Tinju Tidak Lagi Sama Sejak Mayweather Jr vs Conor McGregor
Rabu, 05 Maret 2025 - 01:31 WIB
loading...
Tinju Tidak Lagi Sama Sejak Mayweather Jr vs Conor McGregor. Foto: The New York Times
A
A
A
Duel Floyd Mayweather Jr. vs Conor McGregor pada 26 Agustus 2017 di T-Mobile Arena, Las Vegas, menjadi titik balik dalam sejarah tinju. Laga antara petinju tak terkalahkan dan ikon MMA ini bukan sekadar pertarungan antar atlet, tetapi juga awal dari era crossover fights, di mana petinju bersedia naik ring menghadapi lawan dari disiplin lain, termasuk pegulat MMA hingga selebritas internet (influencer).
Sejak saat itu, tinju profesional tak lagi sama. Tradisi panjang pertarungan berdasar keterampilan dan kompetisi antar petinju elit mulai bergeser ke arah hiburan berbasis daya tarik figur populer. Situasi ini mengundang pro dan kontra: apakah tinju masih mempertahankan esensinya sebagai olahraga kompetitif, ataukah telah berubah menjadi ajang tontonan belaka?
Ketika Floyd Mayweather Jr. , petinju dengan rekor sempurna 49-0, menerima tantangan dari Conor McGregor, banyak yang menganggap laga ini hanya akal-akalan bisnis. Namun, duel ini justru mencetak sejarah sebagai salah satu pertarungan dengan penjualan pay-per-view (PPV) tertinggi, menghasilkan pendapatan sekitar USD600 juta atau sekitar Rp9 triliun.
McGregor, yang tak memiliki pengalaman bertinju profesional, mampu bertahan hingga 10 ronde sebelum akhirnya kalah TKO. Meski hasilnya sudah diduga, laga ini membuka mata banyak pihak bahwa popularitas bisa mengalahkan keterampilan teknik yang diasah tidak sebentar. Duel berbasis figur ternama terbukti lebih menarik bagi penonton ketimbang pertarungan antara petinju profesional yang mungkin kurang memiliki daya tarik di luar ring.
Sejak saat itu, tren pertarungan antara petinju profesional vs sosok non-petinju semakin marak. Jika dulu seorang petinju hanya bertarung dengan sesama petinju untuk menjaga kredibilitas dan mempertahankan status, kini banyak petinju tak ragu menerima tawaran bertarung melawan pegulat MMA, selebritas, bahkan influencer media sosial.
Setelah Mayweather vs McGregor, beberapa duel serupa mulai bermunculan, di antaranya:
![Tinju Tidak Lagi Sama Sejak Mayweather Jr vs Conor McGregor]()
Mantan juara dunia kelas berat, Tyson Fury, menghadapi Francis Ngannou, mantan juara UFC yang belum pernah bertinju profesional sebelumnya. Meski Fury menang angka, Ngannou sempat menjatuhkannya di ronde ketiga, mengejutkan dunia tinju.
Jake Paul, seorang YouTuber yang beralih ke dunia tinju, sukses menantang beberapa mantan petinju dan pegulat MMA, seperti Tyron Woodley, Anderson Silva, hingga Nate Diaz. Meskipun banyak yang meremehkannya, ia tetap mampu menarik perhatian publik.
![Tinju Tidak Lagi Sama Sejak Mayweather Jr vs Conor McGregor]()
Di usia 58 tahun, Mike Tyson kembali naik ring melawan Jake Paul dalam pertarungan yang menjadi event olahraga paling banyak ditonton di Netflix. Banyak pihak mengkritik duel ini karena dianggap lebih sebagai tontonan hiburan daripada olahraga sesungguhnya.
Sejak saat itu, tinju profesional tak lagi sama. Tradisi panjang pertarungan berdasar keterampilan dan kompetisi antar petinju elit mulai bergeser ke arah hiburan berbasis daya tarik figur populer. Situasi ini mengundang pro dan kontra: apakah tinju masih mempertahankan esensinya sebagai olahraga kompetitif, ataukah telah berubah menjadi ajang tontonan belaka?
Ketika Floyd Mayweather Jr. , petinju dengan rekor sempurna 49-0, menerima tantangan dari Conor McGregor, banyak yang menganggap laga ini hanya akal-akalan bisnis. Namun, duel ini justru mencetak sejarah sebagai salah satu pertarungan dengan penjualan pay-per-view (PPV) tertinggi, menghasilkan pendapatan sekitar USD600 juta atau sekitar Rp9 triliun.
McGregor, yang tak memiliki pengalaman bertinju profesional, mampu bertahan hingga 10 ronde sebelum akhirnya kalah TKO. Meski hasilnya sudah diduga, laga ini membuka mata banyak pihak bahwa popularitas bisa mengalahkan keterampilan teknik yang diasah tidak sebentar. Duel berbasis figur ternama terbukti lebih menarik bagi penonton ketimbang pertarungan antara petinju profesional yang mungkin kurang memiliki daya tarik di luar ring.
Sejak saat itu, tren pertarungan antara petinju profesional vs sosok non-petinju semakin marak. Jika dulu seorang petinju hanya bertarung dengan sesama petinju untuk menjaga kredibilitas dan mempertahankan status, kini banyak petinju tak ragu menerima tawaran bertarung melawan pegulat MMA, selebritas, bahkan influencer media sosial.
Era Baru: Petinju vs Pegulat, YouTuber, hingga Selebritas
Setelah Mayweather vs McGregor, beberapa duel serupa mulai bermunculan, di antaranya:
Tyson Fury vs Francis Ngannou (2023)

Mantan juara dunia kelas berat, Tyson Fury, menghadapi Francis Ngannou, mantan juara UFC yang belum pernah bertinju profesional sebelumnya. Meski Fury menang angka, Ngannou sempat menjatuhkannya di ronde ketiga, mengejutkan dunia tinju.
Jake Paul vs Petarung MMA

Mike Tyson vs Jake Paul (2024)

Di usia 58 tahun, Mike Tyson kembali naik ring melawan Jake Paul dalam pertarungan yang menjadi event olahraga paling banyak ditonton di Netflix. Banyak pihak mengkritik duel ini karena dianggap lebih sebagai tontonan hiburan daripada olahraga sesungguhnya.
Lihat Juga :