Cedera Paksa Marco Van Basten Harus Merangkak ke Kamar Mandi
Jum'at, 06 November 2020 - 01:05 WIB
loading...
A
A
A
Tapi di balik itu, van Basten sering menahan sakit ketika bermain. Hal tersebut mulai dirasakannya pada 1986. (Lihat juga : Seleksi Tim Garuda Select, 39 Pemain Bersaing Tiket ke Inggris )
“Dalam lima tahun di pengujung karier, saya pincang setelah menjalani semua operasi. Saya tidak dapat melakukan apa pun tanpa rasa sakit. Dokter mengatakan mereka tidak bisa membantu. Saya menjadi takut,” ucap Van Basten.
“Cedera pertama saya terjadi pada Desember 1986 dan itu tidak pernah pulih. Saya merasa ada sesuatu yang tidak benar. Namun saya membuat kesepakatan dengan Johan Cruyff (pelatih Ajax). Dia mengatakan saya boleh absen latihan dan tidak bermain di beberapa kompetisi. Tetapi saya harus tersedia untuk kejuaraan Eropa apa pun yang terjadi,” tuturnya.
Berkat kegigihannya, Van Basten akhirnya diakui sebagai salah satu striker terbaik sepanjang massa. Setelah pensiun, dia sempat melatih Timnas Belanda, Ajax, Heerenveen, dan AZ Alkmaar.
“Dalam lima tahun di pengujung karier, saya pincang setelah menjalani semua operasi. Saya tidak dapat melakukan apa pun tanpa rasa sakit. Dokter mengatakan mereka tidak bisa membantu. Saya menjadi takut,” ucap Van Basten.
“Cedera pertama saya terjadi pada Desember 1986 dan itu tidak pernah pulih. Saya merasa ada sesuatu yang tidak benar. Namun saya membuat kesepakatan dengan Johan Cruyff (pelatih Ajax). Dia mengatakan saya boleh absen latihan dan tidak bermain di beberapa kompetisi. Tetapi saya harus tersedia untuk kejuaraan Eropa apa pun yang terjadi,” tuturnya.
Berkat kegigihannya, Van Basten akhirnya diakui sebagai salah satu striker terbaik sepanjang massa. Setelah pensiun, dia sempat melatih Timnas Belanda, Ajax, Heerenveen, dan AZ Alkmaar.
(bbk)
Lihat Juga :