Jalan Terjal Iran di Piala Dunia 2026: Visa Ditolak dan dalam Kepungan Senjata
Sabtu, 13 Juni 2026 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
Situasi politik juga membuat para pemain memilih bungkam. Mereka berada dalam posisi yang serba sulit. Di satu sisi, pernyataan apa pun dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Iran dan para pendukungnya. Di sisi lain, kelompok diaspora dan penentang rezim berpotensi mengkritik tim karena dianggap mewakili pemerintahan yang mereka tentang.
Ini bukan kali pertama Tim Melli menghadapi situasi yang sarat muatan politik di Piala Dunia. Pada edisi 2022 di Qatar, Iran datang di tengah gelombang protes nasional menyusul kematian Mahsa Amini, perempuan Iran yang meninggal dalam tahanan setelah ditangkap karena dianggap mengenakan hijab secara tidak pantas.
Empat tahun berselang, tekanan terhadap Tim Melli belum juga mereda. Dengan persoalan keamanan, sengketa visa, dan perpecahan politik yang terus mengiringi perjalanan mereka, tim nasional Iran kembali memasuki Piala Dunia dengan membawa beban yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan sepak bola.
Merespons situasi tersebut, Kedutaan Besar Iran menuduh Amerika Serikat melakukan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim nasional mereka. Laporan The New York Times menyebutkan bahwa salah satu nama yang ditolak visanya adalah Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj. Taj diketahui pernah menjadi pejabat di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang oleh Amerika Serikat telah ditetapkan sebagai organisasi teroris.
Beberapa pemain dalam skuad Iran, termasuk sang kapten Mehdi Taremi, juga dilaporkan pernah memiliki keterkaitan dengan IRGC. Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa seluruh visa yang diperlukan agar Iran dapat berkompetisi di Piala Dunia telah diterbitkan.
"Visa yang diperlukan Iran untuk berkompetisi di Piala Dunia, termasuk bagi atlet dan staf pendukung yang dibutuhkan, telah dikeluarkan," kata seorang pejabat pemerintahan AS kepada USA TODAY Sports.
Ini bukan kali pertama Tim Melli menghadapi situasi yang sarat muatan politik di Piala Dunia. Pada edisi 2022 di Qatar, Iran datang di tengah gelombang protes nasional menyusul kematian Mahsa Amini, perempuan Iran yang meninggal dalam tahanan setelah ditangkap karena dianggap mengenakan hijab secara tidak pantas.
Empat tahun berselang, tekanan terhadap Tim Melli belum juga mereda. Dengan persoalan keamanan, sengketa visa, dan perpecahan politik yang terus mengiringi perjalanan mereka, tim nasional Iran kembali memasuki Piala Dunia dengan membawa beban yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan sepak bola.
Diizinkan Masuk Amerika Serikat
Mengutip laporan USA Today, skuad Iran memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat, tempat mereka dijadwalkan menjalani seluruh pertandingan fase grup. Namun, menurut Kedutaan Besar Iran di Turki, visa AS ditolak untuk sebagian besar staf manajerial dan eksekutif, penasihat teknis, serta sejumlah pejabat lain yang dianggap sebagai bagian penting dari tim nasional.Merespons situasi tersebut, Kedutaan Besar Iran menuduh Amerika Serikat melakukan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim nasional mereka. Laporan The New York Times menyebutkan bahwa salah satu nama yang ditolak visanya adalah Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj. Taj diketahui pernah menjadi pejabat di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang oleh Amerika Serikat telah ditetapkan sebagai organisasi teroris.
Beberapa pemain dalam skuad Iran, termasuk sang kapten Mehdi Taremi, juga dilaporkan pernah memiliki keterkaitan dengan IRGC. Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa seluruh visa yang diperlukan agar Iran dapat berkompetisi di Piala Dunia telah diterbitkan.
"Visa yang diperlukan Iran untuk berkompetisi di Piala Dunia, termasuk bagi atlet dan staf pendukung yang dibutuhkan, telah dikeluarkan," kata seorang pejabat pemerintahan AS kepada USA TODAY Sports.
(yov)
Lihat Juga :