulan yang mendarat tidak hanya mengguncang tubuh, tetapi juga menguras tenaga mereka sedikit demi sedikit.
Di tengah panas ekstrem dan kelelahan yang semakin parah, keduanya tetap bertahan. Tak ada yang mau menyerah. Ali sesekali bersandar ke tali, mencoba meredam serangan Frazier, tetapi sang lawan tak memberi ruang untuk bernapas. Ronde demi ronde berlalu, dan keduanya mulai menunjukkan tanda-tanda keletihan yang luar biasa.
Pada ronde ke-14, wajah Frazier sudah tak bisa dikenali. Matanya membengkak hingga nyaris tertutup sepenuhnya. Kondisinya yang semakin buruk membuat pelatihnya, Eddie Futch, mengambil keputusan sulit: menghentikan pertandingan. Frazier bersikeras ingin melanjutkan, tetapi Futch menegaskan, "Tak ada yang akan melupakan malam ini. Tapi aku juga tak akan membiarkanmu mati di ring."
Di sudut lainnya, Ali juga tak jauh lebih baik. Begitu kemenangan diumumkan, ia langsung roboh di lantai ring karena kelelahan. Dalam wawancara setelah laga, Ali mengakui, "Rasanya seperti mati. Ini pengalaman paling dekat dengan kematian yang pernah saya rasakan."
Kemenangan yang Dibayar Mahal

Ali memang mempertahankan gelar juara dunia kelas berat, tetapi harga yang harus dibayarnya sangat mahal. Pertarungan ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah bertarung enam tahun lagi hingga 1981, Ali akhirnya pensiun. Namun, dampak dari duel brutal ini tak bisa dihindari—hanya tiga tahun setelah gantung sarung tinju, ia didiagnosis menderita Parkinson, penyakit yang banyak diyakini dipicu oleh pukulan bertubi-tubi yang diterimanya selama bertahun-tahun.
Lihat Juga :