Kompetisi Sepak Bola Usia Muda Jadi Salah Satu Penggerak Industri Olahraga Nasional
Senin, 04 Agustus 2025 - 06:43 WIB
loading...
A
A
A
Jalu, dari Liga Anak Indonesia, menyebutkan bahwa dari registrasi regional hingga nasional saja, uang yang berputar bisa mencapai Rp2 miliar, belum termasuk pendapatan dari tenant UMKM, tiket penonton, dan sumber pemasukan lainnya.
“Hitungan itu belum termasuk hotel, transportasi, dan konsumsi peserta. Maka sangat wajar bila dikatakan bahwa potensi industri olahraga di sepak bola usia muda ini sangat besar,” tuturnya.
Piala Soeratin Jawa Timur 2025 juga menjadi contoh lain. Sekretaris Jenderal PSSI Jatim, Djoko Tetuko, mengatakan bahwa selain untuk mencari talenta muda, turnamen ini terbukti menggairahkan ekonomi daerah.
Djoko menjelaskan, biaya operasional PSSI Jatim untuk tiga kelompok usia mencapai Rp3,5 miliar, termasuk pengadaan lapangan, wasit, keamanan, dan akomodasi. Jika ditambah dengan pengeluaran klub dan konsumsi penonton, total perputaran uang bisa mencapai lebih dari Rp10 miliar.
Contoh lainnya adalah Indonesia Grassroot Championship Cup 2025 di Surakarta yang berhasil mendatangkan sekitar 2.500 orang—terdiri dari pemain, pelatih, orang tua, dan ofisial. Diperkirakan, perputaran uang dari ajang ini mencapai Rp15 miliar hanya dalam dua hari pelaksanaan.
Fenomena ini membuktikan bahwa kompetisi usia muda merupakan sektor strategis dalam industri olahraga. Selain meningkatkan partisipasi masyarakat dalam olahraga, turnamen seperti ini juga mampu menggerakkan ekonomi lintas sektor, dari olahraga, pariwisata, hingga UMKM.
“Hitungan itu belum termasuk hotel, transportasi, dan konsumsi peserta. Maka sangat wajar bila dikatakan bahwa potensi industri olahraga di sepak bola usia muda ini sangat besar,” tuturnya.
Piala Soeratin Jawa Timur 2025 juga menjadi contoh lain. Sekretaris Jenderal PSSI Jatim, Djoko Tetuko, mengatakan bahwa selain untuk mencari talenta muda, turnamen ini terbukti menggairahkan ekonomi daerah.
Djoko menjelaskan, biaya operasional PSSI Jatim untuk tiga kelompok usia mencapai Rp3,5 miliar, termasuk pengadaan lapangan, wasit, keamanan, dan akomodasi. Jika ditambah dengan pengeluaran klub dan konsumsi penonton, total perputaran uang bisa mencapai lebih dari Rp10 miliar.
Contoh lainnya adalah Indonesia Grassroot Championship Cup 2025 di Surakarta yang berhasil mendatangkan sekitar 2.500 orang—terdiri dari pemain, pelatih, orang tua, dan ofisial. Diperkirakan, perputaran uang dari ajang ini mencapai Rp15 miliar hanya dalam dua hari pelaksanaan.
Fenomena ini membuktikan bahwa kompetisi usia muda merupakan sektor strategis dalam industri olahraga. Selain meningkatkan partisipasi masyarakat dalam olahraga, turnamen seperti ini juga mampu menggerakkan ekonomi lintas sektor, dari olahraga, pariwisata, hingga UMKM.
(sto)
Lihat Juga :