PSSI Tepis Kabar Indonesia Ikut Ajakan Jepang Keluar dari AFC
Selasa, 28 Oktober 2025 - 07:00 WIB
loading...
PSSI Tepis Kabar Indonesia Ikut Ajakan Jepang Keluar dari AFC
A
A
A
JAKARTA - PSSI menegaskan Indonesia tidak akan keluar dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), di tengah rumor besar soal kemungkinan sejumlah negara Asia Timur—termasuk Jepang—membentuk federasi tandingan bernama East Asian Football Confederation (EAFC).
Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, memastikan kabar bahwa Indonesia akan mengikuti langkah Jepang hanyalah spekulasi. Menurutnya, Indonesia tetap berkomitmen menjadi bagian dari AFC dan fokus memperkuat diplomasi sepak bola di tingkat Asia.
“Saya kira Indonesia harus tetap berada di AFC,” tegas Amali di Jakarta, Senin (27/10/2025). “Tidak mudah membentuk konfederasi baru karena prosesnya panjang, termasuk untuk mendapatkan restu dari FIFA. Jadi, Indonesia tidak perlu keluar dari AFC.”
Baca Juga: PSSI Tanggapi Kabar Jepang Keluar dari AFC: Media Jangan Terpancing Rumor
Sebelumnya, dunia sepak bola Asia dihebohkan oleh laporan sejumlah media seperti IFTWC (India) dan Mehr News Agency (Iran), yang menyebut Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) tengah mempertimbangkan keluar dari AFC. Langkah itu disebut sebagai bentuk protes terhadap dominasi politik dan finansial negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab di tubuh AFC.
JFA dikabarkan sedang menjajaki pembentukan federasi baru bersama negara-negara Asia Timur dan Tenggara—termasuk potensi mengajak Indonesia, Korea Selatan, China, Thailand, dan Vietnam. Federasi tersebut disebut-sebut akan bernama East Asian Football Confederation (EAFC).
Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Jepang. Jika benar terjadi, langkah itu bukan hanya menantang AFC, tetapi juga berpotensi mengguncang tatanan sepak bola global karena pengaruh besar negara-negara Teluk di FIFA.
Menanggapi isu tersebut, Zainudin menilai lebih penting bagi Indonesia untuk memperkuat komunikasi dan posisi strategisnya di AFC, bukan keluar dari konfederasi yang sudah diakui FIFA.
“Sekarang yang direstui FIFA itu ya AFC. Menurut saya, Indonesia tidak perlu keluar. Yang harus kita lakukan adalah memperbaiki komunikasi dengan AFC dan membangun hubungan baik dengan negara-negara Arab,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran Indonesia di jajaran komite AFC agar bisa ikut memengaruhi kebijakan regional.
“Negara-negara lain punya banyak perwakilan di AFC, sementara kita masih minim. Itu yang perlu diperkuat, supaya suara Indonesia lebih terdengar,” tambahnya.
PSSI berharap isu pembentukan EAFC tidak menimbulkan kegaduhan di dalam negeri. Amali mengimbau agar publik sepak bola Indonesia tidak mudah terpancing rumor yang belum memiliki dasar kuat.
“Kita tetap di AFC, itu rumah kita. Kalau ada yang kurang, kita perbaiki dari dalam,” tutupnya.
Dengan sikap ini, Indonesia menegaskan diri tetap berada di jalur diplomasi dan kerja sama regional—bukan konfrontasi—dalam upaya memperjuangkan tata kelola sepak bola Asia yang lebih adil dan profesional.
Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, memastikan kabar bahwa Indonesia akan mengikuti langkah Jepang hanyalah spekulasi. Menurutnya, Indonesia tetap berkomitmen menjadi bagian dari AFC dan fokus memperkuat diplomasi sepak bola di tingkat Asia.
“Saya kira Indonesia harus tetap berada di AFC,” tegas Amali di Jakarta, Senin (27/10/2025). “Tidak mudah membentuk konfederasi baru karena prosesnya panjang, termasuk untuk mendapatkan restu dari FIFA. Jadi, Indonesia tidak perlu keluar dari AFC.”
Baca Juga: PSSI Tanggapi Kabar Jepang Keluar dari AFC: Media Jangan Terpancing Rumor
Sebelumnya, dunia sepak bola Asia dihebohkan oleh laporan sejumlah media seperti IFTWC (India) dan Mehr News Agency (Iran), yang menyebut Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) tengah mempertimbangkan keluar dari AFC. Langkah itu disebut sebagai bentuk protes terhadap dominasi politik dan finansial negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab di tubuh AFC.
JFA dikabarkan sedang menjajaki pembentukan federasi baru bersama negara-negara Asia Timur dan Tenggara—termasuk potensi mengajak Indonesia, Korea Selatan, China, Thailand, dan Vietnam. Federasi tersebut disebut-sebut akan bernama East Asian Football Confederation (EAFC).
Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Jepang. Jika benar terjadi, langkah itu bukan hanya menantang AFC, tetapi juga berpotensi mengguncang tatanan sepak bola global karena pengaruh besar negara-negara Teluk di FIFA.
Menanggapi isu tersebut, Zainudin menilai lebih penting bagi Indonesia untuk memperkuat komunikasi dan posisi strategisnya di AFC, bukan keluar dari konfederasi yang sudah diakui FIFA.
“Sekarang yang direstui FIFA itu ya AFC. Menurut saya, Indonesia tidak perlu keluar. Yang harus kita lakukan adalah memperbaiki komunikasi dengan AFC dan membangun hubungan baik dengan negara-negara Arab,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran Indonesia di jajaran komite AFC agar bisa ikut memengaruhi kebijakan regional.
“Negara-negara lain punya banyak perwakilan di AFC, sementara kita masih minim. Itu yang perlu diperkuat, supaya suara Indonesia lebih terdengar,” tambahnya.
PSSI berharap isu pembentukan EAFC tidak menimbulkan kegaduhan di dalam negeri. Amali mengimbau agar publik sepak bola Indonesia tidak mudah terpancing rumor yang belum memiliki dasar kuat.
“Kita tetap di AFC, itu rumah kita. Kalau ada yang kurang, kita perbaiki dari dalam,” tutupnya.
Dengan sikap ini, Indonesia menegaskan diri tetap berada di jalur diplomasi dan kerja sama regional—bukan konfrontasi—dalam upaya memperjuangkan tata kelola sepak bola Asia yang lebih adil dan profesional.
(sto)
Lihat Juga :