Kompetisi Sepak Bola Usia Muda Jadi Salah Satu Penggerak Industri Olahraga Nasional
Senin, 04 Agustus 2025 - 06:43 WIB
loading...
A
A
A
“Berbicara soal industri, pasti bicara soal ekonomi. Kalau menggelar tidak menguntungkan, tentu tidak akan dilanjutkan. Tapi ini bisa berlanjut, berarti ada potensi keuntungan ekonomi di situ,” ujarnya.
Operator sepak bola usia dini seperti Liga TopSkor, Indonesia Grassroot Championship, dan lebih dari 15 operator lain yang tergabung dalam APSUMSI (Asosiasi Pembina Sepak Bola Usia Muda Seluruh Indonesia)—antara lain FORSGI, BLiSPI, GEAS Indonesia, Komunitas Jujur, FOSSBI, Fosbolindo, GoBolaBali, ASBI, Liga Sentra, SBAI, Dream Come True (DCT), dan lainnya—secara konsisten menyelenggarakan kompetisi berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional. Rata-rata, satu operator melibatkan lebih dari 2.000 atlet tiap tahunnya, belum termasuk tim pendukung dan orang tua.
Mereka tidak hanya mengandalkan biaya pendaftaran, tetapi juga telah menjalin kerja sama dengan sponsor utama maupun pendamping di masing-masing liga. Artinya, menurut Isnanta, industri sepak bola kelompok umur memang sudah berjalan di Indonesia.
Bayangkan, jika satu klub membayar biaya pendaftaran Rp500 ribu, dan ada ribuan klub yang ikut serta, maka potensi perputaran uang bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Itu belum termasuk biaya akomodasi, konsumsi, hingga transportasi tim.
Event semacam ini secara tidak langsung menggeliatkan ekonomi masyarakat. Berapa banyak kamar hotel yang dipesan? Berapa banyak warung atau penyedia makanan yang kebanjiran pesanan? Berapa ratus kendaraan yang disewa untuk mengangkut pemain dan ofisial?
“Kalau dihitung kasar, satu tim bisa menghabiskan Rp25 juta per kompetisi. Dengan jumlah sekitar 5.000 tim kelompok umur, berarti ada Rp125 miliar yang berputar dari kompetisi usia muda. Saya yakin, jumlah itu bisa lebih besar karena ada ratusan turnamen semacam ini di seluruh Indonesia,” beber Isnanta.
Operator sepak bola usia dini seperti Liga TopSkor, Indonesia Grassroot Championship, dan lebih dari 15 operator lain yang tergabung dalam APSUMSI (Asosiasi Pembina Sepak Bola Usia Muda Seluruh Indonesia)—antara lain FORSGI, BLiSPI, GEAS Indonesia, Komunitas Jujur, FOSSBI, Fosbolindo, GoBolaBali, ASBI, Liga Sentra, SBAI, Dream Come True (DCT), dan lainnya—secara konsisten menyelenggarakan kompetisi berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional. Rata-rata, satu operator melibatkan lebih dari 2.000 atlet tiap tahunnya, belum termasuk tim pendukung dan orang tua.
Mereka tidak hanya mengandalkan biaya pendaftaran, tetapi juga telah menjalin kerja sama dengan sponsor utama maupun pendamping di masing-masing liga. Artinya, menurut Isnanta, industri sepak bola kelompok umur memang sudah berjalan di Indonesia.
Bayangkan, jika satu klub membayar biaya pendaftaran Rp500 ribu, dan ada ribuan klub yang ikut serta, maka potensi perputaran uang bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Itu belum termasuk biaya akomodasi, konsumsi, hingga transportasi tim.
Event semacam ini secara tidak langsung menggeliatkan ekonomi masyarakat. Berapa banyak kamar hotel yang dipesan? Berapa banyak warung atau penyedia makanan yang kebanjiran pesanan? Berapa ratus kendaraan yang disewa untuk mengangkut pemain dan ofisial?
“Kalau dihitung kasar, satu tim bisa menghabiskan Rp25 juta per kompetisi. Dengan jumlah sekitar 5.000 tim kelompok umur, berarti ada Rp125 miliar yang berputar dari kompetisi usia muda. Saya yakin, jumlah itu bisa lebih besar karena ada ratusan turnamen semacam ini di seluruh Indonesia,” beber Isnanta.
Lihat Juga :